Puasa, Medsos, dan Kita

0
9 views
Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir. (Foto: RepublikaTV/Havid Al Vizki).

Ahad 02 Jun 2019 07:09 WIB
Red: Elba Damhuri

Ketika Menghadiri Tabligh Akbar di Garut, Jawa Barat. (Foto : John Doddy Hidayat).

“Politik dan medsos tentu dunia baik dan bukanlah setan”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Haedar Nashir

Muhammad Abduh pernah berujar: “Aku berlindung kepada Allah dari politik dan segala yang terkait dengannya”. Seorang sufi modern mungkin boleh merintih sama, “Aku berlindung kepada Allah dari media sosial dan segala hal yang berhubungan dengannya”. Media sosial yang hadir di ruang publik saat ini menyerupai peyoratif politik ala pembaru dari Negeri Piramid itu.

Politik dan medsos tentu dunia baik dan bukanlah setan. Namun, politik dan medsos sebagaimana aspek hidup lainnya dalam titik ekstrem dapat bersifat buruk ketika membawa muatan hawa nafsu mengikuti perangai setan.

Nafsu ego, takhta, harta, dan segala hasrat indrawi yang meluap melebihi takaran. Padahal, hawa nafsu, ujar sufi ternama Jalaluddin Rumi, ketika menguasai jiwa ia bagaikan ibu dari semua berhala. Semua bergantung pada bingkai nilai dan para penggunanya.

Dunia tentu tidak selalu ekstrem dan negatif. Politik pun di mata Abduh memiliki sisi baik seperti kepentingan tanah air, demokrasi, dan sistem hukum tempat manusia membangun peradaban sebagaimana tertulis dalam karyanya, Islam baina al-‘Ilm wa al-Madaniyah. Namun, politik yang nirnilai di matanya sulit menjadi alat pembaruan dan pembangun peradaban utama.

Abduh memang memiliki pengalaman pahit soal politik. Setelah sempat aktif di dunia politik bersama sahabat dan gurunya, Jamaluddin al-Afghani, dia merasakan betapa politik sering paradoks. Elite yang didukungnya menjadi pemimpin Mesir kala itu ingkar janji dan menjalankan kekuasaan jauh panggang dari api.

Perjuangan dan konflik di dunia politik dirasakan sangat keras, yang juga menimpa dirinya. Dia pernah terlibat dalam pemberontakan Urabi. Lalu, dia mundur dari panggung politik dan kembali ke Al-Azhar untuk menjadi penerang dunia ilmu dan peradaban.

Ketika insan Muslim tengah mengakhiri bulan Ramadhan dan beberapa hari segera memasuki Idul Fitri nan sarat makna, sungguh saat paling tepat berefleksi, bagaimana mengapitalisasi puasa untuk imsak. Menahan diri dari segala godaan duniawi semisal medsos sebagaimana politik, yang sering memenjara setiap insan berakal dalam sangkar besi ananiyah-nafsiyah yang merugikan diri dan kehidupan bersama.

Media sosial

Medsos bagaikan dewa janus bermuka dua, wajah baik dan buruk. Medsos merupakan media daring yang para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual yang meluas.

Melalui media baru ini, manusia menjadi sangat mudah, cepat, efisien, serta memiliki daya jalar dan pengaruh dahsyat dalam relasi sosial manusia. Segala kebaikan sekaligus keburukan dapat bersemai subur melalui media berbasis teknologi digital itu. Dunia baru ini seperti tabularasa, hitam dan putihnya bergantung pada si empunya.

Mengirim pesan-pesan agama yang mencerahkan dapat dilakukan dengan semudah-mudahnya melalui medsos. Medsos dapat menjadi alat kebajikan setiap insan, termasuk untuk menolong sesama dan menebar segala benih keutamaan hidup di dunia. Orang beriman dapat berbagi ilmu dan beramal saleh melalui media daring yang masif ini.

Di media digital ini setiap insan dapat menjadi sarana merajut silaturahim dan ikatan ukhuwah paling efektif, meski berada di dunia maya. Melalui medsos, dengan segala amal kebajikan atas ridha Allah, insan beriman dapat tiket masuk surga. Karena medsos pula, boleh jadi sebaliknya bisa masuk neraka, yang sangat tidak diinginkan oleh setiap insan beriman.

