Puskesmas Cihurip Sejak 2017 Berdayakan Ambulance ‘Top de Amor’

0
6 views
Ilustrasi. Lintasan Ruas Jalan Berkondisi Sulit Dilalui.
Ilustrasi. Perjuangan Menjangkau Tujuan.

“Antisipasi Keterlambatan Penanganan Kegawatdaruratan Calon Pasien”

Garut News ( Jum’at, 06/09 – 2019 ).

‘Unit Pelaksana Teknis’ (UPT) Puskesmas Kecamatan Cihurip Selatan Garut, Jabar, sejak 2017 berinovasi memberdayakan jasa ambulance ‘Tukang Ojeg Puskesmas dengan Ambulans Motor’ (TOP de Amor).

Sebagai upaya mengantisipasi keterlambatan penanganan kegawatdaruratan calon pasien khususnya ibu, dan anak lantaran terkendala sulitnya transportasi akibat kondisi geografis wilayah.

Sehingga pihak Puskesmas merangkul tukang ojek biasa mangkal seputar Puskesmas itu menjadi mitra ambulans motor.

Jasa tukang ojek ini pun, terutama diperlukan mengantar dan menjemput pasien tak memiliki akses memadai ke Posyandu. Maupun pemilik kendaraan tetapi kondisi jalan menuju ke Puskesmas tersebut bertopografi pegunungan yang sulit dilintasi.

“Disesuaikan kondisi jalan, dan jarak tempuh. Mereka siap dipanggil menjemput ibu bersalin dari rumah tempat tinggal ke Puskesmas Cihurip atau antarjemput bidan melaksanakan kunjungan ‘Ante Natal Care’ (ANC) ke rumah ibu hamil yang kurang mengakses ke Posyandu dan Puskesmas,” ungkap Kepala UPT Puskesmas itu, Kusyanadi, Jum’at (06/09-2019).

Dikemukakan, pembayaran jasa tukang ojek ini cukup sederhana. Dibayar penumpang/ibu hamil penerima BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Jampersal melalui Puskesmas Cihurip. Sedangkan, biaya transportasi ibu hamil yang non-BPJS PBI dan non-Jampersal dibayar langsung pihak keluarganya.

Sehingga dengan program TOP de Amor itu, kasus kematian ibu dan bayi di wilayah kerjanya bisa teratasi. Sekaligus tertanganinya pelayanan kesehatan berisiko terhadap kasus kematian ibu, dan bayi serta persalinan oleh tenaga kesehatan, imbuh Kusyanadi.

“Dari sisi ekonomi juga sekaligus bisa mendukung terhadap pemberdayaan tukang ojek,” ujarnya.

Dikatakan, kasus kematian ibu dan bayi saat proses persalinan di Kabupaten Garut hingga kini masih relatif tinggi.

Menurut Perwakilan USAID Jalin Provinsi Jawa Barat Joko Sutikno, sejak 2011 tren kematian ibu di Garut cenderung meningkat. Padahal, rata-rata kematian ibu di Jabar cenderung menurun.

Pada 2018 silam, Garut menempati urutan ketiga terbanyak di Jabar dalam kasus angka kematian ibu melahirkan (AKI) ada 55 kasus, dengan penyebab 29% lantaran pendarahan pascapersalinan.

Sedangkan ‘angka kematian bayi’ (AKB), sejak 2013 juga trennya meningkat. Padahal, rata-rata kematian bayi baru lahir di Jabar cenderung menurun.

Pada 2016-2018, Garut pun tercatat sebagai kabupaten dengan kematian bayi baru lahir tertinggi.

*******

(Abisyamil, JDH/Fotografer : John Doddy Hidayat).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here