Petani Penggarap Kawasan CA/TWA Diingatkan Tinggalkan Garapannya

0
8 views
Dodi Arisandi Mengingatkan.
Kondisi Lingkungan Sangat Mengenaskan Seputar Kamojang.

“Terpaksa Melakukan Penindakan Hukum Pelaku Perambahan Hutan”

Garut News ( Rabu, 06/11 – 2019 ).

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut pada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar, Dodi Arisandi mengingatkan para petani penggarap lahan di dalam kawasan ‘cagar alam’ (CA) maupun ‘taman misata alam’ (TWA). Khususnya, kawasan Seksi Wilayah V Garut agar segera meninggalkan lahan garapannya.

Guna menjaga kelestarian keberadaan kawasan hutan CA sesuai fungsi kawasan konservasi, sekaligus mencegah, dan mengatasi aktivitas perambahan pada kawasan tersebut.

Menyosialisasikan Penanganan Perambahan Perkebunan Tanpa Izin CA Kawah Kamojang di Gedung PT Pertamina Kamojang, Rabu (06/11-2019).

“Petani pembuka lahan kebun di kawasan CA, silahkan turun. Kalau sedang atau akan panen, silakan panen duhulu kemudian turun. Kalau hendak menggarap lahan, silahkan masuk ke Perhutanan Sosial (Perum Perhutani)” imbuh Arisandi yang menyosialisasikan Penanganan Perambahan Perkebunan Tanpa Izin CA Kawah Kamojang di Gedung PT Pertamina Kamojang, Rabu (06/11-2019).

Dikemukakan, sesuai ketentuan perundang-undangan. Kegiatan apapun apalagi pembukaan lahan kawasan CA itu merupakan hal terlarang. Sedangkan, di kawasan TWA diperbolehkan ada kegiatan namun bukan kegiatan pertanian melainkan sebatas pemanfaatan potensi kawasan tanpa mengurangi atau mengubah fungsi kawasannya, di antaranya kegiatan wisata jasa lingkungan.

Berlangsung Persuasif, juga Edukatif.

“Mau buka kegiatan di TWA, silahkan, namun bukan bertani sayur melainkan menggali potensi wisata,” imbuh Dodi pula.

Jika petani mengalihkan garapannya ke lahan Perum Perhutani berpola Perhutanan Sosial, maka jenis pohon ditanam pun tanaman keras penunjang upaya konservasi. Antara lain tanaman kopi maupun buah-buahan.

Perhutanan Sosial, ungkapnya merupakan transformasi pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan di bawah pengelolaan Perum Perhutani dari sebelumnya berpola ‘Pemberdayaan Hutan Bersama Masyarakat’ (PHBM).

Pegiat lingkungan asal Tanggulun Ibun Bandung, Mamat menyatakan mengapresiasi langkah tersebut, malah mendukungnya.

Ditegaskan, pihaknya selama sebulan ini terus melakukan sosialisasi ke masyarakat petani penggarap serta setiap stakeholder supaya tak melakukan aktivitas perambahan di kawasan CA maupun TWA. Seperti di CA & TWA Kamojang, CA & TWA Papandayan, CA & TWA Gunungapi Guntur, CA & TWA Talaga Bodas, serta CA & TWA Leuweung Sancang.

Apabila selama rentang waktu sebulan ini, para petani penggarap tak juga mengindahkan pelbagai peringatan disampaikan, maka dalam operasi penanganan perambahan hutan kawasan itu, pihaknya bersikap tegas. Pihaknya terpaksa melakukan penindakan hukum terhadap para pelaku perambahan hutan tersebut.

Dia katakan, luas lahan terjadi perambahan di kawasan CA & TWA Papandayan terutama Bandung Selatan saja kini mencapai sekitar 300 hektare, dan di kawasan CA & TWA Kamojang 150 hektare. Umumnya lahan di dalam kawasan CA & TWA ini diubah menjadi lahan sayuran.

“Jika perambahan dibiarkan, kondisi hutan kita rusak, dan bisa menimbulkan bahaya besar. Sumber mata air juga rusak bahkan hilang. Kita berharap semua stakeholder satu pintu dalam menangani perambahan hutan,” tandasnya.

Adanya rencana operasi penanganan perambahan hutan dilakukan BBKSDA Wilayah V Garut itu, pegiat lingkungan asal Tanggulun Ibun Bandung, Mamat menyatakan mengapresiasi langkah tersebut, malah mendukungnya.

Ditegakan, merajalelanya perambahan hutan di pelbagai kawasan hutan konservasi maupun hutan lindung selama ini justru terutama akibat lemahnya penegakan hukum.

“Kemarin juga, Menteri datang ke sini, ternyata hanya memberikan sertifikat bagi pemilik IPHPS. Padahal yang kita minta penegakan hukum,” bebernya.

Ilutrasi. Kebakaran.

“Kebakaran Kamojang”

Kebakaran melanda lahan kawasan Perum Perhutani KPH Garut sekitar Kamojang, Kampung Cikoleang Sukakarya Samarang, Rabu (06/11-2019).

Kebakaran pada sekitar lintasan Jalan Raya Kamojang menghubungkan Samarang Garut dengan Ibun Bandung itu, sempat mengakibatkan sejumlah pengendara melintas melambatkan laju kendaraan. Jarak pandang terbatas lantaran terganggu kepulan asap kebakaran cukup tebal.

Kondisi cuaca panas berangin bertiup cukup kencang menjadikan api cepat melalap beragam tanaman rumput ilalang, dan perdu kering di sekitarnya.

Beberapa pegawai Cabang Dinas Kehutanan Garut pada Dinas Kehutanan Provinsi Jabar kebetulan melintas juga sempat menghentikan kendaraan, dan turun melihat situasi. Nyaris tak ada yang bisa dilakukan memadamkan api selain berupaya membuat sekat bakar sederhana agar api tak menjalar lebih luas.

Sejumlah petugas Perhutani, dan warga juga terlihat berupaya mengendalikan api kebakaran tersebut.

Belum diketahui sumber api penyebab kebakaran pada lahan Perhutani sekitar satu hektare ini.

“Sebenarnya kebakaran di sini terjadi sejak kemarin (Selasa, 05/11-2016), dan sempat padam. Tetapi kemungkinan masih ada bara api kemudian membesar terpicu udara panas, dan angin. Sekitar pukul 11.00 WBI, kebakaran terjadi lagi,” kata Asep S (35) warga setempat.

********

(Abisyamil, JDH/Fotografer : John Doddy Hidayat).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here