Politik Simbol

Ali Rif’an,  Peneliti Pol-Tracking Institute

Jakarta, Garut News ( Senin, 12/05 – 2914 ).

Ilustrasi. Roda Terus Bergulir. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Roda Terus Bergulir. (Foto : John Doddy Hidayat).

Simbol memang tidak bisa mengubah bangsa secara langsung, karena tidak memiliki energi konkret.

Akan tetapi, simbol memiliki kekuatan abstrak, semacam informasi yang bisa menggerakkan, yang jika digunakan dengan baik bisa mengubah suatu bangsa.

Dalam sejarah negara-negara di dunia, para pemimpin besar selalu memproduksi simbol sebagai modalitas untuk menggerakkan masyarakat.

Mahatma Gandhi, misalnya, lekat dengan simbol anti-kekerasan, Soekarno punya simbol anti-imperialisme, Nelson Mandela sebagai simbol anti-rasisme, Khomeini sebagai simbol revolusi Islam, serta Bung Hatta sebagai simbol koperasi Indonesia.

Pertanyaannya, bagaimana dengan simbol yang dimiliki oleh para capres mendatang?

Tentu ada banyak simbol yang telah diproduksi, khususnya capres dari PDI Perjuangan, Joko Widodo (Jokowi), dan capres dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Jokowi, misalnya, dikenal dengan simbol “pro-wong cilik”, sementara Prabowo “pemimpin kuat”.

Itu terlihat dari gaya komunikasi Jokowi serta gestur dalam kesehariannya yang sederhana, sementara Prabowo Subianto terkesan berkelas.

Saat berkampanye, Jokowi sering blusukandan berjalan kaki, sementara Prabowo Subianto menunggang kuda dan memakai helikopter, seperti saat memimpin kampanye di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), 23 Maret lalu.

Simbol-simbol yang dibangun oleh kedua capres di atas agaknya tidak sembarangan, alias memiliki dasar filosofis dan historis.

Sebab, simbol sejatinya adalah rangkuman gagasan dan arah perjuangan.

Dengan simbol “pro-wong cilik”, orientasi mendasar kepemimpinan Jokowi adalah bagaimanang openi(mengurus) rakyat, menyapa, dan memberdayakan mereka, serta mengangkat harkat dan martabat rakyat kecil.

Masyarakat, yang selama ini tak memiliki akses dengan presiden, di pemerintahan Jokowi, barangkali akan mendapatkan kemudahan.

Mungkin Jokowi akan seperti mendiang Gus Dur yang mengubah “Istana Kepresidenan” menjadi “Istana Rakyat”.

Sedangkan dengan simbol “pemimpin kuat”, Prabowo Subianto ingin membawa bangsa ini menjadi “macan Asia”.

Orientasi mendasar Prabowo dalam kepemimpinannya ke depan barangkali adalah bagaimana membuat bangsa ini disegani oleh negara-negara lain.

Prabowo tipe pemimpin yang kuat dari sisi gagasan dan narasi, sementara Jokowi tipe pemimpin yang bekerja dari hati dan tanpa basa-basi.

Gaya bahasa Jokowi sangat alami dan merakyat, sementara gaya bahasa Prabowo lantang dan seperti bangsawan.

Tapi menariknya, meski antara Jokowi dan Prabowo terlihat kontras, keduanya merupakan antitesis dari gaya kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Gaya blusukanJokowi, misalnya, antitesis dari kepemimpinan SBY yang terkesan penuh citra.

Sedangkan gaya lantang Prabowo menjadi antitesis kepemimpinan SBY yang terkesan “lembek”.

Itulah kenapa kedua tokoh ini mendapat sambutan positif dari masyarakat, khususnya sambutan terhadap Jokowi dengan elektabilitas tak tertandingi.

Pertanyaannya, antara gaya Jokowi dan Prabowo, mana yang lebih cocok memimpin roda pemerintahan mendatang?

Setiap dari kita pasti punya jawabannya.

Yang jelas, masyarakat kita adalah masyarakat majemuk, tentu selera capres sangat berbeda-beda.

Adanya simbol dalam politik sangat berguna untuk memberikan disparitas antara satu kandidat dan kandidat lainnya.

Selain itu, simbol berguna untuk menarik simpati pemilih.

Simbol ibarat merek, semakin bagus akan diminati pembeli.

Tentu saja antara merek dan kualitas barang harus sepadan.

Karena, ketika simbol tidak dibarengi kualitas, yang terjadi adalah kekuatan horor.

Julia Kristeva dalamPower of Horror mengatakan horor adalah kekuatan sistematis yang secara berkelanjutan mengembangkan cara untuk menjadikan pihak lain sebagai obyek kebencian (Piliang, 2005: 125).

Tentu kita tidak ingin horor politik-seperti saling serang dan menikam-terjadi dalam pilpres.

Masa kampanye pilpes nanti jangan sampai diisi oleh kampanye hitam, baik saling sindir melalui puisi maupun melalui ungkapan-ungkapan berbau rasis yang bisa memprovokasi masyarakat.

Perang simbol sangat diperlukan, tapi perang otot jangan.

Sebab, jika politik sudah menggunakan otot, simbol positif dapat berubah menjadi simbol negatif.

Seperti Qarun yang terkenal dengan simbol kerakusan manusia, Qabil sebagai simbol kekerasan manusia, Hitler sebagai simbol genosida,Usamah bin Ladin-yang oleh George W. Bush dikatakan sebagai simbol terorisme global-dan lain-lain.

Akhir kata, kita tak ingin di antara salah satu capres kita nanti ada yang mendapatkan (kutukan) simbol negatif.

Publik ingin pilpres mendatang berjalan pada jalurnya.

Hindari kampanye hitam, apalagi politik otot.

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts