Praktisi Pendidikan Apresiasi Gebyar Edukasi Persagi Garut

0
126 views
DPC Persagi Garut Membangun Masyarakat Bergizi.

“Garut Masih Kekurangan Akhli Gizi”

Garut News ( Ahad, 28/01 – 2018 ).

DPC Persagi Kabupaten Garut Membangun Masyarakat Bergizi.

Praktisi pendidikan, Junaidin Basri, M.Pd mengapresiasi positif penyelenggaraan gebyar edukasi digagas “Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Akhli Gizi Indonesia” (DPC Persagi) Kabupaten Garut pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor/Car Free Day, Ahad (28/01-2018). 

Lantaran helatan tersebut, dihadiri banyaknya masyarakat umum sepanjang lintasan jalan A. Yani yang bisa langsung mendapatkan materi penyuluhan sekaligus konsultasi gizi, sehingga mereka mendapatkan pemahaman manfaat gizi yang seimbang.

Junaidin Basri Bersama Keluarga Menyempatkan Berdialog Dengan Praktisi Akhli Gizi dari jajaran Dinkes Garut.

Pemenuhan gizi seimbang, ungkap Junaidin Basri, ternyata bisa diperoleh dari ragam potensi sumber daya pertanian setempat, yang diolah tradisional dengan kearifan lokalnya menjadi produk makanan bergizi, bersih, hygine, juga Islami.

Menyusul produk padi dan palawija selama 2017 di kabupaten ini, berupa padi sawah, padi gogo, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, serta ubi jalar mencapai 1.338.256 ton pada luas panen 133.916 hektare.

Ketua DPC Persagi Kabupaten Garut Bersinergi Mengemas Formula Edfukasi Kepada Masyarakat Umum.

Total produk delapan jenis komoditi mencapai 1.338.256 ton tersebut, dengan capaian 110,03 persen dari sasaran 2017 (1.216.280 ton), serta mencapai 105,12 persen dibandingkan realisasi 2016 (1.273.073 ton).

“Karena itu, dengan potensi yang sangat luar biasa tersebut. Diharapkan penduduk Kabupaten Garut tak bernasib seperti masyarakat adat Suku Asmat yang selama ini dikenal dengan sebutan ‘manusia sejati’ karena seni ukiran kayunya yang mendunia. Tetapi kebesaran namanya dengan sumber daya alamnya sangat berlimpah ruah, kini malahan tergores tragedi gizi buruk dan wabah penyakit campak,” imbuh Junaidin Basri, kepada Garut News dengan nada ketus.

“Bangsa Sehat Berprestasi”

Praktisi Akhli Gizi Antara Lain Presentasikan Manfaat Gizi Berimbang Kepada Pejabat Eselon III Diskominfo Garut.

Ketua DPC Persagi kabupaten setempat, Ir H. Lili Ghazali, M.Si katakan pada momentum peringatan ke-58 Hari Gizi Nasional tahun ini (25 Januari 2018), dimaknai dengan membangun gizi.

Menuju bangsa sehat berprestasi bersama mencegah ‘stunting’, melalui kemandirian gizi realisasinya dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Maupun sejak dari mulai hamil hingga anak berusia di bawah dua tahun.

Kalangan Ibu Peroleh Pemahaman Tentang Porsi Kecukupan Energi Ibu Hamil dan Menyusui.

Selain itu gencar menyosialisasikan manfaat selama enam bulan pemberian ‘Air Susu Ibu’ (ASI) eklusif pada anak hingga berusia dua tahun, yang juga guna menurunkan angka kematian bayi yang tak hanya upaya itu dilakukan pada proses persalinan, ungkap Lili Ghazali.

Dikemukakan pula, balita berkondisi sangat kurus, kurus, normal, dan berkondisi gemuk. Merupakan indikator infut makanan pada bayi kurang maupun tak memadai, selain itu juga cerminan pola makan, yang hendaknya pula jangan hanya tergantung pada nasi.

Penyuluhan Tentang Gizi.

Diingatkan, berdasar survey terakhir nasional fenomena stunting menunjukan indikator gizi kurang di masa lampau. Kabupaten Garut pun masih kekurangan akhli gizi yang kini hanya berkisar 50 orang, padahal idealnya setiap Puskesmas dan Klinik Pengobatan sangat memerlukan akhli gizi.

