Ponpes Yadul ‘Ulya Garut Fasilitasi Penyelenggaraan Ta’aruf

0
144 views
Mengenali Wajah/Tangan, Keluarganya, Lingkungannya, dan Istiqoroh.
Mengenali Wajah/Tangan, Keluarganya, Lingkungannya, dan Melakukan shalat Istikharoh.

“Wujudkan Generasi Berakhlakul Karimah”

Garutnews ( Ahad, 18/04 – 2021 ).

Guna mewujudkan generasi berakhlakul karimah maupun  berakhlak mulia (berbudi pekerti yang baik). Maka Ponpes Yadul ‘Ulya Garut memfasilitasi penyelenggaraan ‘Ta’aruf’, masing-masing pada Sabtu dan Ahad (18/04-2021).

Rangkaian helatan Ta’aruf di Masjid Ponpes Yadul ‘Ulya tersebut, mendapat atensi besar dari puluhan peserta, bahkan ada sedikitnya tiga bakal calon pasangan yang merencanakan segera menikah setelah direstui orangtua mereka masing-masing.

Lantaran Ta’aruf, perkenalan atau saling mengenal dianjurkan dalam Islam, berupa interaksi dilakukan antara dua orang atau lebih disertai maksud atau tujuan tertentu.

Namun taaruf dikenal masyarakat muslim Indonesia, yakni berhubungan dalam dunia percintaan. Sebagai proses perkenalan guna menyempurnakan pelaksanaan ajaran agama terkait mengacu kejenjang pernikahan.

Tanya-Jawab Tak Langsung Melalui Fasilitator Tanpa Menyebut Nama Melainkan Notasi Kode Berisi Biodata.

Tak hanya sekedar ingin berkenalan atau iseng dalam mencari jodoh, lebih dari itu. Taaruf menjadi lebih mulia lantaran setiap pelaku memiliki niat suci.

Sebab taaruf beda dengan pacaran. Secara syari, taaruf diperintahkan Rasulullah SAW bagi setiap pasangan ingin menikah.

Karena taaruf memiliki banyak manfaat dan tujuan jelas. Selain itu bisa menghindari seseorang dari hal negatif karena tak dianjurkan bagi mereka menjalani taaruf pergi berduaan. Jika ingin bertemu pun harus ada orang lain menemani, baik orangtua maupun saudara. Agar aman dan jauh dari maksiat.

Selama menjalin proses taaruf, pria atau wanita berkewajiban mencari tahu sebanyak mungkin mengenai satu sama lain dalam waktu singkat. Ini disebut masa penjajakan sebelum menikah. Taaruf juga dianggap masa saling bertukar informasi mengenai satu sama lain.

Didalam Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 13 menerangkan secara jelas mengenai kata taaruf:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja’alnākum syu’ụbaw wa qabā’ila lita’ārafụ, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr

Arti: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Namun proses taaruf beda dengan pacaran. Dalam Islam, jika ada seorang pria tertarik pada seorang wanita. Mereka dianjurkan langsung menemui kedua orangtua si wanita dan mengutarakan niat baiknya.

Setelah  berhasil mendekati orangtuanya, bukan berarti bisa mendekati wanita idaman begitu saja. Semua masih memiliki tata cara khusus.

Anda tak boleh terlalu intens berkomunikasi seperti chatting atau teleponan. Supaya kedua belah pihak bisa saling menjaga dan tak menimbulkan hal tak diinginkan.

Menjalani taaruf cukup dengan saling mengingatkan seperti menanyakan perihal dirinya. Misalnya hal apa disukai, dan tidak disukai. Semua itu merupakan proses menjalani taaruf yang benar.

Tak dianjurkan selalu bertemu bahkan saling mengirim pesan sesering mungkin. Sesekali jika ada ingin disampaikan, boleh menelepon atau mengirim pesan.

