Produk Gitar Elektrik Garut Terganjal Permodalan

0
194 views

Garut News ( Sabtu, 18/02 – 2018 ).

Berawal rasa penasaran dengan informasi  potensi Kecamatan Kersamanah di Kabupaten Garut, Selasa lalu, Tim Media Center Diskominfo mendatangi sebuah rumah seluas 24 m2.

Sekilas terlihat  beberapa asesoris motor bergelantungan pada tali dibentangkan antar dinding ruang semi permanen. Tercium aroma cat masih basah. Di sudut lain, berdiri dua tiga gitar elektrik dan terbaring dua Gitar akustik.

Di atas gitar tepat menempel satu lukisan dua pasang perempuan dan laki-laki bingkai kayu.

Pada sudut remang ada  sosok pria berusia 40 an  asyik mengecat body motor berbahan fiber dengan ornamen airbrush, sesekali mengisap rokok kretek dalam-dalam, hingga tidak sadar saat Tim Media Center datang menghampiri.

Sekilas, dari raut wajahnya tersimpan potensi seni. Tutur bicaranya bisa ditebak memiliki seni yang tinggi.

“Awal mulanya saya pelukis”, Ujar Asep Soleh Nurdin,  sehari-hari dikenal dengan sebutan Asep Obes.

Dia katakan,  sejak SMP  mampu memainkan gitar. Hingga kemudian bersama rekan sekampungnya di Desa Sukamerang mendirikan grup band kecil-kecilan.

“Kami menamakannya Sejiwa Band”, ujar Bunyamin, rekan satu grupnya. Namun seiring perperkembangan, tahun 1992, Asep Hijrah ke Bandung, berniat mengubah hidupnya sebagai seorang seniman musik. Hobby main gitarnya kemudian dia kembangkan di Kota Kembang Bandung.

“Mungkin nasib saya harus seperti ini”, ujarnya lirih mengenang masa lalunya. Hingga ia bisa kenal dengan gitaris masa itu, seperti /RIF Band, bahkan dengan sekelas Doni Suhendra – Gitaris Krakatau Band.

Pada 2008, Asep kembali ke kampungnya di Desa Sukamerang, hingga ia menikahi perempuan satu kampungnya. Didorong kebutuhan ekonomi keluarga, keahlian memainkan gitar pun terusik kembali.

Asep didukung rekan setia satu band dulu, Bunyamin, mencoba keahlian lain yang dimiliki Asep. “Ya, dia punya keahlian membuat gitar elektrik”, Ujar Bunyamin, kini Kepala Desa Sukamerang.

Asep pun hingga kini belum mampu membuat gitar sesuai pesanan, karena terbentur modal. Sedangkan untuk memeroleh bantuan kredit, salah satu syaratnya dibentuk kelompok. Asep berpikir syarat itu agak berat, mengingat keahlian ini membutuhkan rasa seni yang tinggi.

“Sampai saat ini saya baru bisa memperbaiki gitar-gitar ini”, katanya, menunjukkan gitar-gitar  diperbaikinya. Hampir seluruh Garut memberikan kepercayaan memerbaiki kepada dia.

Menurutnya, servis gitar baru ramai saat acara menjelang show di acara pernikahan atau hari-hari nasional yang kebanyakan pemain musik dangdutan.

“Bahkan ada temannya yang hanya mau gitarnya diperbaiki oleh dirinya. Sengaja dari Australia hanya untuk memperbaiki gitarnya”, kata Asep  diiyakan Ade rekan satu grupnya.

Asep pun  fasih menceritakan bagaimana membuat gitar elektrik yang bagus, selain bahan dasar kayu, hingga bahan lainnya. Bahkan untuk membuat gitar pesanan, Asep harus menanyakan berat badan pemesan.

“Sederhana sih, agar yang memainkan gitar  nyaman dalam mainkan gitarnya”, ujarnya.

Meski usaha membuat gitarnya terkendala modal, dia yakin suatu saat nanti hobbinya ini  semakin diminati meski harganya murah, namun berprinsip tak menghilangkan kualitas.

“Harga kampung, kualitas Bandung”, pungkasnya diplomatis.

Camat Kersamanah, Drs. Anwar, saat mendampingi Tim Media Center berharap ada pihak mau membantu  warganya. Karena ia yakin, dengan  bantuan pemodal, Asep mampu membuat gitar kualitas bagus setiap bulannya 10 buah gitar.

Gitar hasil karya Asep Obes kini diberi nama Gitar Obes. Obes, menurut Camat Anwar singkatan dari Omong Besar. Meski yakin karya warganya ini bukan lagi omong besar, tapi hasil karya anak bangsa yang mesti dihargai

Diakhir pertemuan kami disuguhi lagu Dalam Kerinduan yang dipopulerkan The Mercy’s, kolabirasi Ade (melodi), Asep Obes (rythm), Herwan Diskominfo (Bass), dan H. Yusep Ruslan (vokal).

*********

Yan AS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here