“Berstatus Gizi Tidak Normal”

Dari sekitar 192.685 balita di Kabupaten Garut, Jawa Barat, terdapat 2.028 balita di antaranya berstatus gizi ‘tidak normal’. Bahkan dari 2.028 balita tersebut juga ada 204 balita di antaranya berkondisi sangat kurus terdiri 117 laki-laki, dan 87 perempuan.

Quiz Berhadiah Tentang Gizi Diikuti Peserta Murid SMA.

Sedangkan yang berkondisi kurus 1.824 balita meliputi 1.014 laki-laki, serta 810 perempuan, ungkap Kepala Seksi Kesehatan Keluarga, Hj. Heni Juliani, SSI, M.Kes.

Dijelaskan, jumlah balita menurut status gizi berusia 0 – 59 bulan itu, merupakan hasil pelaksanaan “Bulan Penimbangan Balita” (BPB) di kabupatennya tahun 2017, berdasarkan indikator “berat badan/tinggi badan” (BB/TB).

Sehingga terdapat pula yang berkondisi normal mencapai 185.818 balita masing -masing 95.161 laki – laki, dan 90.657 perempuan, katanya.

Menyapa Pengunjung Car Free Day, Guna Memahami Manfaat Gizi.

Sedangkan yang berkondisi gemuk mencapai 4.839 balita terdiri 2.652 laki – laki, serta 2.187 perempuan, katanya pula.

Sedangkan anak – anak di Kabupaten Garut berkondisi “stunting” atau bertinggi badan ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya yang seusia, jumlahnya paling banyak di Provinsi Jawa Barat.

Membudayakan Konsumsi Buah-buahan Kepada Anak-anak.

Akibat kurang asupan gizi yang diterima janin maupun bayi sejak bayi dalam kandungan, dan masa awal anak lahir. Sehingga stunting ini baru nampak setelah anak berusia dua tahun.

Mereka tersebar dari 20 wilayah kecamatan dengan 30 desa di seluruh wilayah kabupaten, bahkan jumlahnya meningkat drastis dari 24 persen menjadi 43 persen atau nyaris mencapai  200 persen peningkatannya berdasar hasil random sampel selama 2017 lalu.

Hiburan Ringan Gebyar Hari Gizi Nasional di Garut.

Heni Juliani katakan, berdasar random sampel pada 2016 silam menunjukan 24 persen anak dari 300 kepala keluarga berkondisi stunting.

Hasil random sampel 2017 tersebut, juga diselenggarakan pada 20 wilayah kecamatan dengan 30 desa di kabupaten itu, ungkapnya.

Paling banyaknya anak Garut berkondisi stanting di Jabar ini, ditanggulangi dengan beragam upaya termasuk di antaranya konseling dan perbaikan gizi. Saat ini pun terdapat cakupan “Perbaikan Makanan Bagi Anak” (PMBA) pada 14 Puskesmas di 10 kecamatan.

“Dengan melibatkan langsung 345 kader termasuk 260 kader PMBA,” kata dia.

Bersama-sama Mengonsumsi Buah-buahan.

Namun akar permasalahan paling dominan kurangnya asupan gizi pada anak, lantaran banyaknya masyarakat yang didera kondisi kemiskinan, termasuk miskin pengetahuan serta miskin kemampuan mengakses ragam informasi kesehatan.

“AKI/AKB Menurun” 

Hani Juliani menjelaskan pula terjadinya penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) pada proses persalinan.

Dipresentasikan Manfaat Buah, dan Sayuran.

Selama 2016 silam terjadi 74 kasus ibu meninggal, kemudian turun menjadi 45 kasus pada 2017 lalu.

Kemudian pada 2016 ada 333 kasus bayi meninggal juga turun menjadi 226 kasus bayi meninggal pada 2017 lalu.

Antara lain berkat proses penanganan  yang cepat maupun terintegrasi.

Sedangkan persalinan di fasilitas kesehatan pada 2016 mencapai 89 persen atau 53.000 an, tetapi pada 2017 lalu mencapai 70 persen atau 48.000 an proses persalinan di fasilitas kesehatan.

Produk Seni Ukiran Asmat yang Mendunia, Sehingga Dijuluki Asmat Manusia Sejati. (Ilustrasi).

Menurunnya persalinan menjadi 70 persen di fasilitas kesehatan ini, bisa saja terjadi berkat keberhasilan program KB (Keluarga Berencana), katanya pula, berkilah.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.