Pesta Gerhana

0
11 views

Garut News ( Selasa, 08/03 – 2016 ).

Pengamatan gerhana matahari total di Tanjung Kodok, Jawa Timur, 1983. FOTO: DOK TEMPO/ILHAM SOENHARJO
Pengamatan gerhana matahari total di Tanjung Kodok, Jawa Timur, 1983. FOTO: DOK TEMPO/ILHAM SOENHARJO

Gerhana matahari total menyapu dari pesisir barat hingga timur Indonesia. Hari yang baru memasuki pagi kembali gelap-gulita. Jadi obyek riset sekaligus wisata besar-besaran. Sejumlah daerah, layaknya merayakan ulang tahun kota, menggelar pesta.

TIM peneliti sibuk mengemasi teleskop dalam kardus-kardus besar di ruang rapat Bidang Program dan Fasilitas Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) Bandung, Senin tiga pekan lalu. Mereka bakal mempelajari dan mengabadikan citra bintang yang bertebaran di sekeliling piringan matahari saat berlangsung gerhana total, Rabu, 9 Maret.

Sebagian instrumen, seperti kamera, laptop, filter matahari, adaptor, dan baterai, bahkan telah dikirim lebih dulu ke lokasi pengamatan di Pulau Ternate, Maluku Utara. Belasan bintang yang akan mereka intip sudah mereka tandai. Posisi dan waktu penampakannya di langit juga sudah lengkap tercatat.

“Kami butuh langit yang benar-benar gelap untuk melihat bintang di belakang matahari,” kata anggota tim peneliti, Anton Timur Jaelani, Senin, 15 Februari 2016.

Peneliti Lapan itu, juga peneliti dari beberapa universitas, serta komunitas astronomi dari berbagai negara, akan menyebar ke 11 wilayah yang akan dilewati peristiwa langka tersebut. Terakhir, gerhana matahari total menyambangi Indonesia 33 tahun lalu.

Sebelas wilayah gerhana tahun ini adalah Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. 

Sejumlah daerah juga akan mengalami gerhana sebagian. Menurut Rukman Nugrah, peneliti astronomi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, waktu kejadian gerhana dan setiap lokasi akan berbeda-beda. Gerhana paling awal dimulai di Kotaagung, Lampung, pada pukul 6.19.

“Adapun kota yang waktu mulai gerhananya paling akhir adalah Waris, Papua, yang terjadi pada pukul 8:53:44 WIT,” kata Rukman.

Gerhana matahari total pertama yang melintasi Indonesia pada abad ke-21 ini disambut meriah di berbagai daerah. Layaknya merayakan ulang tahun kota, sejumlah pemerintah daerah menggelar pesta. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, misalnya, bakal menggelar pesta kuliner, festival budaya, lomba lari Glowing Nite Run, dan selfie alias swafoto ketika gerhana berlangsung. Jembatan Ampera pun akan ditutup karena dijadikan panggung terbuka.

Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah menyiapkan rangkaian acara pengajian, karnaval budaya, pertunjukan dambus dan pencak silat, serta tarian rudat kolosal. Sepuluh teropong disiapkan untuk masyarakat di lokasi pengamatan di sepanjang pantai Desa Terentang, yang akan disterilkan dari kendaraan bermotor.

“Untuk menjangkau lokasi acara, kami siapkan 10 bus bagi pengunjung,” kata Bupati Bangka Tengah, Erzaldi Rosman Johan, Senin lalu. “Pedagang yang boleh masuk hanya yang menggunakan sepeda.” 

Ternate, wilayah yang mengalami puncak gerhana matahari total selama 2 menit 45 detik, pun menggelar acara menonton gerhana bersama sebagai ajang promosi wisata. Sembilan lokasi pengamatan di tepi pantai disiapkan.

Lebih dari seribu wisatawan asing bakal ikut mengamati gerhana di pulau itu. Menurut Pejabat Wali Kota Ternate, Idrus Assagaf, putri raja Thailand juga akan datang. Selain itu, sejumlah ilmuwan dari Amerika Serikat, Cina, Jepang, dan Thailand berniat melakukan observasi. Hotel-hotel sudah fully-booked sejak sebulan lalu.

