Piyadasi

0
38 views

Garut News ( Ahad, 07/06 – 2015 ).

Ilustrasi. (Repro Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Repro Foto : John Doddy Hidayat).

Di pilar batu karang setinggi 15 meter itu terpahat 14 titah yang tak mati-mati. Diukir pada abad ke-2 sebelum Masehi, sabda itu datang dari Piyadasi, atau Devanampiyadasi, raja yang membawahkan wilayah yang kini jadi bagian utama India.

Hampir semua barisnya mempesona, tapi yang terasa menggugah adalah titah yang ke-7:

Baginda Devanampiyadasi berkehendak semua agama ada di mana saja, sebab semua menghendaki pengendalian diri dan kemurnian hati.

Kemudian diketahui sebutan lain Devanampiyadasi adalah Asoka-nama yang kini praktis terkait dengan “perdamaian”, penanda yang mengacu kepada tauladan Buddhisme. Kita kagum, karena titah itu dari seorang raja yang justru meyakini agamanya sendiri.

Baginda Devanampiyadasi menghormati para pertapa dan pemangku rumah tangga dari semua agama, dan ia menghormati mereka dengan berbagai anugerah dan kehormatan.

Tapi Baginda tak menghargai anugerah dan kehormatan sebagaimana ia menghargai ini: ketika orang menumbuhkan apa yang hakiki dalam agama. Orang menumbuhkannya dengan cara yang berbeda-beda, namun semuanya berakar pada pengendalian diri dalam bicara, baik ketika memuji-muji agama sendiri, ataupun ketika mengecam agama orang lain.

Siapa pun yang memuji agamanya sendiri, karena kebaktiannya yang sungguh-sungguh, dan mengecam agama lain dengan niat “Biar kuagungkan agamaku sendiri”, hanya akan melukai agama sendiri.

Orang harus mendengarkan dan menghargai keyakinan yang dipeluk orang lain. Baginda Piyadasi ingin agar semua orang belajar bersungguh-sungguh ajaran yang baik dalam agama lain.

Dibaca di hari-hari ini, ketika kecurigaan antar-agama jadi kebencian, saya tak tahu bisakah keinginan raja yang baik hati itu bertahan.

Titah Asoka pernah tenggelam selama 700 tahun, sampai pada 1915, setelah para arkeolog menemukan sebuah pilar yang tersisa yang menyebut namanya. Kemudian Republik India mengadopsi lambang perdamaian Asoka yang Buddhis itu ke desain bendera nasional, meskipun mayoritas penduduk beragama Hindu.

Tentu karena maknanya melintasi batas apa pun. Dari Tibet, dan di pengasingannya, Dalai Lama mengutarakan pesan yang sejajar dengan titah perdamaian di pilar karang itu.

Tapi jangan-jangan tak ada efek besar yang terjadi. Jangan-jangan pesan Piyadasi sederet klise yang mudah disingkirkan. Di awal abad ke-21, persisnya 30 Mei yang lalu, BBC menyiarkan sebuah reportase tentang Buddhisme yang berbeda-yang keras dan kelam.

Di sebuah kuil kecil di bagian pinggir Kota Kolombo, Sri Lanka, kita dipertemukan dengan Galagoda Aththe Gnanasara Thero. Di atas jubah warna merah menyala itu kita bertatapan dengan wajah yang angker. Kita segera tahu rahib ini bukan titisan Asoka.

Asoka mengirim pesannya ke seluruh penjuru, dengan bahasa Brahmi maupun Yunani dan Aramaik, dengan kepercayaan bahwa ada yang akan mempersatukan manusia dalam perbedaan yang besar. Sebaliknya Gnanasara Thero. Ia bersiteguh: Buddhisme-nya adalah nasionalisme dengan dasar ethnis.

Ia orang Sinhala yang merasa jadi “pribumi” Sri Lanka. Baginya, negerinya sedang dihancurkan “orang luar”-artinya orang Tamil dan muslim.

“Kami mencoba kembali ke negeri bangsa Sinhala,” kata Gnanasara Thero. “Kita akan siap berkelahi, sampai itu tercapai.”

Ia pun membentuk BBS, Bodu Bala Sena, organisasi yang sejak 2012 aktif ke jalan-jalan. BBS menyerbu tempat muslim menyembelih hewan, atau bahkan mendemo sebuah fakultas hukum karena dianggap hasil ujian telah dipelintir untuk mengutamakan mahasiswa muslim.

Tak hanya itu. Wartawan BBC, Charles Haviland, berkunjung ke kota kecil Aluthgama. Juni 2014, tiga orang tewas setelah Bodu Bala Sena menyelenggarakan rapat anti-muslim di kota itu.

Haviland bertemu dengan keluarga muslim yang rumahnya habis dibakar dan tinggal di gedung sekolah sebagai pengungsi.

Muslim adalah asing, kata Gnanasara, sambil melupakan bahwa muslim telah berabad-abad berakar di negeri itu.

Tapi BBS juga melakukan kekerasan terhadap orang seagama yang tak sependapat. Vijitha Thero, seorang pendeta Buddha, diculik karena ia menentang aksi-aksi anti-minoritas. Ia dibikin tak sadar dan disunat secara paksa.

Ketika pendeta itu mengungkapkan keluhan masyarakat muslim dalam sebuah konferensi pers, para anggota BBS menyerbu. Gnanasara mengancamnya: “Jika kau terlibat lagi dengan perbuatan khianat yang bodoh, kau akan diambil dan dibuang ke Sungai Mahaweli.”

Dan orang pun bergidik: di sungai itu, pada 1989, puluhan mayat terapung-apung setelah 60 ribu oposan pemerintah musnah.

Tampaknya di tiap agama kita ketemu Gnanasara, tokoh yang beriman-dengan iman sebagai dasar pembersihan dan penaklukan.

Asoka sendiri bermula sebagai penguasa yang bengis. Seorang pengelana dari Tiongkok, Yuan Chwang, mencatat di kerajaan India itu ada sebuah penjara yang disebut “Neraka Asoka”. Tapi raja ini punya nasib dan pekerti yang lain.

Suatu hari ia menyaksikan seorang suci yang dihukum di dalam air mendidih dan menerima nasibnya dengan tenang. Pada waktu itu pula pasukan kerajaan membantai suku Kalinga habis-habisan. Kekejaman itu akhirnya kesia-siaan dan penaklukan itu kekosongan-dan sejak itu Asoka berubah.

Ia menemukan apa yang tenggelam di bawah takhta dan nafsu berkuasa: sifat sakral dunia sehari-hari. Yang sakral hadir ketika kita merenung, peka, dan bertanya, “berpikir bukan dalam arti menghitung-hitung,” kata Julia Kristeva, bukan dalam niat menguasai makhluk yang lain.

Dan ketika yang sakral kembali, hidup pun dengan bersahaja disyukuri.

Goenawan Mohamad

********

Tempo.co