Petani Garut Telan Kerugian Mencapai Rp57,37 Miliar

0
28 views
Rakhmat Jatnika Bersama Endang Junaedi.
Akibat Diterjang Kekeringan Kemarau Panjang.

“Tak Berdampak Pada Tanaman Hortikultura”

Garut News ( Kamis, 01/08 – 2019 ).

Petani di Kabupaten Garut, Jawa Barat, menelan kerugian mencapai Rp57.369.013.075 lantaran 2.486 hektare tanaman padi sawahnya diranggas kekeringan akibat kemarau panjang pada musim tanam 2019 ini.

“Namun hingga akhir Juli 2019, kasus kekeringan tersebut tak berdampak merugikan tanaman hortikultura,” ungkap Kepala Bidang Produksi Tanaman Hortikultura pada Dinas Pertanian kabupaten setempat, Rakhmat Jatnika, SP.MP.

Didampingi Kepala Seksi Serealia, Endang Junaedi mengemukakan sangat besarnya kehilangan produksi padi sawah itu, terdiri 505 hektare kerusakan ringan sebabkan kerugian Rp4.111.394.375.

Pengelola Hortikultura (Jeruk), Dedin Suwandin Amati Tanaman yang Mulai Belajar Berbuah.

Kemudian 492 hektare rusak sedang menelan kerugian Rp8.011.113.000,- disusul 644 hektare rusak berat merugi Rp17.826.354.700,- sedangkan puso atau gagal panen mencapai 842 hektare dengan nilai kerugian Rp27.420.151.000.

“Kekeringan padi sawah yang tersebar pada 266 desa di 41 wilayah kecamatan tersebut, hingga kini gencar diupayakan penanggulangannya. Termasuk hari ini pun digelar rapat pembahasannya,” ujar Rakhmat Jatnika, antara lain menambahkan.

Acap Berkonsultasi Dengan Dinas Pertanian Garut.

“Tiga Kecamatan Diterjang Kekeringan Terparah”

Wilayah Kecamatan Pameungpeuk, Cibatu, dan Cisompet paling parah diterjang kekeringan ini dibandingkan kecamatan lainnya di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Di ketiga wilayah kecamatan tersebut, ada 812 hektare padi sawah diranggas kekeringan milik sekitar 16.240 kepala keluarga petani dengan sedikitnya 48.720 anggota keluarga.

Dari 812 hektare yang diterjang kemarau panjang itu, mencapai 542 hektare di antaranya mengalami gagal panen atau puso milik sekitar 10.840 kepala keluarga petani juga dengan sedikitnya 32.520 anggota keluarga.

Mereka 32.520 anggota keluarga ini yang sekarang mengalami ‘rawan daya beli’, lantaran selain terjadi kerugian produksi diperparah pula kesulitan mencari lapangan pekerjaan untuk sementara beralih profesi.

Demikian  dikeluhkan sebagian besar petani dari ketiga kecamatan tersebut, termasuk Rokhmat (63) kepada Garut News di Cibatu.

Kasus kekeringan paling parah peringkat pertama justru melanda wilayah Kecamatan Pameungpeuk mencapai 310 hektare padi sawah puso milik sekitar 6.200 kepala keluarga petani, yang menghidupi sedikitnya 18.600 anggota keluarga sekarang berkondisi pula rawan daya beli.

Mereka tersebar pada delapan desa, terdiri Desa Pameungpeuk dengan 27 hektare padi sawah gagal panen, Mancagahar (59 hektare), Jatimulya (54 hektare), Bojong (34 hektare), Mandalakasih (56 hektare), Paas (15 hektare), Sirnabakti (44 hektare), serta di Desa Bojong Kidul berakibat 21 hektare padi sawah gagal panen.

Disusul kekeringan paling parah peringkat kedua meranggas 286 hektare padi sawah di Kecamatan Cibatu, 92 hektare di antaranya mengalami gagal panen, 61 hektare rusak berat, 81 hektare rusak sedang, dan 52 hektare rusak ringan, 197 hektare terancam, dengan luas tanaman padi 722 hektare yang tersebar pada 11 desa.

Kemudian kekeringan terparah peringkat ketiga menerjang 216 hektare di Kecamatan Cisompet, 140 hektare di antaranya gagal panen, dan 76 hektare rusak berat, terancam 112 hektare, dengan luas tanaman padi 1.080 hektare yang tersebar pada 11 desa.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here