Pesimisme

0
22 views

Ilustrasi Foto : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Ahad, 09/08 – 2015 ).

bandung271949: tak lama setelah Indonesia bangkit dengan euforia kemerdekaan, Chairil Anwar menuliskan baris ini dalam salah satu sajaknya: “Hidup hanya menunda kekalahan.”

Sebuah kontras. Mungkin antiklimaks.

Saya yakin kalimat itu hanya gumam Chairil dalam saat yang murung; sajak ini ditulis beberapa bulan sebelum ia meninggal pada umur 27 tahun.

Tapi ada yang melihatnya sebagai bagian dari perasaan dan perspektif sebuah generasi di Indonesia perasaan yang dianggap tak pada tempatnya di kancah sebuah bangsa yang baru tampil ke depan setelah lepas dari penjajahan.

Maka S. Takdir Alisjahbana mengecam kemuraman karya-karya Chairil, “ketakutannya akan dunia sekitarnya yang tak dikuasainya”. Bagi Takdir, sajak-sajak seperti yang digubah Chairil memperlihatkan tendensi buruk para penulis Indonesia yang “telah mengambil krisis Barat dan pesimisme Barat”.

Bagi Takdir, Chairil dan angkatannya cuma gema yang ganjil dari suasana Eropa yang kehilangan harapan.

Di Eropa pesimisme memang berkecamuk di antara dua perang besar yang melibatkan banyak negara, 1914-1918 dan 1939-1945. Orang, terutama kaum terpelajar dan seniman, menurut Takdir, merasa “tiada berkuasa sedikit jua terhadap pembantaian manusia yang besar-besaran”.

Akhirnya dalam karya-karya mereka (di sini Takdir mengutip Andr Malraux) tak ada lagi kepercayaan kepada manusia.

Tak adanya lagi kepercayaan kepada manusia adalah sebuah pesimisme yang gawat. Takdir tentu tak melihat gejala itu telah terjadi di Indonesia pasca-1945. Ia sejak dulu yakin akan gerak maju masyarakat dari zaman “jahiliah” Indonesia ke masa depan yang gemilang, Tapi di awal 1950-an, ia sendiri tampaknya tak bisa mengelak dari situasi yang dibayangi krisis.

Sejak 1951 ia berbicara tentang impasse dalam kreativitas manusia Indonesia. Sebuah simposium yang diorganisasinya mengambil pokok “Kesulitan-kesulitan Zaman Peralihan Sekarang”. Di sana dinyatakan bahwa kebudayaan di Indonesia ada “di jalan buntu”.

Kebuntuan atau impasse atau “krisis” dengan segera jadi percakapan intelektual yang dominan di Indonesia pada 1950-an. Di nomor pertama jurnal Konfrontasi, 1954, Soedjatmoko mensinyalir adanya krisis yang “telah meresap ke dalam masyarakat kita di dalam segala pernyataan dan tindakan jiwa manusia”.

Kata-kata Soedjatmoko dramatis dan agaknya tak meyakinkan. Beberapa sanggahan pun dikemukakan, atau bila kata “krisis” menjalar ke tempat lain, ia jadi sesuatu yang berkait dengan yang jenaka: pada 1953 Usmar Ismail membuat film Krisis yang segera disambung dengan Lagi-lagi Krisis.

Dalam film yang kedua ini kita lihat Husin bin Said yang pasang papan nama sebagai dukun dan Pedro bintang sandiwara lama yang sudah tak laku. Akhir cerita: sebuah kegagalan usaha memproduksi film….

Tak adakah harapan yang serius? Begitu gampangkah pesimisme dan begitu cepatkah sinisme?

Pada 1860, Ranggawarsita menulis karyanya yang terkenal, Serat Kalatida: 12 bait puisi-tembang yang paling muram dalam sastra Jawa. Ia berbicara tentang “zaman edan” yang dialaminya: merasa tersingkir, ia lihat keadaan politik yang kacau, rurah pangrhing ukara, dan orang di sekitarnya yang hanya berebut harta dan kedudukan.

Tapi seperti ketika Takdir berbicara tentang impasse dan Soedjatmoko tentang “krisis”, dalam pesimisme Ranggawarsita ada optimisme yang terselip: keadaan yang buruk itu bisa diatasi.

Dalam konsep Takdir, impasse adalah jalan buntu pada zaman “peralihan”: akan ada perubahan. Dalam pemikiran Soedjatmoko, “krisis” bisa diatasi dengan “konfrontasi”, sebuah perlawanan aktif.

Dalam Kalatida: keadaan buruk dihadapi dengan mengundurkan diri ke dalam sepi, muhung mahas ing asepi, mematikan hasrat ibarat “mati dalam hidup”.

Tentu ada yang membedakan Ranggawarsita dengan para cendekiawan Indonesia abad ke-20: ada sisa samar-samar kesadaran lama tentang waktu.

Dalam pandangan Takdir dan Soedjatmoko, seperti laiknya orang-orang modern, waktu adalah sesuatu yang linear, ibarat garis yang titik ujungnya tak akan berulang. Dalam Kalatida meskipun digubah setelah di Jawa orang mengenal jam masih ada jejak konsep waktu sebagai siklus: waktu adalah sejumlah kala dengan ciri-ciri keadaan tertentu, yang pernah terjadi dan akan terjadi lagi.

Dengan kata lain, waktu bergerak bersama cakra manggilingan: nasib ibarat roda pedati, sesekali di atas, sesekali di lantai.

Pada akhirnya, memang tak ada yang mengatakan, “Hidup hanya menunda kekalahan.” Kita belum bisa mengatakan, “Tak ada lagi kepercayaan kepada manusia.”

Sajak Chairil yang sangat muram itu pun masih memperlihatkan tenaga “menunda” justru di tengah waktu yang berubah.

Ia masih hendak mengatakan sesuatu, “Sebelum pada akhirnya kita menyerah.” Seperti satu baris dalam The Unnamable Samuel Beckett: “…in the silence you don’t know, you must go on, I can’t go on, I’ll go on.”

Belum antiklimaks.

Goenawan Mohamad/ Tempo.co