Politik Pengemis

0
105 views

– E.H. KARTANEGARA, Wartawan @ehkartanegara

Jakarta, Garut News ( Senin, 08/06 – 2015 ).

Ilustrasi. Perempuan “Papa” Berusia Lebih 90 Tahun Ini, Tanpa Daya dan Sebatangkara, Terpaksa Menjadi Pengemis di Garut, Jawa Barat. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Perempuan “Papa” Berusia Lebih 90 Tahun Ini, Tanpa Daya dan Sebatangkara, Terpaksa Menjadi Pengemis di Garut, Jawa Barat. (Foto: John Doddy Hidayat).

Mereka berpakaian compang-camping, dekil, kotor, dan bau-sebagian membawa tongkat kayu. Berkeliaran-tepatnya, bergerilya, penuh selidik-ke sudut-sudut kampung; meminta-minta dari rumah ke rumah penduduk. Anehnya, para pengemis itu juga suka ngumpul malam hari; berpesta-entah dapat dana dari mana.

Para pengemis yang dikisahkan dalam komik populer Panji Tengkorak karya maestro Hans Jaladara itu memang bukan sembarang pengemis.

Mereka, menurut Seno Gumira Ajidarma dalam Horison Esai Indonesia, Kitab 2 (2004), tak lain kamuflase orang-orang Partai Pengemis-sebuah partai dengan kerapian struktur organisasi klandestin, mirip manajemen partai modern.

Para pecandu komik yang terkenal sejak 1970-an itu sejatinya dapat membaca filsafat politik partai yang sungguhpun ditampakkan sebagai segerombolan pengemis, orientasi mereka tetaplah kekuasaan; menjadi penjajah baru, penjarah, pemburu harta.

Poin itulah, menurut Seno, yang membedakan filsafat kepartaian mereka dengan filsafat kegelandangan Panji Tengkorak. “Aku seorang pengemis, mereka juga pengemis, tetapi aku bukan golongan mereka,” kata Panji Tengkorak dalam serial Walet Merah.

Sekarang ini foto-foto, poster, dan bahkan baliho para peminta-minta dari golongan yang berbeda dari komik mulai bermunculan di berbagai sudut sekitar 200 kota maupun kabupaten yang akan mengikuti hajatan politik; pilkada serentak 2015.

Tentu penampilan mereka dibikin jauh lebih necis, pasang senyum, seakan tidak meminta apa pun-kecuali, dalam bahasa eufemisme, sangat berharap memperoleh dukungan suara dari calon pemilih.

Memasang potret diri-disertai slogan yang entah apa maksudnya-sebagai sebuah kehadiran di panggung politik, belum pernah ada presedennya dalam sejarah politik kita. Sejarah politik kita adalah sejarah pemikiran intelektual, kaum terpelajar, kaya ide besar yang bahkan menggentarkan pemerintah kolonial.

Ada sederet nama kaum bangsawan ide (bukan bangsawan karena keturunan) yang karya-karyanya mengilhami lahirnya berbagai pemikiran politik kebangsaan melewati zamannya.

Sebutlah Wahidin Soedirohoesodo, Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, Boedi Oetomo, Tjokroaminoto, Kiai Ahmad Dahlan, Kiai Wahid Hasyim, Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantoro, juga Kartini yang oleh sejarawan George McT Kahin disebut sebagai pelopor pembaruan pendidikan di Indonesia, dan masih ada puluhan nama cemerlang lainnya.

Percikan-percikan pemikiran yang menerangi zaman itulah yang sejak era Reformasi meredup dan digantikan oleh gambar-gambar para peminta-minta.

Bagaimana bisa meyakinkan orang lain untuk mempercayai akan terjadi perubahan lebih baik di masa depan bila panggung politik kita tak hanya ganjil-tidak merangsang untuk menggeladi berbagai ide politik-melainkan tak lebih dari arena amatir orang-orang partai yang cuma mau pamer penampilan diri?

Nasihat Panji Tengkorak kepada si cantik Walet Merah yang terkecoh oleh ideologi kepengemisan para peminta-minta itu-seperti dikutip Seno: “Orang-orang asing itu memang harus dienyahkan, tetapi bukan berarti kau harus mati-matian membela mereka… Aku khawatir kau hanya diperalat.”

Kita bukan Panji Tengkorak atau Walet Merah, kita punya pertimbangan politis sendiri untuk menyikapinya. *

********

Kolom/Artikel Tempo.co