Pada era dunia digital, melalui medsos segala kemungkaran atau keburukan pun dapat menjalar seketika. Kini menjelma cybercrime, kejahatan dengan pemanfaatan teknologi internet, yang berbasis pada kecanggihan teknologi komputer dan telekomunikasi.

Cybercrime merupakan evolusi kejahatan “konvensional” dari kejahatan kerah biru (blue collar crime), yaitu pencurian, penipuan, dan pembunuhan ke kejahatan kerah putih (white collar crime), seperti kejahatan korporasi, kejahatan birokrat, malpraktik, dan lain-lain. Sebutlah antara lain hijacking (pembajakan hasil karya orang lain, kejahatan perangkat lunak), cyberterorism, atau kejahatan terorisme melalui internet yang dapat tersebar luas ke segala arah (https:www.herugan.com).

Dalam dunia medsos manusia dapat mengalami “digitalisasi”, insan yang terdigitalkan layaknya mesin. Manusia menjadi asyik dengan orang lain yang ada “di seberang sana”, tetapi abai dengan manusia di dekatnya sehingga mengalami alienasi. Manusia hidup berdekatan, tetapi saling terasing. Alvin Toffler (1970) memperkenalkan sebutan the modular man, yakni manusia yang berpikir ala modul laksana mesin atau robot.

Meski melalui teknologi intelegensi artifisial (artificial intelligence) konon lahir robot-robot “berperasaan” seperti imajinasi sutradara film ternama, Steven Allan Spielberg. Namun, sejatinya mesin tetaplah mesin, bukan makhluk Tuhan yang memiliki jiwa nan fitrah.

Dalam dunia media sosial dan relasi digital keadaban mengalami peluruhan. Sopan santun, tutur kata baik, kejujuran, dan nilai-nilai budi luhur tergerus oleh hoaks, silang sengketa, ujaran-ujaran buruk, fitnah, ghibah, dan segala hal buruk yang dicandrakan menjadi lumrah. Imajinasi dan hoaks pun dapat dijadikan kebenaran terstruktur, sistematis, dan masif dalam selimut simulacra yang memesona ala realitas buatan Jean Baudrillard.

Prasangka, opini sepihak, data bias, dan subjektivitas serta-merta dianggap benar secara mutlak dalam aura hidup pasca-kebenaran (post-truth). Publik mudah tergiring pada isu-isu dan tayangan-tayangan panas yang dapat memantik emosi kolektif secara luas tanpa endapan kejernihan hati dan pikiran jernih. Setiap orang bisa saling berseteru ujaran secara garang dan berhadapan tanpa rasa sungkan karena dunia digital ini bersifat impersonal dan tidak menyentuh ranah personalitas yang bersifat langsung.

Di sinilah pentingnya puasa sebagai praksis imsak bermedsos, yakni menahan diri segala hasrat dan kecenderungan menggunakan media daring secara salah kaprah dan berlebihan agar menjadi beretika dan berkeadaban luhur. Puasa bermakna imsak dapat dihadirkan menjadi kekuatan ruhaniah yang mencerdaskan dan mencerahkan hati, pikiran, sikap, ujaran, dan tindakan serbautama.

Mereka yang lulus puasa dapat menghadirkan diri di media sosial untuk menyuarakan pesan keselamatan, kebahagiaan, kedamaian, keadilan, cinta kasih, keramahan, kelembutan, dan nilai-nilai ihsan sehingga manusia menjadi sosok-sosok yang berbudi mulia dalam kehidupan pribadi dan sesama yang menabur rahmat bagi semesta!

Spiritual kekitaan

Pasca-Ramadhan dengan ruhani puasa dan Idul Fitri maka dunia medsos dapat dijadikan sarana sosial silaturahim merekat “kekitaan” berkarakter takwa. Kekitaan adalah kebersamaan antarmanusia sebagai insan Tuhan yang saling mengenal dan membutuhkan secara baik, ta’aruf wa ta’awun baina al-naas bil-ihsan.

Relasi “aku” dan “engkau” yang selalu berjarak, bahkan kadang bermusuhan, dijalin menjadi “kita” yang menyatu dalam keragaman sebagaimana pesan Allah dalam Alquran, yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS al-Hujarat: 13).

