Petahana

0
12 views

Putu Setia

@mpujayaprema

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 13/12 – 2015 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Petahana layak dapat bintang. Calon dengan status petahana sebagian besar menang dalam pemilihan kepala daerah serentak ini. Petahana yang dibelit masalah, seperti Airin di Tangerang Selatan, juga menang. Airin, yang berkali-kali diperiksa karena dugaan korupsi di pengadaan alat kesehatan dan suaminya masih mendekam di penjara, toh bisa unggul melawan pesaingnya yang doktor ekonomi.

Secara umum, orang menduga petahana bisa menggerakkan birokrasi. Petahana masih punya pengaruh pada birokrasi yang bisa diperintah untuk mendulang dukungan. Ini bisa benar, tapi bisa juga dugaan berlebihan. Dengan adanya pelaksana tugas bupati atau wali kota, petahana sulit menggerakkan birokrasi dari luar.

Lagi pula pengawasan dari Menteri Dalam Negeri dan gubernur tergolong ketat bahwa pegawai negeri dilarang terlibat dalam mendukung calon.

Dugaan lain, petahana banyak uang, antara lain mengakali dana bantuan sosial yang bersumber dari anggaran pendapatan pemerintah. Mungkin ada petahana yang berbuat seperti itu. Tetapi lagi-lagi, dengan adanya pelaksana tugas bupati atau walikota yang dikontrol gubernur, penyelewengan sangatlah kecil. Apalagi dana ini baru turun belakangan pada saat petahana tak bisa lagi “mengatur segalanya”.

Lalu, apa dong penyebab petahana unggul? Ada beberapa jenis petahana dan karenanya yang membuat dia unggul tentu saja berbeda. Risma Harini, petahana dalam pemilihan Wali Kota Sutabaya, sangat istimewa.

Ketenarannya sampai “di ujung dunia” dengan penghargaan internasional. Rakyat Surabaya sudah merasakan hasil kerjanya, dan Risma dipastikan unggul, siapa pun penantangnya. Karena itu, ketika Surabaya nyaris hanya punya satu calon dan banyak orang mengecam partai politik yang enggan mencalonkan kadernya untuk menyaingi Risma, kecaman itu tak tepat. Partai politik tentu berhitung: untuk apa mendukung calon yang pasti kalah? Repot dan keluar uang.

Sempat ada kekhawatiran, kalau calon tunggal, maka pilkada diundurkan. Muncullah ide membuat “calon boneka”, calon yang justru dibayar agar pemilihan tidak diundurkan ke tahun 2017. Pada saat seperti itulah Surabaya punya calon lain yang menantang Risma. Apakah ini “calon boneka” atau tidak, publik tak sempat menggosipkan berhari-hari karena Mahkamah Konstitusi kemudian mengizinkan adanya calon tunggal.

Kini Risma menang bukan karena pilihan masyarakat “setuju” seperti yang terjadi di Tasikmalaya dan Blitar, melainkan Risma unggul telak karena ada calon yang bersedia kalah.

Petahana di daerah lain tak ada yang setenar Risma. Keunggulan mereka lebih pada tak adanya calon pesaing yang bermutu. Kalau pendatang baru itu tak menjanjikan apa-apa, masyarakat condong memilih petahana yang sudah dikenal selama ini. Berprestasi ataupun tidak, yang penting pemerintahan sudah jalan.

Memang di beberapa daerah ada pesaing yang visi dan misinya bagus dan membuat orang berdecak kagum. Tapi visi-misi itu terlalu tinggi bagi rakyat. Yang berdecak kagum para cerdik pandai. Padahal para cerdik pandai ini terbukti malas datang ke tempat pencoblosan.

Entah karena tiba-tiba hujan, atau repot berjalan karena parkirnya jauh, dan berbagai alasan lain untuk tidak memilih. Sementara petahana yang visi dan misinya sederhana, apa adanya, dipahami oleh rakyat. Kalangan ini sangat militan mencoblos, tak peduli hujan atau banjir, bahkan menyeberang sungai sekalipun.

Petahana menang karena komunikasinya nyambung dengan masyarakat dan tak berpengaruh apakah petahana diusung partai yang lagi disorot buruk atau tidak.

********

Tempo.co