Petani Garut Belum Nikmati Mega Proyek Bendung Copong

0
34 views
Jaringan Saluran Bendung Copong Berkondisi Belum Ternikmati Manfaatnya.
Hingga, Ahad (22/09-2019), Masih Berkondisi “Idle”.

“Airnya Mengalir Menjauh dari Denyut Pemenuhan Kebutuhan Petani.”

Garut News ( Ahad, 22/09 – 2019 ).

Petani di Kabupaten Garut, Jawa Barat, hingga kini masih belum maksimal bisa menikmati ‘Mega Proyek Bendung Copong’, yang launching dimulai pengerjaannya pada Juni 2004 atau 15 tahun silam oleh Presiden saat itu, Megawati Soekarnoputri.

Terbukti pada kemarau panjang ini, hingga pertengahan September 2019 besarnya kehilangan penghasilan mereka terutama buruh tani mencapai 15.531.375 kilogram GKG setara 9.629.452 kilogram beras bernilai Rp105.923.972.000 dengan asumsi harga setiap kilogram beras Rp11 ribu.

Demikian pula akibat serangan tikus di musim kemarau menerjang 119.900 kilogram GKG dengan kerugian Rp659.451.000 disetarakan dengan 74.538 kilogram beras bernilai Rp817.718.000,-

Kerap Dimanfaatkan Wahana Menjaring Ikan.

Sehingga berdampak sosial penurunan daya beli terutama bagi 15.645 KK petani gurem yang tergabung dalam 209 kelompok, mereka menghidupi 78.225 anggota keluarga.

“Lantaran 3.129 hektare areal persawahan diterjang kekeringan, yang juga mengancam 2.525 hektare lainnya” 

Diperparah pula serangan ‘organisme pengganggu tanaman’ (OPT) pada kemarau panjang 2019, juga hama penggerek batang, dan wereng coklat.

Sungai Cimanuk di Kemarau Panjang 2019.

Persawahan terserang penggerek batang lebih luas lagi dibandingkan yang diserang tikus, mencapai 154 hektare tersebar pada 25 kecamatan, berintensitas kerusakan ringan. Sedangkan serangan wereng coklat mencapai 17 hektare tersebar di dua kecamatan.

Hingga akhir Agustus 2019, tercatat tanaman jagung gagal panen mencapai 1.196 hektare dari total lahan tanaman terserang kekeringan 1.602 hektare, kedelai diranggas kekeringan mencapai 313 hektare, cabe merah kekeringan 13 hektare, serta bawang merah 20 hektare.

“Terancam Rawan Pangan”

Sedikitnya 11.959 penduduk dari 3.013 KK terdampak kekeringan kemarau panjang 2019 di Kabupaten Garut itu, kini  terancam rawan pangan lantaran mengalami rawan daya beli akibat hilangnya penghasilan mereka, mendapatkan bantuan 33.482,2 kg beras guna memenuhi kebutuhan pokok pangannya.

Mengais Rezeki Sungai Cimanuk Seputar Bendung Copong.

Buruh tani tersebut tersebar pada 15 desa, dan dua kelurahan di tujuh wilayah kecamatan. Umumnya berada di wilayah selatan Garut, terdiri Kecamatan Cisompet, Pameungpeuk, Cikelet, Mekarmukti, dan Kecamatan Pakenjeng.

Sedangkan dua kecamatan lainnya di wilayah tengah meliputi Kecamatan Garut Kota, dan Kecamatan Karangpawitan.

Warga terbanyak terancam rawan pangan itu, terdapat di Kecamatan Cikelet mencapai 971 KK atau 3.484 orang, tersebar di Desa Karangsari, dan Desa Ciroyom. Kemudian warga Kecamatan Mekarmukti mencapai 641 KK atau 2.656 orang, tersebar di Desa Cijayana, Mekarmukti, Karangwangi, Jagabaya, dan Desa Mekarsari.

Selain Nila, dan Lele juga Banyak Ikan Sapu Untuk Pakan Lele.

Total bantuan beras mencapai 33, 5 ton atau 33.482,2 kilogram ini. Dengan asumsi setiap orang mendapatkan bantuan 0,4 kilogram per hari untuk selama tujuh hari.

Penerima manfaat bantuan tersebut, merupakan buruh tani kehilangan penghasilan terutama akibat lahan tanaman padi sawahnya tak bisa diolah, bahkan mengalami gagal panen lantaran diranggas kekeringan.

“Sebenarnya penderita rawan daya beli di Garut jumlahnya lebih dari yang baru bisa kita tangani. Kita pun berupaya selektif , mereka benar-benar rawan daya beli, dan memang mendesak membutuhkan bantuanlah diberikan bantuan beras pemerintah” 

“Sungai Cimanuk Airnya Mengalir Jauh”

Banyak Dikunjungi Masyarakat.

Puncak amuk Sungai Cimanuk Garut, sempat menjadikan ketinggian muka airnya mencapai hingga di atas delapan meter, pada Selasa tengah malam (20/09-2016).

Sedangkan pembangunan ‘Mega Proyek Bendung Copong’, yang launching dimulai pengerjaannya berlangsung pada Juni 2004 atau 15 tahun silam oleh Presiden saat itu, Megawati Soekarnoputri.

Selain untuk mengairi ribuan hektare sawah, juga berpotensi bisa dijadikan obyek wisata menarik, serta pengembangan budidaya ikan tawar.

Kolam Utama Bendung Copong.

Bergenangan air bersumber dari aliran sungai Cimanuk, bisa mengairi areal persawahan, juga fisik bangunan bendung besar dengan empat bangunan menara pengawas limpahan air Cimanuk, tampak cukup megah, menjadi salah satu daya tarik banyak pengunjung.

Terdapat dua akses jalan masuk utama menuju Bendung Copong, dari arah selatan melalui Kampung Copong Kelurahan Sukamentri Kecamatan Garut Kota, dan dari arah barat melalui Nangewer Desa Sukasenang Kecamatan Banyuresmi.

Pembangunan fisik bendung utama Bendung Copong rampung, namun tinggal pembangunan saluran sekunder untuk bisa mengairi areal persawahan di hilir, bagi Daerah Irigasi Leuwi Goong direncanakan sejak 1990.

Bendung Copong juga direncanakan bisa mengairi gabungan jaringan irigasi teknis tersedia menjadi satu kesatuan sistem, sehingga dapat mengairi daerah irigasi seluas 5.271 hektare, mencakup sepuluh kecamatan.

Onggokan Bendung Copong.

Bendung bersumber sungai Cimanuk, mata air Cibuyutan, Citameng, Citikey, dan Ciojar itu, dapat pula bisa mengairi tiga desa di tiga kecamatan, terdiri Desa Sukamantri Kecamatan Garut Kota, Desa Sukasenang Kecamatan Banyuresmi, dan Desa Haurpanggung Kecamatan Tarogong Kidul.

Tetapi hingga sekarang, ‘Sungai Cimanuk’ dengan Bendung Copong airnya masih mengalir menjauh dari denyut pemenuhan kebutuhan petani.

Demikian foto berita Garut News pada akhir pekan ini, Ahad (22/09-2019).

*****

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here