Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Kirimkan Delegasi Ke Kampung Pare

0
12 views
M. Angga Tirta.
Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya di Waktu Malam.

“Tingkatkan Kualitas Keilmuan Santri Yadul ‘Ulya”

Garut News ( Kamis, 05/12 – 2019 ).

Ponpes/Kuttab Modern Digital, Yadul ‘Ulya di Kampung Panawuan Sukajaya Tarogong Kidul Garut, Jawa Barat, mengirimkan delegasi santri ke Kampung Inggris Pare Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Pengiriman delegasi ke perkampungan di sepanjang Jalan Anyelir, Jalan Brawijaya, Jalan Kemuning Desa Tulungrejo dan Desa Pelem, Kecamatan Pare tersebut, guna penguatan kualitas santri Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya.

“Lantaran di perkampungan itu, delegasi Santri Yadul ‘Ulya bisa lebih mendalami berbahasa Inggris, dan sekaligus Bahasa Arab,” ungkap Pimpinan Yayasan Tahfidz Qur’an Garut, M. Angga Tirta.

Dikemukakan, pada perkampungan ini pun Delegasi Santri Yadul ‘Ulya juga bisa bersosialisasi dengan hiruk pikuk aktivitas belajar khususnya pada saat musim liburan, sarat pelajar, mahasiswa, pekerja maupun masyarakat umum mengisi waktu liburan mereka untuk belajar.

Bahkan yang belajar di Kampung Inggris tak hanya dari Indonesia melainkan pula dari mancanegara seperti Malaysia, Thailand, Timor Leste, dan lainnya.

Kalend Osein, pionir berdirinya Kampung Inggris di Pare, Kediri. Kalend Osein merupakan santri asal Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Menginjak kelas lima di pondok, Kalend meninggalkan bangku sekolah lantaran tak mampu menanggung biaya pendidikan. Bahkan biaya untuk pulang ke kampungnya juga tak ada.

Dalam kondisi sulit itu, seorang temannya memberitahukan adanya seorang ustadz (pengajar) di Pare, Kediri menguasai delapan bahasa asing. Ustadz tersebut KH Ahmad Yazid. Kalend kemudian berguru dengan harapan minimal bisa menguasai satu atau dua bahasa asing. Dia tinggal dan belajar tanpa mengeluarkan biaya di Pesantren Darul Falah, Desa Pelem, Kecamatan Pare milik Ustadz Yazid.[4]

Suatu ketika, dua mahasiswa datang belajar Bahasa Inggris kepada Ustadz Yazid untuk persiapan menghadapi ujian negara dua pekan lagi yang akan dilaksanakan di kampusnya, IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur.

Saat itu Ustadz Yazid sedang pergi ke Majalengka, Jawa Barat. Kedua mahasiswa tersebut diarahkan untuk belajar kepada Kalend oleh istri Ustadz Yazid. Kalend menyanggupi permintaan itu dan mereka akhirnya terlibat proses belajar mengajar di serambi masjid area pesantren.

Pembelajarannya cukup singkat namun intensif selama lima hari saja. Sebulan kemudian kedua mahasiswa tersebut kembali dan mengabarkan kepada Kalend mereka lulus ujian.

Keberhasilan dua mahasiswa itu tersebar di kalangan mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Surabaya dan mereka tertarik mengikuti jejak seniornya belajar kepada Kalend Osein. Sejak saat itu, pada 15 Juni 1977 Kalend mendirikan lembaga kursus Basic English Course (BEC) di Dusun Singgahan, Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kediri.

Kelas perdana hanya ada enam siswa. Para siswa itu tak hanya belajar Bahasa Inggris namun juga ilmu agama. Selama sepuluh tahun Kalend mengembangkan lembaga kursusnya. Perlahan BEC mulai dikenal luas dan semakin banyak ingin belajar di BEC.

Tingginya minat masyarakat memelajari Bahasa Inggris, kian hari jumlah peserta kursus semakin banyak. Lembaga kursus BEC pun membuka beberapa cabang dengan nama beda, yakni Happy English Course (HEC 2) dan Effective English Conversation (EECC).

Awal 1990-an, Kalend mendorong para alumni BEC agar membuat lembaga kursus untuk menampung pelajar tak mendapat kuota akibat membludaknya peminat ingin belajar di BEC. Perlahan-lahan lembaga kursus di Pare semakin bertambah jumlahnya dan membentuk suatu perkampungan. Kini, tercatat lebih 250 lembaga kursus di Kampung Inggris.

Kampung Inggris Pare berlingkungan tertata seperti lingkungan sekitar kampus. Tersedia banyak warung makanan, cafe, laundry, tempat ibadah, toko buku, taman, dan peralatan dibutuhkan mahasiswa. Alat transportasi utama sepeda, dan motor.

Keduanya bisa disewa di tempat penyewaan sepeda, dan motor. Tak ada angkot jarak dekat ataupun ojek seperti di kota-kota besar.

********

Pelbagai Sumber/JDH/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here