Raibnya 15.531.375 Kg GKG Hilangkan Rp85.422.563.050 Penghasilan Petani Garut

0
25 views
Endang Junaedi.
Areal Persawahan di Kecamatan Cibatu Garut.

“3.129 hektare areal persawahan diterjang kekeringan”

Garut News (Jum’at, 13/09 – 2019 ).

Raibnya produksi 15.531.375 Kg GKG menjadikan petani padi sawah di Kabupaten Garut, Jawa Barat, hingga 13 September 2019 kehilangan  penghasilannya mencapai  Rp85.422.563.050 dengan asumsi harga GKG Rp5.500 per kilogram,-

“Lantaran 3.129 hektare areal persawahan diterjang kekeringan kemarau panjang, yang juga mengancam 2.525 hektare lainnya,” ungkap Kepala Seksi Serealia Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian setempat, Endang Junaedi.

Terdiri kerusakan ringan 326 hektare hilangkan penghasilan Rp2.654.088.250, kerusakan sedang 377 hektare bernilai Rp6.138.596.750 kemudian rusak berat 486 hektare (Rp13.452.808.050, serta berdampak puso atau gagal panen 1.940 hektare menghilangkan penghasilan terbesar mencapai Rp63.177.070.000,-

Kepada Garut News di ruang kerjanya, Jum’at (13/09 – 2019 ), katakan ada 620 hektare yang bisa tertangani dengan gerakan-gerakan pompanisasi, juga memanfaatkan  sumber-sumber air tersedia bersistim gilir-giring atau penjadwalan terutama pada daerah-daerah irigasi.

“Sedangkan pertanaman padi yang masih ada di lahan sawah 21.818 hektare dengan usia bervariasi, akibat tanam ‘tidak serempak’ ini banyak kelemahan,” katanya ‘berteori’.

Besarnya kehilangan penghasilan petani itu, berdampak sosial penurunan daya beli terutama bagi 15.645 KK petani gurem yang tergabung dalam 209 kelompok, mereka menghidupi 78.225 anggota keluarga.

Dampak kekeringan juga diperparah serangan hama tikus meranggas 135 hektare dengan menghilangkan produksi 119.900 kilogram GKG bernilai Rp659.451.000 namun 96 hektare gencar dilakukan gerakan pengendalian serangan pololasi hama tikus pada 20 wilayah kecamatan.

Berdasar laporan dampak kekeringan pada 15 hari lalu kehilangan penghasilan petani Rp80.399.334.675  yang hingga 13 September 2019 menjadi Rp85.422.563.050 atau meningkat Rp5.023.228.375,-

Sehingga 15.645 KK petani setiap harinya kehilangan penghasilan Rp334.881.891 atau setiap KK petani setiap hari kehilangan penghasilan Rp21.405,-

“Masih lebih mahal harga sebungkus rokok, meski kerugian sekecil apapun kudu diantisipasi menjadi seminimalis mungkin dengan ragam upaya yang dilakukan,” imbuh Endang Junaedi dengan nada ‘ringan’.

Dampak kekeringan ini pun belum termasuk kehilangan penghasilan dari jenis tanaman hortikultura, juga besarnya kehilangan penghasilan 15.531.375 kilogram GKG disetarakan dengan 9.629.452 kilogram beras bernilai Rp105.923.972.000 dengan asumsi harga setiap kilogram beras Rp11 ribu.

Demikian pula akibat serangan tikus menerjang 119.900 kilogram GKG dengan kerugian Rp659.451.000 disetarakan dengan 74.538 kilogram beras bernilai Rp817.718.000,-

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Haeruman katakan institusinya gencar mengagendakan penanganan kekeringan ke depan maupun yang bisa kembali terjadi pada tahun-tahun mendatang.

Sehingga belum lama ini pun, Kepala Dinas Pertanian setempat Beni Yoga langsung turun gunung berkeliling mencari potensi sumber-sumber air yang bisa dikemas menjadi ’embung’, juga lokasi yang mendesak dibangun sumur artesis di Kecamatan Cibatu.

Dampak Kekeringan di Garut.

“Sedangkan potensi sumber air yang berhasil ditemukan, antara lain di Kecamatan Banjarwangi, Singajaya, Malangbong, dan Kecamatan Pakenjeng,” ungkap Haeruman.

Kepada Garut News di ruang kerjanya, Rabu (11/09-2019), Haeruman juga mengemukakan pemanfaatan potensi sumur artesis bisa sekaligus memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, yang pengelolaannya oleh ‘Badan Usaha Milik Desa’ (Bumdes).

Penanggulangan jangka panjangnya, dengan menggalakan kegiatan penghijauan terutama pada lahan kritis, lantaran berkisar 80 hingga 85 persen wilayah kabupaten ini merupakan kawasan hutan lindung.

“Sehingga kedepannya pertanaman padi pada lahan sawah bisa diselamatkan dari dampak kekeringan akibat kemarau panjang sekalipun,” katanya.

Ragam upaya penanganan dampak kekeringan senantiasa pula dilakukan, termasuk Kepala Dinas Pertanian pun mengikuti ‘Focus Group Discussion’ (FGD) bersama Bupati dan instansi teknis lainnya membahas dampak kekeringan, katanya pula.

“Diperoleh informasi serangan hama tikus di Garut, bertengger pada peringkat ‘trending topic’, namun belum ditemukan nara sumber yang memaparkan keganasan hama tikus di perkantoran Pemkab Garut, tidak ada kali he,,he”.

*******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here