Namun lebih baik lagi jika itu hal penting. Ajak keluarga atau teman dekat menyambangi ke rumah si wanita agar pesan tersebut dapat disampaikan dengan jelas.

Setelah mendapat restu orangtua si wanita, bukan berarti Anda bisa bertemu dan mengajaknya jalan-jalan. Pertemuan harus selalu ditemani pihak ketiga. Kedua belah pihak harus saling menjaga dan menghargai sebagai manusia.

Karena dalam taaruf melakukan pertemuan berarti ada sesuatu hendak dibicarakan, misalnya membahas persiapan akan dilakukan.

Dengan syarat harus dipersiapkan.

  1. Menundukkan Pandangan

Menundukkan pandangan itu bukan berarti memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah. Menundukkan pandangan, menjaga pandangan agar tak dilepaskan begitu saja tanpa kendali sehingga bisa menghindari hal tak diinginkan saat pertemuan.

2. Melakukan shalat Istikharoh

Melakukan shalat Istikharoh dengan sebaik-baiknya. Setelah mendapatkan data dan foto, lakukanlah shalat Istikharoh dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT memberikan jawaban terbaik.

Dalam melakukan shalat Istikharoh jangan ada kecenderungan terlebih dahulu pada calon diberikan kepada kita, melainkan ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT.

Karenanya, luruskan niat kita, kita menikah memang benar- benar membentuk rumah tangga sakinah mawaddah dan wa rahmah. Seseorang biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya.

3. Menentukan Waktu Khitbah (Lamaran)

Taaruf tidak boleh terlalu lama seperti pacaran hingga bertahun-tahun. Dalam Islam tk diperbolehkan berpacaran. Dalam Islam, jika taaruf dilakukan dalam waktu lama sangat merugikan pihak wanita. Maka, jika mengambil keputusan taaruf maka Anda siap menikah.

Sebenarnya, jarak antara taaruf dan khitbah itu berkisar hanya satu hingga tiga pekan. Terlalu singkat memang, namun itulah aturan dalam Islam yang benar. Terlalu lama taaruf berdampak pada hal negatif nantinya.

4. Melakukan Akad dan Menikah

Jika seluruh persiapan dijalankan baik. Tiba saatnya menikah. Tak perlu mewah, dalam Islam pernikahan mewah bukanlah wajib harus dilakukan. Pernikahan hanya dilakukan semampunya.

Rangkaian helatan Ta’aruf di Masjid Ponpes Yadul ‘Ulya tersebut, mendapat atensi besar dari puluhan peserta, bahkan ada sedikitnya tiga bakal calon pasangan yang merencanakan segera menikah setelah direstui orangtua mereka masing-masing.

******

Bisa Terancam Penjara.

Budaya Suap: Tradisi Mendarah Daging Bangsa Yahudi

Ustadz dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.

Tahukah kita, bahwa budaya memberi suap dan uang sogok adalah budaya dan tradisi yang mengakar kuat (mendarah daging) di kalangan bangsa Yahudi? 

Allah Ta’ala berfirman,

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

“Mereka itu (orang-orang Yahudi) adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan ‘as-suht’” (QS. Al-Maidah [5]: 42).

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ([as-suht] السحت)  adalah harta haram, yaitu risywah (uang suap atau uang sogok) (Tafsir Jalalain, 1/144).

Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ([as-suht] السحت)  adalah harta haram, yaitu risywah, sebagaimana penjelasan shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu (Tafsir Ibnu Katsir, 3/106).