Keriaan menyambut gerhana matahari total ini bertolak belakang dengan situasi pada 11 Juni 1983. Kala itu sebagian besar wilayah Pulau Jawa masuk lintasan gerhana matahari total. Ini adalah gerhana matahari total keempat di Indonesia sepanjang abad ke-20 setelah fenomena pada 1901, 1929, dan 1962.

Gerhana pertama pada 18 Mei 1901 bahkan sempat dicatat R.A. Kartini dalam surat yang ia tujukan kepada Stella Zeehandelaar, rekan korespondensinya di Belanda. Dalam surat tertanggal 20 Mei 1901 itu Kartini menulis dalam bahasa Belanda, “Pada 18 Mei, ilmuwan dari seluruh dunia datang ke Jawa untuk mengamati sang gerhana.” Sayangnya, tulis Kartini, “Malang sekali, di sini kami tak bisa melihatnya sama sekali karena cuaca buruk. Hari berawan dan hujan turun.” 

Pada 1983, sebagian besar masyarakat justru menyia-nyiakan kesempatan yang amat berharga itu. Seperti ditulis majalah Tempo edisi 11 Juni 1983, pemerintah mengeluarkan aturan agar tidak melihat langsung gerhana karena bisa menimbulkan kebutaan yang tak bisa disembuhkan.

Instruksi pencegahan itu diikuti berbagai larangan dan aksi “ngawur”. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah, penjualan kacamata gerhana dari seluloid film yang sudah “dicuci” dilarang dan dimusnahkan. Di Boyolali, para petani disarankan mencari rumput sehari menjelang gerhana agar saat fenomena itu terjadi bisa berdiam di rumah.

Bupati Sukoharjo, Gatot Amrih, bahkan menginstruksikan pegawainya pulang dua jam sebelum gerhana agar bisa mendekap anak-anak mereka. “Katakan kepada masyarakat lainnya, mendekap anak di saat gerhana adalah perintah Bupati. Biarlah matahari saja yang buta, jangan kita,” kata Gatot.

Di pesisir Pangandaran, Jawa Barat, nelayan dilarang melaut. Di Jawa Timur, sepasukan polisi dikerahkan untuk menghalau warga yang keluar rumah. Buku panduan teknis melihat gerhana yang dilampiri alat observasi disita. Dua juta selebaran, berisi segala macam larangan saat gerhana, disebarkan lewat pesawat gelatik oleh Pramuka dan Federasi Aeromodeling Seluruh Indonesia.

Satu-satunya cara melihat gerhana saat itu, menurut pemerintah, hanya melalui siaran langsung di TVRI dan RRI. 

“Sekarang saatnya balas dendam. Teman-teman yang dulu dilarang menonton sekarang bertekad menonton gerhana di kota dengan puncak gerhana terlama,” kata Avivah Yamani dari komunitas astronomi Langitselatan, yang bermarkas di Bandung.

Bagi Lapan, kesempatan emas itu akan dimanfaatkan untuk menggelar riset. Salah satu tim, misalnya, bakal mencari bukti adanya efek gravitasi yang membelokkan lintasan cahaya di sekitar obyek astronomi masif. Hal ini sudah dikalkulasi Albert Einstein dalam Teori Relativitas Umum seratus tahun lalu dan dibuktikan pertama kali oleh peneliti Inggris, Arthur Eddington dan Frank Dyson, saat terjadi gerhana matahari total pada 1919.

Alih-alih lurus, menurut Einstein, cahaya bintang yang terlihat di bumi sebenarnya melengkung akibat gravitasi matahari. Saat terjadi gerhana matahari total, Einstein membuktikan posisi bintang-bintang di belakang piringan matahari yang tertutup bulan tak persis sama ketika dilihat saat tidak terjadi gerhana.

“Gravitasi menurut Einstein itu manifestasi kelengkungan ruang waktu karena ada massa, bukan seperti teori Isaac Newton yang menyebut gravitasi itu gaya,” kata peneliti Lapan, Farahhati Mumtahana.

