Piala Dunia dan Teater Dramatik

Hari Prasetyo, hariprasetyo@tempo.co.id

Jakarta, Garut News ( Rabu, 08/01 – 2014 ).

Ilustrasi, Anak-Anak Ini Kerap Menjadikan Pelataran Lapangan Setda Kabupaten Garut, Jabar, Sarana Bermain Sepakbola, Setiap Sore. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Anak-Anak Ini Kerap Menjadikan Pelataran Lapangan Setda Kabupaten Garut, Jabar, Sarana Bermain Sepakbola, Setiap Sore. (Foto: John Doddy Hidayat).

Selepas tahun baru, hati Mas Bro gelisah, seraya menanti apakah permohonan akreditasi peliputannya untuk putaran final sepak bola Piala Dunia 2014 di Brasil, 12 Juni-13 Juli, diterima atau tidak.

Indonesia, tempat wartawan yang satu ini bermukim, tidak mengirimkan tim nasionalnya.

Tapi hal itu bukan halangan buat Mas Bro dan kawan-kawan untuk terlibat penuh dengan puncak pergelaran cabang olahraga terpopuler di dunia ini.

Hidup pada tahun ini bisa lebih sulit karena berbagai tekanan.

Tapi sebagian besar warga di dunia tak akan melewatkan Piala Dunia.

Di pentas ini, orang bisa melepaskan kepenatan hidupnya.

Semacam katarsis, sarana untuk melepaskan segala emosi yang ditahan-tahan sebelumnya.

Kegembiraan pendukung tim Belanda di sebuah kafe di Amsterdam juga dirasakan suporter tim Oranye di warung pinggir Jalan Bulungan, Jakarta Selatan, ketika kesebelasan kesayangan mereka mengalahkan Brasil di semifinal Piala Dunia 2010.

Mereka menonton dari tayangan televisi melalui layar lebar di pinggir Jalan Bulungan.

Perasaan “demam” menuju Piala Dunia ini sebenarnya secara teratur setiap empat tahun sudah diawali kegiatan persepakbolaan di liga-liga di Eropa.

Nama-nama klub, seperti Manchester United, Barcelona, dan Bayern Muenchen, melekat di hati warga dunia.

Tak salah kalau tim Manchester United menjuluki stadion kebanggaan mereka di Old Trafford sebagai The Theatre of Dream.

Teater atau theatrondari bahasa Yunani dalam arti sempit memang berarti tempat untuk menonton.

Tapi, sepak bola dan Piala Dunia berpentas empat tahun sekali sudah menjadi teater global.

Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Neymar, dan Mesut Oezil, misalnya, adalah aktor-aktor di lapangan hijau yang melekat di hati penggemar sampai di pelosok jauh nun di Karanglo, Malang.

Adapun Luiz Felipe Scolari, Vicente del Bosque, Joachim Loew, dan sederet nama pelatih lain merupakan sutradara tersohor.

Bersama sutradara Scolari, kita bisa berharap sang aktor, Neymar, bisa memimpin Brasil menjadi juara dunia.

Dengan tim Samba menjadi kampiun, kita bergembira sejenak melupakan keruwetan di dunia.

Ada kalanya sutradaranya kurang ternama, tapi memiliki aktor sehebat Ronaldo, sehingga bisa mengubah nasib tim seperti Portugal untuk menjadi “kuda hitam” di Brasil.

Ekspresi serta tingkah mereka di dalam dan luar lapangan mengharukan atau menggemaskan pemirsanya.

Piala Dunia ini sejenis teater dramatik bila melihat fungsinya sebagai katarsis.

Ini dari teori tragedi Aristoteles.

Teori teater yang berlawanan datang dari Berthold Brecht, yang menyuguhkan teater epik.

Dalam konsep terakhir tersebut, keterlibatan emosional atau empati terhadap pentas dihindarkan, supaya kita sadar bahwa “ini hanya sekadar teater”.

Dengan demikian, mereka disadarkan tentang kehidupan di sekelilingnya.

Tapi sebagian dari kita mungkin lebih menyukai Piala Dunia sebagai teater dramatik.

Di Argentina 1978, misalnya, rakyat Argentina sejenak melupakan rezim pemerintahan militer untuk bersorak bersama Mario Kempes dkk yang meraih juara.

Di Brasil pun, protes atas berbagai ketimpangan akan surut seiring dengan semakin dekatnya pergelaran teater sepak bola ini.

***** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment