Provokasi Jurnalis Anti-Islam

0
35 views

Sumiati Anastasia, Lulusan University of Birmingham, untuk Relasi Islam-Kristen

Garut News ( Jum’at, 22/05 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Belakangan ini cukup banyak media Barat dengan para jurnalisnya yang memprovokasi dunia Islam. Misalnya, awal Mei ini, jurnalis Pamela Geller menggelar kontes menggambar kartun Nabi Muhammad di Curtis Culwell Center, Garland, Texas, pada 3 Mei lalu.

Acara itu menjadi heboh, ketika dua orang melakukan serangan saat kontes berlangsung. Kedua penyerang, yakni Elton Simpton dan Nadir Soofi, ditembak mati polisi.

Tewasnya dua penyerang dan luasnya pemberitaan merupakan keberhasilan bagi Pamela Geller. Sejak serangan ke World Trade Center, sosok 57 tahun itu memang diliputi kebencian terhadap Islam.

Geller semula dikenal sebagai jurnalis dan komentator konservatif di koran New York Observer. Kini, ia aktif mengelola website-nya, yang memuat ulang 12 kartun nabi yang pernah dimuat majalah Denmark, Jyllands-Posten.

Kebencian Geller diungkapkan lewat lembaganya, American Freedom Defense Initiative (AFDI), yang aktif menggelar berbagai acara untuk menyudutkan Islam. Bahkan AFDI juga berani mengeluarkan kocek mempromosikan iklan anti-Islam.

Di New York dan Miami, ia pernah memasang iklan yang berbunyi “Fatwa on Your Head?” (Fatwa atas kepala Anda?) atau “Leaving Islam” (Meninggalkan Islam) guna mempromosikan website-nya www.refugefromislam.com, yang menyediakan bantuan bagi yang ingin keluar dari Islam.

Geller juga mengungkapkan kontes kartun itu merupakan solidaritas untuk para awak Charlie Hebdo, yang menjadi korban penyerangan. Dan, berbicara tentang Charlie Hebdo, tentu tak lepas dari nama editornya, yakni Stephane Charbonnier, yang ikut tewas bersama 11 orang lainnya setelah penyerangan pada 7 Januari 2015. Charbonnier adalah “otak” Charlie Hebdo.

Pamela Geller dan Stephane Charbonnier boleh jadi mengikuti jejak jurnalis Italia Oriana Fallaci, yang anti-Islam. Dalam bukunya La Forza Ragione (Kekuatan Akal Budi, 2004), jurnalis The New York Times, The Washington Post, dan Life ini mencemaskan kian banyaknya imigran muslim di Eropa dan dampaknya bagi budaya Barat yang memuja kebebasan.

Jadi, singkatnya, di mata Oriana, Islam itu membahayakan masa depan Barat dan kebebasan berekspresi. Barat memang sangat mendewakan kebebasan berekspresi. Padahal, menurut Paus Fransiskus, kebebasan berekspresi itu tidak boleh menghina agama, apalagi menganggap agama sebagai lelucon.

Teringat Paus, kita jangan gampang menyamakan Barat dengan umat kristiani. Sekularisme Barat membuat pemisahan tegas antara agama dan negara. Gereja, paus, bahkan Yesus juga kerap menjadi obyek olok-olok.

Yang perlu dicemaskan justru para ekstremis kanan, baik di Eropa atau Amerika, sebagaimana Pamela Geller, yang memang sangat anti-imigran beragama Islam. Simak saja kasus penembakan tiga muslim asal Suriah di apartemen mereka di dekat Universitas North Carolina 10 Februari 2015 (Tempo.co 11 Februari lalu).

Pelakunya diduga ekstremis kanan alias teroris yang anti-Islam. Kita juga ingat akan aksi ekstremis kanan Anders Behring Breivik yang membunuh 92 orang (90-an orang lainnya terluka) di Pulau Utoeya, Norwegia, pada Juli 2011.

Masa depan umat manusia jelas tidak boleh jatuh kepada para ekstremis atau radikal. Kaum moderat, termasuk para awak media kita, ditantang untuk mencari solusi yang bijak merespons fakta di atas. Kebijaksanaan itu ada di tengah. *

********

Kolom/Artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here