Petani Garut Masih Ogah Tanam Varietas MSP

0
211 views

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Selasa, 27/10 – 2015 ).

Setia Dampingi Suami.
Setia Dampingi Suami.

Meski dikenalkan cukup lama, tetapi hingga kini minat para petani di Kabupaten Garut, Jawa Barat, terhadap padi varietas MSP masih rendah.

Padahal MSP kerap diklaim varietas unggul memiliki produktivitas tinggi, berusia pendek, tahan hama penyakit, bahkan katanya cocok ditanam di lahan kekurangan air atau lahan kering.

Ketua “Sekretaris Nasional Jaringan Organisasi Komunitas Warga Indonesia” (Seknas Jokowi) Mila Karmila katakan, pada musim kemarau panjang sekarang, pagi MSP masih bisa bertahan dibandingkan jenis padi lain. Produksinya pun, kata dia pula, tetap tinggi.

Rehat Sejenak.
Rehat Sejenak.

“Tanaman tak harus digenangi air, cukup sekadar becek-becek. Karena itu, kita berharap padi MSP ini bisa menjadi benih unggulan dengan perluasan lahan pertanian memadai, sesuai konsep Ketahanan Pangan digaungkan Presiden Jokowi,” kata dia, Selasa (27/10-2015).

Selain berharap jenis padi tersebut diminati petani di Garut, juga mengingatkan Pemkab Garut perlunya perluasan lahan pertanian produktif berkaitan upaya penguatan program ketahanan pangan, terutama padi.

Lantaran, prioritas pembangunan di Garut 2016 justru lebih ke arah pembangunan infrastruktur, dan penguatan perumahan.

“Ini perlu dicermati. Jangan sampai program pembangunan seperti tertuang RJMD Garut tak tersambung dengan RPJMN era Jokowi, tetapi masih mengacu ke RPJMN era SBY,” imbuhnya.

Tingginya produktivitas padi varietas MSP dibenarkan Saepuloh(71), petani Kampung Panunggangan Desa Sukabakti Tarogong Kidul.

Ngawuluku.
Ngawuluku.

Dia mengaku menanam padi jenis MSP pada musim kemarau. Meski awalnya khawatir bakal mati kekurangan air, ternyata sawah miliknya tetap bertahan dan hasilnya bagus.

“Bahkan ada padi jenis lain terselip, ternyata tak tahan kekeringan,” katanya.

Dikemukakan, rata-rata produktivitas padi MSP ditanamnya mencapai sekitar 12-13 ton per hektare. Dia yakin produksinya lebih tinggi lagi jika ada hujan.

Bahkan mengaku sempat memanen padi MSP hingga 16 ton per hektare. Jauh melebihi produktivitas padi varietas lain rata-rata hanya mencapai 7-9 ton per hektare.

“Jadi, padi MSP ini juga tahan di lahan kering. Cocok ditanam di ladang,” katanya pula.

Dikatakan, agar hasil panen bagus, sebaiknya menanam bibit padi MSP langsung dari bulirnya per satu bulir. Dari satu bulir bibit bisa dihasilkan hingga 28 batang padi lebih. Saat menanam pun jangan ditanam lebih dari satu buku jari tangan. Agar pertumbuhan cabangnya dapat maksimal.

“Karena bulir padi dihasilkan letaknya di bawah daun, padi MSP juga bisa terhindari dari sasaran burung-burung. Beda dengan umumnya jenis padi lain bulir padinya berada di atas daun. Mudah diincar burung,” imbuhnya.

Ketua “Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air” (GP3A) Banyuwapas Solihin Absor menilai, minat para petani di Garut terhadap padi MSP terbilang kurang. Salah satu penyebabnya belum ada laboratorium lapangan serta sosialisasi menyeluruh kepada petani.

“Harus ada uji laboratorium, uji lapangan. Apakah padi jenis ini cocoknya di lahan basah atau lahan kering. Dulu padi MSP sempat ramai, tetapi tak lama terus menghilang. Petani lebih meminati varietas lain biasa mereka tanam,” bebernya.

Komoditas padi biasa ditanam para petani di Garut antara lain varietas Ciherang, Sarinah, IR-64, Mikongga, Sedenok, Inpari, Marning, Cigeulis, Salegreng, dan Situ Bagendit.

*******

Noel, Jdh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here