Petualang Kekuasaan

0
31 views
Arif Supriyono, wartawan Republika. (Dokumen pribadi).

Selasa , 05 December 2017, 05:47 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Arif Supriyono, wartawan Republika

Arif Supriyono, wartawan Republika. (Dokumen pribadi).

Mencoba pengalaman baru tentulah sesuatu yang memiliki daya tarik tersendiri bagi banyak orang. Apalagi bila pengalaman baru itu memiliki tantangan yang berbeda dan tak lazim atau menarik, maka bagi orang yang berjiwa tangguh dan bernyali, hal itu akan menumbuhkan minat yang besar.

Menempuh pengalaman baru dan kemudian berhasil mewujudkan harapannya, biasanya kepuasanlah yang akan didapat. Tak sedikit pula orang yang ketagihan untuk senantiasa mencoba hal-hal baru. Bukan tidak mungkin pula, orang lain yang semula tak terlalu tertarik dengan hal-hal baru akan ikut-ikutan untuk mencobanya.

Sebuah keberhasilan pada dasarnya akan mengundang minat orang lain untuk mencoba. Bila ada contoh yang berhasil saat mencoba hal baru, biasanya akan dijadikan pedoman bagi orang lain untuk berbuat hal yang sama.

Walau sesuatu yang baru itu terkadang juga menyimpang dari aturan yang ada, bila itu tak mendapat sanksi apa pun, maka hal tersebut akan menjadi acuan orang untuk melakukan hal serupa di kemudian hari. Istilah kerennya, itu akan menjadi preseden. Jika ada contoh di masa lalu yang berkaitan dengan hukum/aturan yang bersifat baru, lazimnya itu dijadikan pegangan untuk kasus-kasus serupa yanng terjadi di masa berikutnya.

Melakukan pengalaman baru yang menarik dan menantang itulah yang biasa disebut petualangan. Ada kalanya, petualangan membawa risiko. Namun tak sedikit petualangan yang memberi keberhasilan dan kenikmatan tersendiri. Orang yang (acap) melakukan petualangan inilah yang disebut sebagai petualang. Terkadang, orang yang sekadar ikut-ikutan pun sudah disebut sebagai petualang.

Sejatinya, makna petualang bersifat netral. Artinya, kata itu bisa berkonotasi positif atau memberi makna negatif. Perbedaan makna itu tergantung pada kata yang mengikutinya.

Petualang rimba misalnya, merupakan orang yang senang keluar-masuk hutan belantara untuk mencari hal-hal baru atau pengalaman yang seru. Demikian pula istilah petualang alam bebas atau petualang laut lepas. Orang masih memberikan nilai positif terhadap aktivitas atau orang yang terlibat di kegiatan tersebut.

Akan berbeda maknanya jika kita menyebut petualang cinta. Hal berbau negatif akan menyelimuti makna dari kata tersebut. Petualang cinta bisa dianggap sebagai orang yang mengumbar cinta kepada banyak orang hanya semata-mata mencari kepuasan diri atau pengalaman bercinta saja. Petualang cinta tak akan terlalu peduli dengan kondisi orang yang dijadikan pelabuhan cintanya.

Orang yang hanya membual terhadap lawan jenisnya (biasanya terhadap perempuan) dengan rayuan cinta yang maut, juga bisa disebut petualang cinta. Tak lama kemudian, petualang cinta ini lazimnya akan mencari terminal baru untuk menambatkan hatinya ke lain orang. Pendek kata, dia akan selalu mencari korban untuk memuaskan cinta palsunya kepada yang lain.

Ada pula istilah petualang politik. Ini juga memberi konotasi buruk bagi si empunya gelar. Person atau sosok yang sering-sering pindah partai politik hanya, demi pertimbangan mencari jabatan, akan mendapat julukan sebagai petualang politik.

Sang petualang politik bisa juga meloncat ke partai lain karena ingin mencari selamat atau berlindung di balik kekuasaan yang dimiliki oleh pertai tersebut. Mungkin saja petualang itu sedang memiliki banyak persoalan. Dengan bergabung bersama partai tertentu, keberadaannya akan lebih terjamin dan aman dari ancaman masalah yang membelitnya.

Belakangan ini, saya menangkap ada kecenderungan bagi seseorang untuk menjadi petualang kekuasaan. Orientasi orang ini semata-mata hanyalah mengejar kekuasaan yang lebih besar. Meski mendapat posisi atau amanah yang penting untuk dijalankan, ia tetap akan meloncat dan mencari posisi atau kekuasaan yang lebih tinggi lagi.