Terjadinya pembelokan cahaya bintang karena gravitasi matahari akan dibuktikan dengan membandingkan hasil pengamatan bintang-bintang yang sama sekitar 5-6 bulan usai gerhana. “Perlu waktu kira-kira setengah tahun untuk melihatnya di balik matahari, jadi tidak terganggu cahaya matahari,” ujar Farahhati.

Dua tim lain dari Lapan Bandung mengamati ionosfer dan geomagnet serta fotometri dan spektroskopi korona matahari di Maba, Halmahera. Korona ini tidak terlihat langsung dari bumi kecuali saat gerhana atau menggunakan teleskop khusus.

Menurut Muhamad Nurzaman–seorang anggota tim peneliti–spektrum korona diamati untuk mencari garis unsur logam besi tertentu yang terionisasi. Durasi gerhana matahari total yang mencapai tiga menit dinilainya cukup untuk merekam data. “Tujuan khususnya untuk mengetahui temperatur korona,” tutur peneliti yang akrab disapa Zamzam itu.

Para peneliti dari Observatorium Bosscha, Bandung, membuat sembilan teropong lubang jarum untuk membantu masyarakat mengobservasi gerhana matahari. Selain di Bandung, teropong rancangan astronom Mohammad Irfan itu akan dipasang di Balikpapan, Penajam, dan Tana Paser, Kalimantan Timur.

Saat diarahkan ke matahari, sinarnya akan menembus lubang kecil dan terpantul di bidang putih berdimensi 120 sentimeter persegi. “Cahayanya berdiameter sekitar 2 sentimeter,” ujar Irfan. Bintik sinar itu seperti miniatur matahari. Seiring dengan bulan perlahan menutupi matahari saat gerhana parsial atau total, bintik cahaya itu juga terkikis bayangan hitam.

Para peneliti Bosscha juga berkutat membuat instrumen pendulum bersensor. Pendulum itu akan dipakai untuk menguji Efek Allais di ekuator saat gerhana berlangsung. Mahasena Putra, Direktur Observatorium Bosscha, yang terlibat dalam pembuatan alat itu, ikut berkerut kening. “Bikin alatnya cukup susah,” ujar peneliti yang kerap dipanggil Seno itu.

Rancang bangun pendulum itu mengacu pada alat Foucault, instrumen yang sudah ada lebih dari 150 tahun lalu, yang direvisi tim peneliti dari Argentina pimpinan Horacio R. Salva pada 2010. Alat itu dipakai tim Horacio walau bukan ketika gerhana matahari.

Kelebihan alat itu, kata Seno, karena bandul pendulum bisa bergerak terus-menerus dengan sambungan energi listrik. Alih-alih berbentuk elips atau lonjong seperti model lama, lintasan garis pendulum model baru ini hampir lurus. Pencatatan datanya pun otomatis.

Jika ditempatkan di kutub utara atau selatan, pendulum akan ikut berputar seiring dengan gerak rotasi bumi. Selama bumi berotasi 24 jam, pendulum akan berputar sekitar 15-16 derajat per jam. Menurut Seno, gerak pendulum akan berubah di tempat dengan garis lintang berbeda.

Di garis ekuator atau khatulistiwa, misalnya, pendulum cenderung diam, namun bandulnya masih mengayun. Saat terjadi gerhana, gerak pendulum yang searah dengan jarum jam sedikit lebih cepat dari biasanya. Hal ini diketahui setelah ilmuwan Prancis, Maurice Allais, melihat ada anomali gerak pendulum saat gerhana matahari total pada 30 Juni 1954 dan 22 Oktober 1959.

Belum ada yang sepakat mengapa ada perbedaan gerak pendulum saat gerhana. Beberapa peneliti yang mempelajari Efek Allais memiliki hasil berbeda-beda. “Kalau ada fenomena alam seperti itu, siapa pun yang melakukan harus teramati, harus sama hasilnya. Celakanya, ada yang bisa dan tidak dari dulu sampai sekarang. Kalau negatif penjelasannya, disebut seperti alatnya kurang bagus,” ujar Seno.

