Petani Diserukan Jangan Memanen Pada Musim Penghujan

0
86 views

Garut News ( Selasa, 17/03 – 2015 ).

Yudi Hernawan. (Foto : John Doddy Hidayat).
Yudi Hernawan. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kini menjelang musim panen padi akhir Maret hingga April mendatang, Dinas “Tanaman Pangan dan Hortikultura” (TPH) Kabupaten Garut mengingatkan, agar para petani menghindari memanen padi pada kondisi cuaca buruk atawa berkondisi hujan.

Guna mengantisipasi penurunan kualitas beras hasil panen, serta kemungkinan tambahan biaya pengolahan pasca panen lantaran bertambahnya kadar air bulir padi akibat terus menerus terguyur hujan.

Kondisi cuaca sangat berpengaruh terhadap kualitas beras. Sebab mengeringkan padi kadarber air tinggi lantaran terus-terusan terkena hujan tentu lebih berat.

Foto : John Doddy Hidayat.
Foto : John Doddy Hidayat.

Sehingga idealnya, panen itu dilakukan saat cuaca cerah dan tak ada hujan dalam satu pekan, ungkap Sekretaris Dinas TPH kabupaten setempat, Yudi Hernawan, Selasa (17/03-2015).

Dia memerkirakan, harga beras sempat melonjak beberapa waktu lalu bisa mengalami penurunan harga pada musim panen raya sekarang, meski tak signifikan.

Para petani juga terdorong semangatnya bercocok tanam padi dengan naiknya harga beras dan gabah. Seperti harga beras premium Garut kini bertengger pada kisaran Rp11.000-12.500 per kilogram dari semula Rp10.000 per kg, dan gabah pada kisaran harga Rp6.000 per kg dari semula sekitar Rp4.000 per kg, katanya.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan, Holil Ahmad Efendi katakan, meski kenaikan harga beras menguntungkan para petani, namun waktunya tak tepat.

Sebab kenaikan harga terjadi justru ketika berlangsung musim paceklik.

Sehingga hanya sebagian petani menikmati kenaikan harga padi tersebut. Sedangkan kebanyakan lainnya belum masuk masa panen.

Petani panen sekarang-sekarang, bisa merasakan harga lebih baik, dan itu menggairahkan mereka. Teknologi pertanian pun diterapkan dengan semangat.

Justru musim panen sekarang ini mereka kudu hati-hati karena kemungkinan cuaca masih buruk, imbuh Holil.

Karena itu, mengantisipasi dampak buruk akibat hujan, para petani diimbau berhati-hati. Pihak Dinas TPH pun sejak jauh hari menyiapkan sejumlah langkah.

Di antaranya sosialisasi didampingi aparat TNI dan pemberian bantuan terpal kepada kelompok tani.

Keadaan produksi padi di Kabupaten Garut pun, ungkap Holil, relatif stabil, bahkan surplus, katanya pula.

Kendati, sekitar 60% produk beras asli Garut didistribusikan ke luar kabupaten. Terutama Bandung, Jakarta, dan Tangerang.

Ironisnya, kata dia, kebanyakan masyarakat Garut mengonsumsi beras dipasok dari daerah lain kualitasnya di bawah beras Garut berharga lebih murah.

Terutama dari Kota Banjar, dan Kabupaten Ciamis.

Varietas unggul baru padi dikembangkan di Garut antara lain varietas padi Ciherang, Sarinah, Mekongga, Si denuk, dan IR.

Masa tanam padi hingga panen rata-rata membutuhkan waktu sekitar 110 hari, dengan masa persemaian sekitar 10-15 hari.

Pasca panen, lahan sawah sebaiknya dibiarkan sekitar dua pekan atawa 15 hari. Baru kemudian tanah sawah bisa diolah lagi untuk ditanami, beber Holil.

Dia juga mengimbau supaya para petani mengantisipasi kemungkinan serangan hama kerap masih menyerang tanaman padi.

********

Noel, Jdh.