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata tentang ayat di atas,

كَانَ الْحَاكِمُ مِنْهُمْ إِذَا أَتَاهُ أَحَدٌ بِرُشْوَةٍ جَعَلَهَا فِي كُمِّهِ فَيُرِيهَا إِيَّاهُ وَيَتَكَلَّمُ بِحَاجَتِهِ فَيَسْمَعُ مِنْهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَى خَصْمِهِ، فَيَسْمَعُ الْكَذِبَ وَيَأْكُلُ الرُّشْوَةَ. وَعَنْهُ أَيْضًا قَالَ: إِنَّمَا ذَلِكَ فِي الْحَكَمِ إِذَا رَشَوْتَهُ لِيُحِقَّ لَكَ بَاطِلًا أَوْ يُبْطِلَ عَنْكَ حَقًّا

“Para hakim dari kalangan bangsa Yahudi dulu, jika mereka didatangi seseorang (salah satu pihak yang memiliki perkara atau bersengketa, pen.) dengan membawa uang suap yang disembunyikan di balik lengan bajunya untuk kemudian diperlihatkan (uang suap tersebut) kepada sang hakim, maka orang yang membawa uang suap itu lalu menyampaikan keperluannya (yaitu, menyampaikan tuntutannya). Hakim (yang sudah disuap tersebut, pen.) hanya mendengarkan perkataan orang yang memberi suap dan tidak melihat kepada kasus yang mereka tangani (artinya, tidak memperhatikan lagi pihak lawan yang tidak membawa suap). Mereka suka mendengar perkataan dusta dan memakan uang suap.”

Beliau rahimahullah juga berkata, ”Yang demikian itu hanyalah dalam masalah hukum. Mereka disuap untuk mengubah yang salah menjadi benar, atau mengubah yang benar menjadi salah” (Tafsir Al-Baghawi, 3/58).

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” (QS. An-Nisa [4]: 60).

Di dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan sebab turunnya ayat di atas. Al-Qurthubi menyebutkan riwayat dari Asy-Sya’bi yang mengatakan,

كان بين رجل من المنافقين ورجل من اليهود خصومة، فدعا اليهودي المنافق إلى النبي صلى الله عليه وسلم، لأنه علم أنه لا يقبل الرشوة. ودعا المنافق اليهودي إلى حكامهم، لأنه علم أنهم يأخذون الرشوة في أحكامهم، فلما اختلفا اجتمعا على أن يحكما كاهنا في جهينة

“Terjadi sengketa antara seorang Yahudi dan seorang munafik (orang Yahudi yang pura-pura masuk Islam). Maka orang Yahudi mengajak orang munafik untuk mendatangi Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam (untuk memutuskan sengketa di antara mereka, pen.) karena dia mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak menerima uang suap. Sedangkan orang munafik tadi mengajak si Yahudi untuk mendatangi hakim dari kalangan bangsa Yahudi, karena dia tahu bahwa hakim dari kalangan Yahudi bisa disuap ketika membuat putusan. Ketika mereka berbeda pendapat (siapa yang didatangi), akhirnya mereka bersepakat untuk mendatangi seorang dukun di daerah Juhainah”  (Tafsir Al-Qurthubi, 5/623).

Allah pun lalu menurunkan ayat di atas untuk mencela keduanya:

(1) “Orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu” adalah orang munafik; dan

(2) “dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu” adalah orang Yahudi.

Al-Qurthubi juga menyebutkan jalur riwayat dari Adh-Dhahak yang menjelaskan bahwa thaghut (dukun) yang didatangi oleh orang Yahudi dan orang munafik tadi adalah Ka’ab bin Al-Asyraf (Tafsir Al-Qurthubi, 5/623). Di dalam Tafsir Jalalain juga disebutkan bahwa keduanya kemudian mendatangi Ka’ab bin Al-Asyraf  (Tafsir Jalalain, 1/144).

Demikianlah, budaya sogok-menyogok dalam membuat putusan hukum, ternyata budaya warisan turun-temurun dari bangsa Yahudi.

*Kita mencela dan melaknat orang-orang Yahudi, namun justru kita sendiri (mungkin) mengikuti budaya mereka, tanpa kita sadari*.

Wallahu a’lam.

***

Selesai disusun di malam hari, Masjid Nasuha ISR Rotterdam, 17 Shafar 1436

Yang selalu mengharap ampunan Rabb-nya,

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.

Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here