Tim astronom Institut Teknologi Bandung juga akan mengukur dampak gerhana matahari total pada gravitasi. Agus Laesanpura, peneliti dari Teknik Geofisika ITB, akan membawa gravimeter untuk mengukur perubahan gravitasi.

Ketika terjadi gerhana matahari total, diasumsikan akan muncul perubahan gravitasi. “Di layar alat akan langsung terlihat hasilnya, nilainya kecil sekali tapi bisa terdeteksi,” kata Seno.

Tim peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB akan mempelajari efek gerhana terhadap perilaku hewan seperti kelelawar, burung, katak, dan serangga di Desa Kalora, Poso, Sulawesi Tengah. Riset ini berhubungan dengan metode adaptasi spesies untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan faktor lingkungan.

Cahaya matahari merupakan faktor yang mempengaruhi aktivitas harian hewan.

Para penggemar astronomi juga ikut memburu gerhana. Ada 12 anggota Langitselatan yang akan berangkat ke Maba. Maba, kata Avivah, dipilih karena cuacanya sering cerah. “Totalitas gerhananya juga paling lama,” kata dia.

Durasi kegelapan saat bulan menutupi matahari di Maba berlangsung selama 3 menit 17 detik. Setelah itu gerhana akan melaju menuju puncaknya di Samudra Pasifik.

Selain untuk mengobservasi, komunitas Langitselatan akan memberikan edukasi tentang gerhana matahari ke sekolah-sekolah di Maba. Menurut Avivah, pergi memburu gerhana matahari juga menjadi ambisi pribadi para anggota komunitas.

“Bagi sebagian besar anggota Langitselatan, ini adalah gerhana matahari total pertama yang bisa diamati,” kata Avivah. “Kami tak ingin kehilangan momen penting yang mungkin hanya terjadi sekali dalam hidup ini.” 

GABRIEL WAHYU TITIYOGA, AHMAD NURHASIM, ANWAR SISWADI(BANDUNG), BUDHY NURGIANTO (TERNATE), SERVIO MARANDA (BANGKA TENGAH), PARLIZA HENDRAWAN (PALEMBANG)

 ANTARA/Feny Selly

Baru 55 Tahun Lagi Kembali ke Indonesia

KEGELAPAN akan meliputi sebelas kota di Indonesia tatkala gerhana matahari total berlangsung pada 9 Maret mendatang. Inilah gerhana matahari total pertama yang melewati Indonesia pada abad ke-21. “Gerhana kali ini istimewa bagi Indonesia karena lintasannya terentang dari barat ke timur,” ujar dosen astronomi Institut Teknologi Bandung, Premana W. Premadi, Selasa, 2 Februari 2016.

Gerhana matahari terjadi manakala bulan melintas di antara bumi dan matahari. Fenomena ini hanya mungkin berlangsung pada fase bulan baru, ketika lintasan bulan tepat di antara bumi dan matahari dan bayangannya menutupi sebagian wilayah planet. Posisi, arah gerakan, dan jarak relatif bumi, bulan, dan matahari, menentukan tipe gerhana yang terjadi: sebagian, cincin, dan total.

Peluang munculnya gerhana bergantung pada mekanisme dan waktu peredaran bumi dan bulan terhadap matahari. Sejak terbentuk 4,5 miliar tahun lalu, bulan sebenarnya perlahan bergerak menjauhi bumi dengan jarak sekitar 4 sentimeter per tahun. Diameter matahari 400 kali lebih besar ketimbang bulan, yang cuma 3.476 kilometer.

Namun, mengorbit secara elips, jarak bulan ke bumi 400 kali lebih dekat ketimbang matahari. Pada Rabu 9 Maret nanti, bulan berada di jarak yang tepat sehingga ketika terlihat di langit akan menutupi matahari secara total.

Sepanjang abad ke-21, menurut daftar yang dirilis Badan Antarika Amerika Serikat, ada 224 gerhana matahari: 77 gerhana matahari sebagian, 72 gerhana matahari cincin, 68 gerhana matahari total, dan 7 gerhana hybrid – kombinasi langka antara gerhana total dan cincin. Hingga 2100, Indonesia akan mengalami 14 gerhana matahari, dua di antaranya adalah gerhana hybrid pada 2023 dan 2049.

