Proses KBM SMKN 14 Garut Menjadi Terlantar

0
68 views
Ilustrasi. Pelajar Mejenk.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Jum’at, 12/08 – 2016 ).

Ilustrasi. Pelajar Mejenk.
Ilustrasi. Pelajar Mejenk.

Lantaran pihak sekolah tak mampu membayar sisa utang kepada pengusaha pengadaan meubeler, maka kegiatan belajar mengajar (KBM) SMK Negeri 14 Garut di Kampung Cibeureum Desa Padasuka Kecamatan Pasirwangi terganggu.

bahkan pada Jum’at (12/8/16) pagi, siswa biasanya mengikuti KBM dari pagi hingga siang hari, namun ternyata hanya tampak bergerombol di luar ruang kelas. Sebab, kelengkapan belajar seperti meja, kursi, hingga papan tulis di ruangan kelas mereka ditarik pengusaha, kemudian ditumpuk di luar kelas.

Pihak pengusaha asal Kecamatan Pameungpeuk tersebut, disebut-sebut merasa sangat kesal dengan tunggakan pihak sekolah hingga kini masih belum dilunasi. Tunggakan itu merupakan sisa pembayaran dari pesanan pengadaan kursi, dan meja belajar.

Pihak pengusaha, malahan mengancam membawa kelengkapan sarana belajar ini ke Pameungpeuk, atawa menjualnya kepada pihak lain.

“Mungkin dia (pengusaha) kesal karena setiap menagih ke sini enggak hasil juga. Dengan kepala sekolah juga enggak pernah bertemu,” ungkap seorang guru enggan disebutkan namanya.

Kepala Seksi Sarana dan Prasarana SMK pada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Mumu membenarkan pihak SMKN 14 masih memiliki tunggakan pada pengusaha meubeler. Berdasar pengakuan kepala sekolah, tunggakan itu baru diketahui pada April lalu.

“Itu setelah proses pembangunan dibiayai pemerintah pusat pada Tahun Anggaran 2015 selesai. Pembelian meubeler ini termasuk bantuan RKB (ruang kelas baru). Pelaksanaannya dilakukan panitia terdiri guru, komite sekolah, dan kepala sekolah,” katanya.

Masih menurut Mumu, pihak kepala sekolah mengaku tak dilapori panitia pembangunan tentang masih adanya tunggakan terkait pengadaan meubeler. Dia pun mengaku heran adanya tunggakan tersebut, katanya pula.

Mumu katakan, besaran anggaran bantuan RKB SMKN 14 mencapai Rp1,09 miliar. Dana itu untuk kebutuhan pembangunan empat lokal ruang kelas, dan pembangunan kantor berikut pengadaan meubeler.

“Kami juga heran, anggarannya ada, dan laporannya selesai, tetapi masih ada tunggakan ke pengusaha. Kepala sekolahnya bilang kalau tunggakan belum dibayarkan itu sebesar Rp26,5 juta, dan untuk pelunasannya akan dimusyawarahkan terlebih dahulu,” kata dia.

Mumu berharap, meski masih terdapat persoalan tunggakan, meubeler untuk sarana belajar siswa jangan sampai ditarik lagi oleh pengusaha. Agar proses KBM siswa tetap berlangsung normal.

Dia juga menegaskan, pihaknya akan memberikan sanksi kepada kepala sekolah bersangkutan, atas terjadinya kasus tersebut, tandasnya.

*********

( nz, jdh ).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here