Potensi Zakat Garut Dinilai Prosfektif

0
52 views

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 24/03 – 2016 ).

Ilustrasi Repro Foto.
Ilustrasi Repro Foto.

Pengumpulan dan pengelolaan dana zakat di Kabupaten Garut hingga kini dinilai masih belum berjalan maksimal. Padahal potensi sumber dana zakat di Kabupaten Garut sangat besar.

Salah satu kendalanya, yakni ketidaksiapan Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola zakat, mulai tingkat desa hingga kabupaten, serta kurangnya sosialisasi dan dukungan dari Pemkab setempat. Sampai-sampai keberadaan “Badan Amil Zakat Nasional” (Baznas) kabupaten pun belum begitu akrab dikenal masyarakat.

Karena itu, bentuk dukungan pemerintah seperti sosialisasi dinilai sangat penting guna membangunkan kesadaran masyarakat, terutama dimulai dari pegawai pemerintah sendiri untuk menunaikan zakatnya.

Demikian dikemukakan sejumlah peserta seleksi calon pimpinan Baznas kabupaten periode 2016-2021 digelar Tim Seleksi di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Garut, Rabu (23/03-2016).

“Saya sendiri baru tahu ada Baznas. Lembaga penyaluran zakat, selama ini saya tahu ya lembaga lain, seperti Lazis-Muh (Lembaga Amil Zakat Infa Sadaqah Muhammadiyah),” ungkap seorang peserta tes yang juga mantan volunteer Uniceff untuk penanganan korban tsunami Aceh, Nana Suryana, usai mengikuti tes.

Ungkapan senada dikemukakan pula peserta seleksi lainnya, juga dosen perguruan tinggi swasta di Garut, Dian R. Kata dia, lemahnya sosialisasi mengakibatkan potensi sumber dana zakat yang ada tak bisa digali dan dikelola maksimal.

Pendapat sama dikemukakan ketua tim seleksi, Haryono. Dikemukakan, sosialisasi Undang-undang termasuk soal zakat merupakan pembinaan pedoman hidup bagi warga negara. Apalagi membayar zakat itu dapat mengurangi kewajiban membayar pajak.

Dikatakan, besarnya potensi dana zakat di Garut setidaknya terlihat dari zakat profesi. Potensi zakat profesi di kalangan PNS Pemkab saja mencapai sekitar Rp18 miliar per tahun.

Selama ini, dana zakat infaq dan shodaqoh terkumpul baru berkisar Rp800 juta-Rp1 miliar per tahun. Bahkan zakat profesi baru dari lingkungan Kemenag saja dengan jumlah sekitar Rp70 juta per bulan. Sedangkan dari instansi Pemkab baru mencapai 17 dari 36 instansi, ditambah PDAM Tirta Intan.

“Ironisnya, DPRD melahirkan Perda 6/2014 sampai saat ini belum pernah melaporkan pelaksanaan Perda itu,” ungkapnya.

Berkaitan seleksi calon pimpinan BAZNAS 2016-2021, Haryono katakan, kini memasuki tahap seleksi tertulis kemampuan diikuti 23 peserta lolos seleksi administrasi tahap pertama.

Para peserta tes kebanyakan berlatar belakang pendidikan S2 ekonomi. Sedangkan profesinya kebanyakan dosen, peneliti, dan tokoh agama. Terdapat juga mantan pimpinan Baznas Garut, mantan anggota DPRD, dan mantan pejabat Pemkab Garut.

Dari 23 peserta itu, 20 dinyatakan lolos dan berhak mengikuti psikotes di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada 27 Maret 2016. Sebanyak 10 dinyatakan lolos berhak mengikuti tes wawancara.

Selanjutnya daftar tersebut diserahkan ke Bupati Garut untuk ditentukan lima di antaranya sebagai pimpinan Baznas Garut Periode 2016-2021.

“Kita berharap ketika Bupati menentukan lima pimpinan Baznas nanti, dilibatkan pula pertimbangan dan masukan dari para pini sepuh pimpinan Umat Islam, Ulama, maupun tenaga profesional,” imbuhnya.

********

( nz, jdh ).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here