Prevalensi Penyalahguna Narkoba Diproyeksikan Meningkat Setiap Tahun

by

Garut News, ( Jum’at, 11/10 ).

Drs Suyono, MM, MBA (Foto: John).
Drs Suyono, MM, MBA (Foto: John).

Berdasar penelitian BNN dan Puslitkes UI (2008), menunjukkan prevalensi penyalahguna narkoba diproyeksikan meningkat setiap tahun.

Pada 2008 sebanyak 1,99 persen dari total jumlah penduduk di seluruh Wilayah Indonesia, kemudian 2011 (2,32 persen), 2013 (2,56 persen), serta pada 2015 bisa mencapai 2,80 persen.

Foto : John
Foto : John

Demikian dikemukakan Direktur Pasca Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional, Drs Suyono, MM, MBA pada Desiminasi “Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba” (P4GN), diselenggarakan Biro Pengembangan Sosial Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jawa Barat, di Jatinangor Sumedang, Kamis (10/10).

Sedangkan berdasar penelitian BNN, dan Puslitkes UI (2011), prevalensi penyalahguna narkoba 2011 = 2,2 persen, terdapat 15 ribu orang meninggal setiap tahun atawa 78 persen, pada kisaran usia 19 – 21 tahun (data dari Kampung Bali Care, Jakarta 2009).

Suyono juga detail mempresentasikan UU No. 35/2009 tentang Narkotika Pasal 54, 55, 103, 127 à Penyalahguna yang terbukti sebagai pecandu atau korban penyalahgunaan narkoba wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Peserta dari BNNK Garut. (Foto : John).
Peserta dari BNNK Garut. (Foto : John).

Kemudian PP No. 25/2011 tentang Wajib Lapor Pecandu Narkotika à pecandu yang sudah cukup umur atau keluarganya, dan/atau orang tua atau wali pecandu yang belum cukup umur wajib melaporkan diri kepada “institusi penerima wajib lapor” (IPWL) untuk menjalani rehabilitasi medis dan sosial.

Dikemukakan pula, mengenai Inpres No.12/2011 tentang Pelaksanaan Kebijakan dan Strategi Nasional P4GN à fokus bidang rehabilitasi yaitu pembangunan kapasitas lembaga rehabilitasi medis dan sosial secara prioritas berdasarkan kerawanan daerah penyalahgunaan narkoba.

Dijelaskan, Peraturan Kepala Badan Narkotika Nasional Nomor 2/2011 tentang Penanganan Tersangka Atau Terdakwa Penyalahguna, Korban Penyalahgunaan, Dan Pecandu Narkotika.

Dikemukakan Suyono, situasi pecandu narkotika di Indonesia berdasar hasil survey BNN – UI (2008), menunjukkan estimasi penyalahguna narkotika 1,99 % populasi (3,6 juta).

Sedangkan jumlah Pecandu Narkotika yang kudu direhabilitasi berdasar estimasi  pecandu teratur pakai sekitar 27 % (sekitar 700 ribu).

FASILITAS REHABILITASI

Kompol Agus dari BNNP Jabar. (Foto: John).
Kompol Agus dari BNNP Jabar. (Foto: John).

Terdiri milik atawa dikelola Pemerintah : 114 (101 Aktif & 13 Tidak), berkapasitas 2134.

Selanjutnya milik atawa dikelola pihak Non Pemerintah / Masyarakat : 255 (141 Aktif & 114 Tidak), Kapasitas  4046.

LAPASSUSTIK, berkapasitas 6.000 pada 16 Lapassustik, realitas tahun 2010 bisa menampung lebih dari 30.000.

KEBUTUHAN REHABILITASI

Berdasar Aspek ekonomi diperoleh kerugian biaya ekonomi  : Rp.32,4 trilyun /2008, serta Rp.57,0 trilyun /2013.

Sedangkan bagi 1.580.384 pecandu dibutuhkan fasilitas rehabilitasi  ????

Saat ini tercatat ada  : 369 fasilitas rehabilitasi terdiri tiga konsep pada kegiatan operasionalnya meliputi :  One Stop Center (OSC), Out Reach Center (ORC), dan Community Base Unit (CBU).

Maka berdasarkan permasalahan tersebut, serta wujud nyata komitmen bersama :

Terdapat UU Nomor  35/2009 tentang Narkotika, UU Nomor  36/2009 tentang Kesehatan, dan PP nomor  25/2011 tentang Wajib Lapor bagi Pecandu Narkotika.

Rehat Peserta Desiminasi P4GN. (Foto : John).
Rehat Peserta Desiminasi P4GN. (Foto : John).

Serta sebagai anggota PBB dimana UNODC dan WHO pada CND ke – 52 tahun 2010 di Vienna Austria menyatakan : Adiksi Narkoba, penyakit keberadaannya menyebabkan masalah kesehatan masyarakat.

Undang – Undang Nomor 35/2009 tentang Narkotika sangat tegas hukumannya, Bisa sampai hukuman mati bagi pengedar sesuai tercantum pada ayat (2) masing – masing di Pasal 113, 114, 116, 118, 119 dan 121, namun sangat humanis lantaran pada Pasal 54 Pecandu  Narkotika, dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial, tak dikriminalkan dengan masuk ke penjara seperti sebelumnya.

Hal lain juga perlu mendapat perhatian serius, populasi pengidap HIV/AIDS, terkait penggunaan narkoba dengan jarum suntik, dan belakangan ini banyak juga melalui hubungan pergaulan seks bebas pada masyarakat dipicu maraknya penyalahgunaan narkoba jenis Amphetamine Type Stimulant (ATS).

Seperti Shabu & Ekstasi jumlah peredaran gelapnya meningkat,  terbukti meningkatnya jumlah penyalahgunanya, dan barang bukti berhasil ditangkap

Foto : John
Foto : John

“Ketergantungan narkoba, penyebab gangguan pada otak, menimbulkan perubahan perilaku, pikiran & perasaan”.

Dikemukakan pula, PENYAKIT PSIKIS / MENTAL / JIWA, terdiri CEMAS BERLEBIHAN, DEPRESI,  MEMBAHAYAKAN LINGKUNGAN / Homicide, serta MEMBAHAYAKAN DIRI SENDIRI / Percobaan bunuh diri tentamen suicide, PENYAKIT JIWA BERAT / Psikotik.

Sehingga diperlukan “Komitmen Bersama Menuju Indonesia Bebas Narkoba 2015”, demikian Suyono.

Peserta Desiminasi P4GN Juga Bisa Mejeng Brooo.. (Foto: John).
Peserta Desiminasi P4GN Juga Bisa Mejeng Brooo.. (Foto: John).

Perhelatan dengan 75 peserta itu, terdiri unsur kabupaten/kota se Jawa Barat, termasuk BNNK Garut.

Materi lain tersaji pada desiminasi ini, pemberantasan bahaya penyalahgunaan narkoba disajikan Kompol Agus D Sukanda dari BNNP Jabar.

Serta pemaparan Pencegahan dan bahaya penyalahgunaan Narkoba oleh Lektor Kepala STKS Bandung, Dr Epi Supiadi, M.Si.

Berlangsung pula dialog atawa tanya jawab.

 

****** John.