Orang semacam ini tak terlalu peduli dengan kehendak rakyat yang telah memberinya amanah. Jika teguh memegang amanah, maka orang itu akan menylesaikan kewajibannya untuk memenuhi tugas dan dipikulnya. Ia tak hendak mengabaikan kepercayaan yang didapatnya dari rakyat. Tujuan hidupnya semata hanya inngin mewujudkan rakyat yang telah mendukung atau memilihnya sebagai pemimpin.

Petualang politik juga akan abai terhadap janji yang telah diikrarkan pada khalayak luas. Janji-janji untuk memegang amanah atau jabatan hanya dianggap bunga-bunga pelengkap dari program dan daya pikat yang ditawarkan pada masyarakat pemilih atau konstituennya. Oleh karenanya, kewajiban untuk memenuhi janji bukan lagi sebagai hal yang wajib dilaksanakan. Janji hanya dianggap sebagai upaya. Kalau upaya itu sengaja tak dipenuhi, bukan suatu hal yang perlu dipersoalkan.

Berharap banyak kepada petualang politik tentu akan sia-sia. Ya karena orientasi mereka bukanlah pengabdian kepada rakyat tetapi bagaimana cara mendapatkan kekuasaan yang lebih tinggi. Setiap tokoh pada dasarnya ingin bisa menduduki jabatan strategis atau tinggi. Hal itu dianggap sebagai puncak pencapaian atau prestasi tertinggi dalam kiprahnya di panggung politik. Akan tetapi, mestinya mereka juga tidak mengabaikan etika dan norma yang ada.

Apabila memang ada ketentuan mereka menjabat selama lima tahun, mestinya selama itu pula mereka harus melaksanakannya. Kalau tidak bisa memenuhi masa jabatan lima tahun dan kemudian berancang-ancang untuk meraih kekuasaan yang lebih tinggi, maka mereka sebenarnya telah melakukan kebohonngan publik. Lebih ekstrem lagi, mereka mengingkari aturan (undang-undang) yang menetapkan, bahwa masa kerjanya adalah lima tahun.

Ya saya memang sedang menyoroti elite politik kita yang begitu mudahnya tergiur untuk mencari posisi lebih tinggi dengan menanggalkan jabatan yang sedang diembannya dan belum ditunaikan setengah jalan. Saya menganggap ini contoh yang tidak baik. Elite politik model ini saya samakan dengan petualang kekuasaan. Nalurinya hanya ingin mengejar kuasa yang lebih tinggi dan ini berdampak pada rakyat yang telah memilihnya.

Harapan rakyat agar terpenuhi hajat hidupnya dengan lebih baik, saat memilih pemimpin tersebut, menjadi sia-sia. Hanya dua tahun menjabat sebagai penguasa, tentu tak banyak yang bisa diwujudkan terhadap janji-janji yang dengan suara lantang diungkapkan di depan publik. Bukan tak mungkin pula banyak masyarakat yang menjatuhkan pilihannya lantaran janji-janji manis yanag ternyata palsu belaka itu.

Saya berharap masyarakat mulai mempersoalkan tentang keharusan memenuhi masa jabatan kepala daerah dalam menjalankan amanahnya. Bila masyarakat tak peduli, saya yakin di masa mendatang akan makin banyak kepala daerah yang tinggal glanggang colong playu di tengah jalan terhadap sianggasana yang didudukinya untuk berburu posisi yang lebih tinggi.

Pemerintah pun perlu memikirkan jalan keluar terbaik, misalnya membuat aturan yang mewajibkan kepala daerah untuk menjabat minimal 4 tahun. Sebelum masa itu, kepala daerah tak diperkenankan mundur hanya untuk berlari kencang menyentuh finis sebagai pejabat dengan tingkat dan kekuasan yang lebih tinggi. Calon kepala daerah harus sepenuhnya menyadari, bahwa dia dipilih untuk masa jabatan lima tahun, kecuali di tengah jalan mengalami kondisi darurat atau memaksa (misalnya ketidakberdayaan menyeluruh, sakit berkepanjangan, dan pelanggaran mendasar). Dia harus menerima konsekuensi, bahwa bila sudah menjabat kepala daerah, maka tak akan melirik posisi lain sampai selesai masa jabatan yang dipikulnya.

Akan jauh lebih baik bila etika dan norma ini ditegakkan. Semua hal yang sudah terjadi maupun contoh buruk dalam hal meninggalkan jabatan di tengah jalan, mungkin bisa kita maklumi saja. Ibaratnya, yang lalu biarlah berlalu. Anggap saja itu proses pembelajaran bagi jalan panjang demokrasi yang akan kita tempuh.

Selanjutnya, hendaknya jangan terus kita menyediakan lahan subur bagi tumbuh dan lahirnya para petualang kekuasaan. Harus ada upaya serius untuk memperbaiki kondisi ini dan menghentikan jejak langkah para petualang kekuasaan.

*********

Republika.co.id