Radikalisme, Antara Terminologi dan Persepsi

0
3 views
Asma Nadia. (Foto: Daan Yahya/Republika).

Sabtu 02 Nov 2019 12:41 WIB
Red: Elba Damhuri

Ilustrasi. Sangat Rakusnya Monyet Justru Malahan Tak Disebut Radikal. (Foto : John Doddy Hidayat).

“Terminologi radikal marak muncul dalam berbagai berita belakangan ini”

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Asma Nadia

Terminologi radikal marak muncul dalam berbagai berita belakangan ini. Lebih buruk lagi, kata tersebut kemudian disandingkan dengan Islam sehingga menjadi frasa radikal Islam.

Mencoba menelusuri kata radikal Islam melalui Google, mengantar saya pada sebuah artikel di Wikipedia dengan tema “Radical Islamism”. Akan tetapi, alih-alih mendapatkan sebuah informasi, ensiklopedia daring ini hanya menulis “Radical Islamism” mengacu pada Islamic extremism, Islamic fundamentalism, Islamism Jihadism, Wahhabism.

Dari referensi tersebut, sudah mulai terlihat kekacauan persepsi akan istilah radikal Islam.

Sama-sama mari kita melihat asal usul katanya.

Pertama, terminologi “Radical Islamism”. Radikal asal katanya adalah akar, dan kata akar tentu saja bernuansa positif. Sedangkan kini terminologi radikal Islam bernuansa negatif sehingga terkesan akar Islam adalah negatif.

Kedua, terminologi “Islamic extremism”. Extreme atau ekstrem, mempunyai arti jumlah yang besar. Dalam kalimat tertentu extreme bernuansa netral karena bergantung pada kata yang mengiringi. Seperti kalimat contoh dalam dictionary.cambridge.org. “Drivers are warned to take extreme care on the icy roads” (Pengemudi diingatkan untuk sangat berhati-hati di jalan licin ber-es).

Akan tetapi, kini extreme mengalami penyempitan makna dan berarti negatif sebagaimana diungkap dictionary.cambridge.org: “extreme beliefs and political parties are considered by most people to be unreasonable and unacceptable” atau pemikiran dan partai politik ekstrem yang bagi kebanyakan orang dianggap tidak masuk akal dan tidak mampu diterima.

Dengan kata lain, pada terminologi “Islamic extremism”, ada nuansa ajaran Islam dianggap tidak masuk akal dan tidak mampu diterima.

Ketiga, “Islamic fundamentalism”. Fundament sendiri oleh dictionary.cambridge.org ditulis sebagai “the most important facts, ideas,etc. from which something is developed”: atau fakta dan ide terpenting dasar terbentuknya sesuatu.

Kini, terminologi “Islamic fundamentalism” bernuansa negatif seolah dasar ajaran Islam yang negatif.

Keempat, “Islamism Jihadism”. Jihad sendiri berasal dari bahasa Arab yang berakar dari kata jahada yang berarti bersungguh-sungguh. Nuansanya positif. Akan tetapi, sekarang dikonotasikan pada makna negatif dan dimaknai sempit seputar perperangan semata.

Kelima, Wahhabism. Wahabi sendiri merupakan salah satu pemikiran Islam yang cukup dominan di Arab Saudi, tapi tidak mewakili segenap umat Islam di seluruh dunia sehingga tidak bisa dikaitkan dengan keislaman Muslim di seluruh dunia.

Dari semua terminologi di atas ada satu kesamaan, di antaranya:

Semua terminologi yang telah diuraikan mempunyai nuansa negatif. Lebih buruk lagi, terminologi tersebut kian bernuansa negatif justru ketika ditempel dengan kata Islam.

Dan anehnya, kata tersebut jarang ditempelkan pada agama tertentu selain Islam, ataupun kelompok lain.

Padahal, sekarang banyak kelompok radikal dari etnis tertentu yang dengan mudah membantai etnis lain, juga ekstremis agama non-Islam yang menghancurkan masjid-masjid seperti yang terjadi di Afrika Tengah, salah satunya.

Pada masa lalu memang sering kata ekstrem ditempel pada partai tertentu (biasanya bukan partai pemerintah) dan dituduhkan pada partai lawan, tapi kini lebih sering ditempelkan pada Islam.

Anehnya, ketika umat Islam berbuat baik, saat umat Islam melakukan hal positif jarang ada frasa baru atau terminologi baru untuk umat Islam, misalnya Islam Damai (Peaceful Islam), Islam Sejuk, Islam Indah (beautiful Islam), dan lain-lain.

Saya bermimpi suatu saat kalimat seperti ini sering terbaca di media massa, misalnya, “Islam Damai membuat kaum minoritas di Indonesia nyaman beribadah menurut agama masing-masing.” Atau “Islam Sejuk telah menjaga persatuan di Indonesia.”

Agar adil, sebaiknya semua pihak menghindari pemakaian label atau terminologi tertentu agar tidak menyesatkan persepsi.

Saya sendiri lebih suka menyebut Kelompok Islam Sesat yang melakukan tindakan kekerasan. Terminologi itu menjelaskan, kesesatanlah yang membuat mereka melakukan kekerasan. Bukan Islamnya melainkan sesatnya.

Alhamdulillah, di tengah simpang siur terminologi tersebut, Kapolri terpilih Idham Azis dengan tegas menyatakan radikalisme tidak indentik dengan Islam. Hal senada diungkap Menko Polhukam Mahfud MD.

Besar harapan, pemahaman lurus kedua pejabat penting tersebut disepahami oleh segenap bawahannya juga seluruh rakyat Indonesia sehingga tidak terjadi salah paham di lapangan.

Tantangannya masih sama dari waktu ke waktu bagi umat Islam, yaitu bagaimana umat Islam bersama-sama mampu menjaga hingga Islam selamanya hanya menjelma wajah yang sejuk, damai, dan bersahabat.

******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here