Menurut Premana, meski bumi dan bulan berotasi dan bergerak mengelilingi matahari secara teratur, fenomena gerhana tidak mudah terjadi. “Tak setiap purnama terjadi gerhana bulan atau setiap fase bulan baru terjadi gerhana matahari,” katanya. “Posisi dan sudut bumi, bulan, dan matahari itu menentukan hasilnya.” Lalu bagaimana sebenarnya mengetahui kapan dan di mana terjadi gerhana matahari? 

Tak mudah memecahkan masalah keteraturan siklus gerhana matahari. Gerhana tak otomatis terjadi setiap fase bulan baru karena posisi bulan yang miring lima derajat terhadap orbit bumi. Akibatnya, bayangan bulan biasanya melewati sisi atas atau bawah bumi sehingga gerhana tak terjadi.

“Hingga saat ini siklus gerhana masih dipelajari dengan melihat bagaimana kriteria terjadinya gerhana dan sejarah catatan tentang gerhana yang sudah ada sejak era Babilonia sekitar 700 sebelum Masehi,” kata Premana.

Kemungkinan posisi sejajar antara bumi, bulan, dan matahari membuat gerhana berada dalam interval waktu spesifik: gerhana bisa berulang atau kembali. Menurut Premana, ada semacam keteraturan tapi tidak seperti siklus yang sudah dikenal orang sangat rapi seperti fase terbit dan terbenamnya matahari atau siklus spektakuler komet Halley yang akan terlihat dari bumi setiap 76 tahun sekali. 

Penemuan penting dari era Babilonia, selain rangkaian jenis gerhana, adalah kalkulasi bahwa gerhana cenderung berulang setelah 18 tahun, 11 hari, dan delapan jam. Perulangan ini dikenal sebagai siklus atau daur saros–berasal dari bahasa Babilonia, sharu. Hasil kalkulasi ini cukup akurat untuk memprediksi pengulangan gerhana.

Menurut Rhorom Priyatikanto, peneliti dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional, siklus saros itu dilihat atau dipilah berdasarkan bagaimana cara bulan bergerak menutup matahari dan menjadi identitas gerhananya. “Gerhana seri kesekian dilihat dari gerakan, durasi, dan ukuran bulan menutupi matahari.” 

Pola perulangan saros itu dibagi rata untuk memprediksi gerhana. Misalnya, tahun ini Indonesia mengalami gerhana tipe tertentu yang didata. Sekitar 18 tahun berikutnya, sepertiga bagian bumi lain merasakan gerhana yang mirip, selang durasi yang sama berikutnya giliran sepertiga bagian lainnya yang mengalami fenomena itu.

“Sekitar 55 tahun lagi, gerhana yang saat ini terjadi ada kemungkinan kembali ke Indonesia,” kata Rhorom. “Tapi lintasannya pasti bergeser.” 

Gerhana matahari total pada 9 Maret nanti, kata Rhorom, mirip dengan yang terjadi di Indonesia pada 1962. Gerhana itu terulang setelah 54 tahun atau tiga kali siklus saros. “Lintasannya di wilayah Indonesia mirip, tapi tak sama persis melewati kota-kota yang saat ini masuk jalur gerhana matahari total.” 

Premana mengatakan, sejauh ini tak ada formula yang pasti untuk menghitung gerhana bisa terjadi di tempat dan waktu yang sama. Selain sudut dan posisi bulan terhadap bumi, kecepatan rotasi bumi dan bulan yang berbeda–sementara mereka juga mengelilingi matahari–membuat kian sulit memprediksi gerhana melintasi lokasi yang sama persis.

“Yang diperhatikan adalah seperti apa proses gerhana lalu dicocokkan dengan tipe yang sudah tercatat untuk memprediksi kemungkinan muncul berapa tahun kemudian.” 

GABRIEL WAHYU TITIYOGA/Tempo.co

SHARE
Previous articleMerayakan Gerhana
Next articleGerhana, Nyepi, dan Kita