Princip

Garut News ( Ahad, 13/07 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John DH).
Ilustrasi. (Foto : John DH).

Seratus tahun yang lalu, seorang pemuda berumur 19 tahun menembakkan pistol semi-otomatisnya ke sepasang suami-istri di sebuah sudut jalan di Sarajevo.

Yang dibunuh Franz Ferdinand, pewaris takhta Imperium Austro-Hungaria yang sedang berkunjung ke kota taklukannya itu; istrinya, Sophie, ikut tewas.

Si pembunuh Gavrilo Princip, anggota gerakan nasionalis Serbia yang ingin mengenyahkan kekuasaan imperial itu di wilayahnya.

Kedua tokoh ini seakan-akan melambangkan sejarah yang sedang terjadi satu abad yang lalu.

Franz Ferdinand, yang duduk di dalam mobil dengan pakaian kemaharajaan itu, bagian dari kekuasaan lama.

Princip, yang berada di jalan di depan sebuah toko makanan dekat sebuah jembatan, adalah unsur kekuatan baru yang sedang menyeberang ke masa depan.

Pada akhirnya mereka salah sangka.

Masa depan tak bisa ditebak.

Penembakan 28 Juni 1914 itu disusul perubahan zaman dengan entakan-entakan besar yang tak lurus arahnya.

Ketika tembakan menembus nadi dekat lehernya, Franz Ferdinand tak tahu bahwa istrinya, yang perutnya ditembus peluru, tak ada harapan untuk hidup.

“Sophie, Sophie, jangan mati!” katanya.

“Bertahanlah, untuk anak-anak kita!”

Anak-anak mereka hidup selamat nun jauh di istana, di Wina.

Tapi tak lama setelah Sophie dan suaminya mati, berpuluh ribu istri dan suami dan anak-anak juga mati.

Sebuah perang besar meletus dan meluas.

Orang Jerman menyebutnya Weltkrieg, dari mana kata “Perang Dunia” berasal, meskipun pada dasarnya konflik ini adalah sengketa negeri-negeri Eropa.

Perang Dunia I, dimulai dengan serbuan Austria ke Serbia, akhirnya melibatkan pasukan pelbagai negeri, terutama Jerman dan Prancis, sampai dengan Selandia Baru.

Delapan juta prajurit mati dan sejarah pelbagai bangsa berubah: Mekah dan Madinah direbut dari Daulat Usmani oleh tentara Arab yang dibantu Inggris-dan kekuasaan Saudi bertahan hingga hari ini.

Imperium Austro-Hungaria dipecah dan lahir negeri Cekoslovakia dan Yugoslavia.

Di Rusia, pemerintahan berganti: 1917 Lenin menegakkan sebuah negeri sosialis pertama yang bertahan selama lebih dari 70 tahun dan ketakutan Amerika terhadapnya menyebabkan Perang Dingin berlarat-larat, dengan sisa yang masih hadir di abad ini.

Nothing comes from violence and nothing ever could.

Lirik Sting itu, sebagaimana umumnya puisi, bukanlah pernyataan yang berniat akurat; ia lebih merupakan cetusan empati.

Sebab banyak hal lahir dari kekerasan-tak semuanya buruk.

Tindakan Princip membunuh penerus kekuasaan Austro-Hungaria 100 tahun yang lalu itu terbukti mengubah sejarah-termasuk memerdekakan banyak bangsa di dunia.

Di pengadilan, anak muda Serbia itu berkata, “Saya seorang nasionalis Yugoslavia, bertujuan menyatukan semua orang Yugoslav.”

Tujuannya tercapai.

Sekitar empat tahun kemudian, Yugoslavia yang merdeka dimaklumkan.

Tapi sebagaimana kekuasaan imperium Austro-Hungaria salah sangka tentang masa depannya sendiri, juga Princip dan nasionalismenya.

Austro-Hungaria roboh setelah Perang Dunia I; persatuan Yugoslavia berakhir sebelum abad ke-21 datang.

Princip akan menangis seandainya ia menyaksikan itu.

Tapi ia mati di penjara karena tuberkulosis-dan mungkin tak menyadari bahwa kekerasan punya jejak yang panjang.

Tomorrow’s rain will wash the stains away

but something in our minds will always stay

Ketika para pengawal bertanya kepada Franz Ferdinand yang tertembak itu apakah ia kesakitan, sang hertog menjawab, gagah: “Ini bukan apa-apa.”

Itu kata-katanya yang penghabisan.

Kemudian, hanya beberapa jam setelah ia dan istrinya mati, penguasa Austria di Sarajevo membalas dendam kolektif.

Mereka kobarkan bara permusuhan terhadap orang-orang Serbia di kota itu dan kemudian di kota-kota lain.

Golongan Kroasia dan muslim Bosnia digalakkan menghantam tetangga mereka; sebuah militia yang umumnya terdiri atas orang muslim Bosnia dibentuk, disebut Schutzkorps, buat meneror.

Sebagian orang Serbia dipenjarakan dan 460 dihukum mati.

Tak mengherankan ketika Yugoslavia ditegakkan dan dipimpin Tito, politik divide et impera penguasa Austria itu diganti dengan kampanye melawan “nasionalisme”-dalam arti “golonganisme”.

Kadang-kadang dengan tangan besi, yang pada gilirannya membuat perlawanan terhadap itu jadi terasa adil.

Memang “something in our minds will always stay”, seperti nyanyi Sting dalam Fragile.

Kekerasan membiakkan dendam, dan dendam dengan cepat berbaur kebencian, dan tanpa disadari, seseorang berubah ketika kebencian kian jadi bagian kejiwaannya.

Yugoslavia runtuh karena orang-orang yang semacam itu.

Manusia runtuh bersamanya.

Goenawan Mohamad/ Tempo.co

Related posts

Leave a Comment