Petasan

Toriq Hadad
@thhadad

Garut News ( Ahad, 05/01-2014 ).

Ilustrasi, Mercon. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Mercon. (Foto: John Doddy Hidayat).

Selamat tahun baru.

Konon tahun yang kita masuki ini adalah Tahun Kuda Kayu.

Orang-orang yang ber-shio kuda, menurut budaya Tionghoa, biasanya tangkas, berpikiran bebas, independen, dan pintar mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu.

Aktor laga Jackie Chan, investor dan spekulator George Soros, serta mantan wapres Jusuf Kalla, termasuk yang ber-shio kuda.

Percaya atau tidak, tak jadi masalah.

Tak perlu pula dipersoalkan cara kita menandai malam pergantian tahun ini.

Mau berzikir semalam suntuk, itu baik dan terpuji.

Berdoa memuliakan Tuhan bisa dilakukan kapan saja, termasuk di malam pergantian tahun.

Mau nonton musik, berjoget sampai pagi, itu juga hak asasi.

Hasrat orang mengejar bahagia, tanpa mengganggu yang lain dan tanpa melawan hukum, sama sekali tak boleh dihalangi.

Saya memilih bersarung di rumah malam itu.

Badan meluang, tulang-tulang rasanya copot–meniru lagu Benyamin S. di tahun 70-an.

Tapi niat tidur lebih cepat malam itu berantakan.

Gara-gara menonton televisi, kantuk saya lenyap mendengar laporan penggerebekan “teroris” di Graha Ciputat.

Tempat itu letaknya bertetangga dengan kecamatan tempat saya tinggal.

Tapi bukan itu yang mengganggu saya.

Setiap kali polisi menyerbu mereka yang disebut “teroris” itu, saya selalu miris.

Bukan tak percaya cerita penyerbuan versi polisi.

Tapi wartawan seharusnya selalu melakukan check dan re-check.

Keterangan dari satu pihak wajib di-cross check dengan pihak lain agar lebih mendekati kebenaran.

Susahnya, dalam hal “teroris”, hampir semua keterangan datang hanya dari satu pihak, yaitu polisi.

Saya tak meragukan kesungguhan polisi bekerja.

Polisi juga mempertaruhkan nyawa menghadapi kelompok “teroris” itu.

Tapi wartawan biasanya tak mewawancarai korban hidup atau keluarga mereka yang diburu itu.

Keterangan satu pihak itu menyebabkan berita tak seimbang.

Bahasa jurnalistiknya, tidak cover both sides.

Maka, selama wartawan belum bisa meliput kedua sisi, saya memilih menuliskan dalam tanda petik: “teroris”.

Di layar kaca, pada malam tahun baru itu, setiap kali wartawan televisi melaporkan terdengar suara tembakan, saya tak bisa membedakan suara itu dengan bunyi petasan meledak.

Maklum saja, malam itu suara senapan menyalak seperti senyap ditelan ledakan ribuan petasan.

“Pesta” petasan tahun ini terasa lebih hebat daripada tahun-tahun sebelumnya.

Di kampung saya saja, sejak dua jam menjelang tengah malam, petasan aneka rupa sudah bersahut-sahutan di angkasa.

Harga satu petasan yang bisa menaburkan bintang di udara berkisar seratus sampai dua ratus ribu.

Mungkin di seluruh Kecamatan Pamulang saja sudah lebih dari seratus juta rupiah dibakar pada malam tahun baru itu.

Berapa banyak uang dihanguskan semalaman itu di Tangerang Selatan, di seluruh Banten, di Jakarta, di seluruh provinsi Indonesia?

Bisa-bisa jumlahnya puluhan atau ratusan miliar rupiah.

Rupanya, sulit menghapus tradisi bakar petasan yang sudah begitu mengakar ini.

Pemerintah VOC Belanda, menurut majalah Historia, pada 1650 pernah melarang karena hampir sama suaranya dengan senapan “pemberontak”.

Presiden Soeharto pada 1971 juga hanya mengizinkan petasan “cabe rawit”.

Larangan terbit setelah Gubernur Jakarta Ali Sadikin menyulut berton-ton petasan menandai pergantian tahun itu.

Sial, korban berjatuhan malam itu, beberapa sampai tewas.

Toh, dengan berjalannya waktu, larangan itu luntur.

Sampai sekarang, kalau ada sunatan atau perkawinan, si empunya hajat akan membakar petasan.

Semakin kaya yang punya gawe, semakin panjang mercon yang dibakar.

Dulu, di Tiongkok, petasan menandai awal pertunjukan ketangkasan silat.

Sekarang, di sini, petasan dibakar demi gengsi sang sahibul hajat.

Mungkin juga sebagai tanda bersyukur lantaran mampu menggelar hajatan.

Tapi di akhir malam 2013, dengan ekonomi yang jauh merosot dari tahun sebelumnya, tak ada yang perlu kita syukuri dengan membakar mercon.

Barangkali meledakkan petasan lebih cocok dianggap cara buang sial atas apa yang terjadi pada 2013.

Setelah sial dibakar habis dengan ongkos selangit, semoga tak ada lagi menteri, gubernur, orang-orang terhormat, yang masuk bui akibat korupsi di tahun baru ini.

***** Tempo.co

Related posts

Leave a Comment