Polisi

0
34 views

Bandung Mawardi, Esais

Garut News ( Rabu, 28/01 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).

Pada 1920, terbit Hikajat Kadiroen garapan Semaoen. Pada halaman-halaman awal, Semaoen menceritakan “mantri polisi jang bidjaksana”. Si polisi bertugas menangani kasus pencurian ayam di rumah pejabat.

Si tokoh polisi berusia 20 tahun. Ia adalah “pemoeda jang amat bidjaksana”. Kasus pencurian diurusi dengan dugaan bahwa si pencuri adalah hewan garangan, bukan manusia.

Si pejabat tetap memastikan bahwa si pencuri adalah manusia. Dugaan polisi mengacu pada pengamatan: pintu kandang rusak dan pada pintu terdapat goresan-goresan seperti bekas cakaran kuku garangan.
Dugaan itu dimentahkan. Polisi harus menerima anggapan bahwa si pencuri adalah manusia. Polisi bijaksana dalam dilema itu bernama Kadiroen.

Kasus pun bertambah dan mengacu ke pengaduan warga. Kadiroen mesti menangani kasus pencurian kerbau. Informasi diperoleh bahwa pencurian kerbau terjadi karena si pelaku kalah judi.

Kerbau dicuri untuk mendapatkan tebusan uang. Pelaku pencurian memberitahukan kepada si pemilik kerbau agar memberi tebusan.

Peringatan lanjutan: “Dan ingat, djangan sekali-kali kamoe berani lapor polisi. Sebab kalau berani lapor polisi, lain kali kaoe akan koeboenoeh!”

Kita mengerti bahwa polisi pada awal abad ke-20 bertugas menjaga ketertiban dan meladeni pelbagai kasus kejahatan. Polisi menjadi profesi terhormat. Di mata warga, polisi ditakuti dan disegani.

Puluhan tahun berlalu. Orang-orang mungkin membaca lagi Hikajat Kadiroen atau mengingat Semaoen sebagai sastrawan, tak cuma tokoh Partai Komunis Indonesia.

Episode menjelang berakhirnya rezim Orde Baru, kita mendapat puisi-puisi bernada protes dari Wiji Thukul. Si lelaki kurus asal Jagalan, Solo, Jawa Tengah itu menjadi incaran polisi dan penguasa.

Puisi-puisinya telah membuat onar serta mengganggu ketertiban alias stabilitas politik. Wiji Thukul raib, tapi puisi-puisinya terus bersuara, mengisahkan Indonesia.

Warisan puisi berjudul Wani, Bapakmu Harus Pergi, dimuat dalam buku kecil Para Jenderal Marah-marah, bingkisan dari Tempo edisi 13-19 Mei 2013.

Bagi Wiji Thukul, polisi adalah sosok penangkap dan pembungkam suara-suara protes. Polisi bertugas demi penguasa.

Situasi Indonesia pada 1998 memang gawat. Polisi mengurusi demonstrasi. Para aktivis dicari dan ditangkap. Kalangan pujangga dan cendekiawan berseru untuk perbaikan bangsa dan negara.

Seruan pun mengarah ke reformasi kepolisian. W.S. Rendra, melalui puisi berjudul He, Remco… mengingatkan peran polisi dalam gerakan demonstrasi mahasiswa.

Rendra menulis: Lalu polisi melepas tembakan./ Politik? Politik?/ Berapa persen dari polisi tahu politik?/ Siapa bisa menggambarkan/ perubahan ke arah perbaikan yang mendasar/ setelah ada pembunuhan dan pembantaian?

Rendra berharap kepolisian insaf, berbenah demi kepentingan bangsa dan negara. Ah, penulis jadi ingat buku tebal berjudul Merenungi Kritik terhadap Polri (1995).

Buku ini berisi kliping artikel dan tajuk rencana tentang polisi yang berasal dari koran-koran di Indonesia. Soeharto memberi sambutan berisi nasihat, “Saya minta Polri terus meningkatkan kemampuan dan citranya, sehingga polisi berwibawa dan dicintai rakyat.”

Sekarang, kita sedang membuat kliping baru bertema polisi, berharap menjadi referensi untuk menggenapi ingatan atas imajinasi terhadap polisi sejak awal abad ke-20.

Kliping masih terus bertambah dari ke hari. Semoga isi kliping tersebut perlahan memuat berita baik dan melegakan. Amin. *

*********

Kolom/Artikel Tempo.co