Islam juga mengajarkan hidup ta’awun dalam kebersamaan di tengah perbedaan. Ta’awun merajut kerja sama dalam kebaikan dan tidak dalam keburukan sebagaimana pesan Allah: “…Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS al-Maidah: 2).

Dengan spirit ta’awun, sikap adil dan ihsan juga berlaku bagi golongan yang berbeda agama, suku, ras, budaya, pilihan politk, dan pihak manapun untuk kebaikan dan takwa, tidak untuk keburukan dan permusuhan.

Ibnu Katsir mengaitkan al-Maidah ayat-2 ini dengan hadis Nabi yang bunyinya “Unshur akhaka dhaliman aw madhluman”, artinya “Tolonglah saudaramu yang menganiaya dan yang dianiaya” (HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik). Ketika Nabi Muhammad ditanya mengapa harus menolong orang yang menganiaya? Rasul menjawab, yang artinya “Engkau larang dia agar tidak berbuat aniaya, begitulah cara kamu menolongnya”.

Betapa tegas, tapi moderat cara Rasulullah mengajarkan misi dakwah bahwa dalam menghadapi pihak musuh sekalipun senantiasa dimiliki jiwa dan sikap dasar kebajikan. Dalam bernahi-mungkar pun harus ditunaikan dengan cara yang makruf bahwa keburukan jangan dibalas dengan keburukan yang serupa.

Dalam kisah lain menurut Imam Ahmad dari Al-A’masyi, dari Yahya bin Watsab, dari salah seorang sahabat Nabi, dia berkata yang artinya: “Orang-orang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar terhadap cercaan mereka itu lebih besar pahalanya daripada orang mukmin yang tidak berbaur dan tidak sabar terhadap cercaan mereka”.

Senada dengan itu menurut riwayat Al-Hafidz Abu Bakar Al-Bazzar dari Abdullah bahwa Nabi bersabda yang artinya, “Orang yang menunjukkan pada kebaikan sama seperti orang yang melakukannya”. Siapa pun Muslim harus menyebarluaskan kebaikan serta memperluas horizon interaksi dan kerja sama secara terbuka melintasi batas-batas primordialisme.

Betapa inklusif ajaran ta’awun ataupun ta’aruf yang diajarkan Islam dan dipraktikkan Rasulullah bagi umat Islam. Pada frasa sebelumnya, ajaran ta’awun berurutan dengan kalimat “Wa laa yajrimannakum syanaanu qaumin an shodduukum ‘anil masjidil haraam an ta’taduu” yang artinya: “Jangan sampai kebencian (mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram mendorongmu berbuat aniaya atau melampaui batas (kepada mereka)” (QS al-Maidah: 2).

Frasa ini mengajarkan sikap adil meskipun kepada pihak musuh atau yang memusuhi umat Islam, suatu ajaran yang sangat luhur sebagai landasan ruhani dan moral dalam ber-habluminannas dengan sesama. Itulah pendakian ruhani setiap insan Muslim yang lulus puasa dan segala ibadah dalam Islam yang memancarkan pencerahan.

Dalam konteks puasa dan pasca-Ramadhan bagi umat Islam, maka menjadi kekuatan ruhaniah manakala golongan terbesar ini selain merajut kekitaan sesama seiman, juga mengembangkan kebersamaan dengan sesama anak bangsa dalam kemajemukan secara tulus dan autentik.

Dunia medsos dan politik maupun faktor lainnya jangan sampai mengoyak keutuhan umat dan bangsa sebagai satu entitas bagi kelangsungan Indonesia ke depan. Puasa dan nilai-nilai ajaran Islam justru harus menjadi sumber ruhani spiritualitas perekat kebersamaan dan keutuhan seluruh anak negeri.

Terlalu mahal harganya manakala umat dan bangsa ini berkeping-keping dalam serpihan-serpihan ananiyah-hizbiyah yang mengoyak eksistensi kekitaan umat dan bangsa sebagaimana pesan Nabi akhir zaman: “Orang yang paling dibenci Allah ialah yang bermusuh-musuhan dengan keji dan kejam” (HR Bukhari).

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here