Puluhan Mahasiswi Indonesia Ramaikan Pelatihan KOHATI Garut

0
14 views

Garut News ( Sabtu, 12/05 – 2018 ).

Korps HMI-Wati (KOHATI), merupakan Bidang Pemberdayaan Perempuan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bergerak dalam wacana keperempuanan terutama mahasiswi, mengadakan Latihan Khusus Kohati (LKK) Tingkat Nasional.

KOHATI HMI Cabang Garut menggelar pelatihan diikuti oleh 25 peserta berasal dari 13 kota, enam Badan Koordinasi (BADKO)/Provinsi, terdiri Provinsi Bali-Nusra, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jabodetabeka-Banten, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat.

Pelatihan berlangsung sejak 5 Mei – 11 Mei 2018 di Balai Diklat Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB) kabupaten setempat. Memiliki orientasi memberikan pemahaman terhadap para mahasiswi untuk mengaktualisasikan dirinya di ranah domestik dan publik dengan membawa misi KeIslaman dan KeIndonesiaan sesuai dengan Pedoman Dasar Kohati.

Minimnya tingkat partisipasi perempuan di ranah domestik menjadi tugas kita bersama untuk meningkatkan keterwakilannya di ranah publik dengan membawa kepentingan kaumnya sendiri pada khususnya.

Misi tersebut tak tercapai tanpa ada pemahaman ditanamkan sedini mungkin. Perempuan sebagai tiang negara tentu memiliki tugan tidak ringan dalam memberikan kontribusinya terhadap negara.

Sebagaimana syair Arab, “Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuannya baik, akan baik pula negaranya, dan apabila perempuan itu rusak, maka akan rusak pula negaranya”.

Selain penentu nasib bangsa, perempuan juga dapat menjadi penentu generasi setelahnya. Perempuan dalam keluarga diposisikan sebagai sekolah pertama, “Alummu madraasatul uulaa”. Oleh karenanya, perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam hal menambah wawasannya.

Pendalaman pemahaman diharapkan dapat dijadikan realisasi di lingkungan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Mengingat persoalan perempuan yang cukup kompleks terjadi di daerah bahkan pusat.

Salah satu contohnya, belum lama ini, tepatnya 12 Maret 2018 Polres Garut mengungkap praktik perdagangan manusia (human trafficking) dimana yang menjadi subjeknya adalah perempuan. Salah satu indikasi bahwa perempuan rentan dijadikan alat dalam tindak kejahatan.

Tak dapat dipungkiri, ini merupakan dampak dari pemahaman tentang potensi diri sebagai seorang perempuan yang minim.

Dengan pelatihan ini diharapkan segala pengetahuan dapat terserap secara maksimal agar mengahasilkan gagasan perubahan untuk dibawa ke daerahnya masing-masing nanti setelah pelatihan ini usai.

Pada dasarnya, perempuan jika sudah mampu melampaui dirinya serta memaksimalkan segala potensi yg dimiliki, tidak menutup kemungkinan dia bisa lebih mapan dalam berbagai hal dibanding lawan jenisnya dalam hal kompetisi dan berlomba dalam kebaikan.

Annisa Hanifa (Ketua Kohati HMI Cabang Garut).