Petani Garut Kian Banyak Bergairah Budidayakan Cengkih

by

Garut News ( Ahad, 13/04 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto: John Doddy Hidayat).

Petani di Kabupaten Garut, Jabar,  kembali bergairah menenam cengkih (Syzygium aromaticum).

lantaran terdapat peningkatan harga jual, semakin menggiurkan mereka.

Padahal sebelumnya 1990-an, banyak petani menebang ribuan pohon cengkih akibat harganya berfluktuasi.

Namun kini, budidaya jenis tanaman ini di Garut cenderung mengalami peningkatan, pada rentang waktu tujuh tahun terakhir.

Data Disbun kabupaten setempat, menunjukkan total luas areal tanamannya pada 2013 mencapai 2.859 hektare bertotal produksi mentah cengkih 2.992,8 ton.

Sedangkan pada 2006, luas areal tanam pohon cengkih hanya 2.700 hektare bertotal produksi mentah 1.312,74 ton.

Budidaya tanaman cengkih tersebut, tersebar di 33 dari 42 kecamatan.

Areal penanaman paling luas terdapat di wilayah selatan Garut, terutama di Kecamatan Cikelet (945 hektare), Bungbulang (301 hektare), Pakenjeng (244 hektare), Cisewu, Cisompet, dan Cibalong.

Pada wilayah utara Garut, sentra tanaman cengkih terbilang cukup luas berada di Kecamatan Malangbong mencapai sekitar 100 hektare.

“Harga cengkih memang cukup bagus, berkisar Rp130 ribu-Rp150 ribu/kilogram kering. Rata-rata per pohon menghasilkan satu kuintal cengkih basah atawa sekitar 20 kilogram cengkih kering. Tinggal hitung berapa keuntungan diperoleh sekali panen,” ungkap Kabid Produksi Disbun, Haeruman, Ahad (13/04-2014).

Dikemukakan, selain bunganya, limbah daun kering cengkih merupakan tanaman asli Indonesia asal kepulauan Maluku itu, juga bernilai ekonomi tinggi sebagai bahan baku pembuatan minyak cengkih.

“Limbah daun keringnya kan bisa disuling dijadikan minyak cengkih. Limbah daun kering/ kilogramnya saat ini sekitar Rp12.000. Sedangkan harga jadi minyaknya berkisar Rp90 ribu-Rp120 ribu per liter. Jadi, peluang budidaya tanaman cengkih ini masih cukup besar,” kata Haeruman.

******

Noel, JDH.