Putin dan Elektabilitas

Idrus F Shahab,
idrus@tempo.co.id

Garut News ( Senin, 19/05 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).

Di museum Pertempuran Borodino, sedikit di luar Kota Moskow, lamat-lamat terdengar musik pembuka Overture 1812, karya komponis Rusia abad ke-19, Tchaikovsky.

Kita tahu, di atas partitur perlahan Tchaikovsky membangun suasana melalui sepotong melodi: nada-nada awal yang rendah, berat, dimainkan berulang-ulang.

Di Borodino pada 1812, pasukan Rusia berhadap-hadapan dengan pasukan Prancis.

Perang tak dapat dihindari dan dua pasukan segera berbenturan.

Tchaikovsky memperlakukan karyanya layaknya sebuah rekonstruksi sejarah epos besar, sebuah kemenangan pasukan Rusia atas gempuran serdadu Napoleon.

Overture 1812 adalah musik yang bergemuruh.

Diawali dengan intro lambat, lalu perlahan-lahan terseret berkembang jadi perubahan-perubahan dramatis, diakhiri dengan ledakan-ledakan kanon dan lagu kebangsaan Rusia.

Entah apakah karya ini pas menggambarkan kebangkitan Rusia sekarang ini.

Yang terang, itulah sebuah visualisasi musikal yang fantastis!

Kejadian demi kejadian silih-berganti semenjak Revolusi Bolshevik 1917.

Partai Komunis, kediktatoran proletar, Perang Dingin, glasnost (keterbukaan), perestroika (restrukturisasi), cita-cita masyarakat tanpa kelas yang kandas di tengah jalan, Vladimir Putin, dan sekarang: ledakan kelas menengah Rusia yang membuat lalu lintas Moskow tak bisa bernapas.

Di sebuah titik di Moskow yang biasanya menjadi tempat orang makan es krim dan memandang Moskow dari ketinggian, saya menyaksikan mereka.

Mungkin lapisan teratas dari mereka.

Menjalankan Chevrolet delapan pintu berwarna silver lambat-lambat, di bawah sinar terik matahari musim panas seraya memarkir kendaraan terbarunya di daerah yang bisa dilihat semua orang.

Di area parkir yang sama tampak pula sebuah Jaguar yang juga berwarna silver, Mercedes-Benz hitam, dan sebuah BMW abu-abu.

Orang yang sinis biasa melontarkan komentar pendek, mereka pasti baru dari tempat penyewaan mobil.

Bagaimanapun, yang terang sebuah pameran kemewahan berlangsung, dengan pesan jelas: aku salah seorang neuve richez.

Tapi gejala ledakan kelas menengah baru yang paling mencorong ada di jalan-jalan Kota Moskow.

Dan ini bukan jenis kemacetan yang biasa menghinggapi kota besar dunia.

Di jalan-jalan utama yang luar biasa lebar-biasanya enam jalur ke atas-kemacetan tak membedakan rush hour, saat orang pergi atau pulang kerja.

Kantor Wali Kota Moskow pernah mengingatkan ada 180 ribu mobil yang setiap saat berseliweran di kota itu.

Bahkan, pada hari-hari tertentu, angka itu melonjak jadi 250 ribu.

Ya, keberhasilan pun melahirkan masalahnya sendiri-apalagi kegagalan.

Sejak Vladimir Putin memimpin, Rusia, yang mengandalkan minyak sebagai komoditas ekspornya, mulai bangkit.

Bersama itu bangkit pula harga diri dan rasa percaya dirinya sebagai satu bangsa tua.

Mungkin Indonesia membutuhkan pemimpin macam Putin, mungkin juga tidak.

Letih dengan kekalahan tim nasional sepak bola dan bulu tangkis di arena internasional, tak berdaya dengan rupiah yang kerap terhuyung-huyung di depan mata uang asing, capek menyaksikan ketidakmampuan negara melindungi warganya, orang pun akan bergegas ke bilik suara pada 9 Juli nanti untuk memilih pemimpin yang kuat, dengan nasionalisme yang meletup-letup.

Calon pemimpin yang menjanjikan ketegasan-ketimbang keragu-raguan-mungkin tak lebih dari cerita pelipur lara, hiburan sesaat.

Orang menginginkan antitesis dari kepemimpinan selama ini.

Padahal yang dibutuhkan Indonesia sekarang bukan sekadar hiburan.

Mungkin kita telah bermain-main terlalu jauh. *

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment