Pesan Serat Kalatida: Apakah Agama Bisa Lepas dari Politik?

0
40 views
Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun 1920-an. (Foto: Gahetna.nl).

Sabtu 11 Agustus 2018 15:46 WIB
Red: Muhammad Subarkah

“Pada saat sekarang banyak orang yang terpaksa menelan ludah sendiri”

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun 1920-an. (Foto: Gahetna.nl).

Apakah agama bisa terpisah dari politik? Jawabnya tegas, tidak mungkin! Bahkan omong kosong. Apakah agama tidak bisa diperalat politik? Jawabnya: yang mengajukan pertanyaan itu sebenarnya tengah memperkuda politik demi kepentingannya. Dia menyatakan seolah anti agama, padahal dirinya sangat butuh legitimasi agama demi kepentingan politik atau sesuatu hal yang menjadi tujuanya.

Mungkin pernyataan itu menyakitkan, terutama bagi mereka yang terlalu percaya bahwa agama (terutama Islam) bisa dicabut dari politik. Bahkan ini terjadi di semua agama. Mendiang Paus Paulus II misalnya pernah mengatakan dasar Eropa adalah Kristen. Tapi semua orang tahu apa yang diucapkannya pada dekade menjelang tahun 2000-an dahulu adalah berbau politik.

Adanya kenyataan ini orang Turki pun tahu bahwa itu adalah salah satu cara menolak Turki agar tidak dapat bergabung denga Uni Eropa. Sahabat saya, Edin Hadzalik yang warga Bosnia protes karena dasar Eropa dahulu kala adalah agama pagan, jauh sebelum datangnya agama Kristen atau Islam, dan juga agama-agama di ‘benua biru’ itu lainnya.

Buktinya lagi di Eropa yang katanya sekuler ternyata masih bertabur partai agama. Bahkan, katanya, pihak yang kini berkuasa di Jerman adalah berasal dari partai agama. Bahkan ada sebuah negara yang katanya penah menguasi dunia masih punya aturan tak tertulis sebagai negara pelindung agama.

Bahkan, negara yang kini terkuat di dunia, Israel, nyata-nyata punya konstitusi sebagai sebuah negara untuk agama dan etnis tertentu. Orang boleh suka atau tidak, tapi itu kenyataannya.

”Kamu harus paham, sebelum tahun 1923, bertebaran masjid dari Bosnia (perbatasan Asia-Eropa), hingga Belgia. Tapi setelah tahun 1923 (Kekuasaan Otoman runtuh) tempat ibadah itu tak ada lagi,” kata Edin seraya menegaskan bahwa agama selalu terkat politik.

Bahkan, ketika komunis runtuh, justru praktek agama muncul lagi.”Berbeda dengan jargon Nietzhe, Tuhan terbukti tak pernah mati!),” ujarnya lagi.

Hal sama juga terjadi di belahan dunia Asia. Semua tahu apa yang terjadi di anak benua Asia bagian selatan pada tahun 1940-an dahulu: India. Kawasan itu terpecah menjadi tiga negara: India, Pakistan, dan Bangladesh gara-gara soal politik dan agama.

Bahkan di kawasan Balkan (Yugoslavia), Irlandia, Uni Sovyet, hingga Timor Timur (yang paling mutakhir) pun terasa ada soal ini. Soal konflik di Aceh meletup dan reda misalnya, juga salah satunya ada berkelindan soal agama.

Lalu apakah ada tokoh yang mengakui bahwa agama tidak bisa dipisahkan dari politik? Jelas ada. Dan sosoknya tak main-main, yaitu bapak pendiri India: Mahatma Gandhi.

Dalam tulisan Gandhi di Harijan (24-12-1938, hal 393) Gandhi mengatakan: “Aku tidak bisa membagi sebuah pekerjaan apakah itu sosial, ekonomi, politik, dan religius murni kedalam kompartemen yang kedap air. Aku tidak tahu ada sebuah agama yang berpisah dari aktivitas manusia. Agama dapat memberikan dasar moral bagi segala jenis aktivitas yang tidak mereka miliki.

Lalu bagaimana dengan kenyataan itu di Indonesia? Jawabnya juga ada. Pernyataan yang pakar filsafat dan kebudayaan Islam, Prof Abdul Hadi WM. jelas menyatakan bahwa agama terkait dengan soal politik atau ulama tak bisa terlepas dari soal politik benar adanya.

Belaiu menjawab begini: Kalau dirunut dari sejarahnya yang membawa masalah agama ke ranah politik di Indonesia imoderen ialah Sarekat Islam (SI), Nahdlatul Ulama (NU), Masjumi dan lain-lain. Dan itu tidak dilarang oleh agama.

‘’Begitu juga agama lain di Indonesia masa moderen. Orang Kristen juga mendirikan Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan orang Katholik mendirikan Partai Katholik, dan lain sebagainya. UUD 45 jelas juga tidak melarang,’’ katanya.

Ketika ditanya lebih lanjut: benarkah pada zaman dahulu ulama di Nusantara tak boleh berpolitik (bahkan dalam pemimpin politik dalam arti praktis)? Dan pertanyaan ini diajukan karena mengingat begitu banyak raja Nusantara yang juga ulama.

Di Jawa Mataram ada sebutan sayidin panatagama kalifatullah tanah Jawi. Bahkan Sultan Agung nyata-nyata telah menggabungkan agama dengan politik dengan mempersatukan hitungan awal tahun Jawa dengan tahun Hijriyah.

Prof Abdul Hadi hanya menjawab pendek. ’’Banyak raja dahulu itu juga seorang ulama. Yang saya tahu beberapa Sultan Sumenep Panembahan Somala dan putranya Sultan Abdurrahman juga ulama yang mempunyai pengetahuan agama Islam yang sangat dalam,’’ ujarnya lagi.

Nah, uniknya lagi, pada saat ini, yakni menjelang Pilpres 2019, klaim bahwa ulama tak boleh berpolitik ternyata habis tandas. Kecelenya, mereka yang beberapa tahun silam mengatakan ulama tidak boleh berpolitikah yang melakukannya. Banyak orang yang terpaksa menelan ludah sendiri.

Maka dalam budaya Jawa sudah ada pesan luhur saat menjumpai keadaan seperti ini, yakni ketika zaman mengalami bolak-balik. Nasihat ini ditulis dengan sangat baik oleh priyayi asal Kraton Kasunan Surakarta, yakni pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita. Di kalangan orang Jawa kerapkali dia dianggap pujangga Jawa terakhir atau paripurna.

amenangi zaman édan,

(Menyaksikan zaman gila)

éwuhaya ing pambudi,

(serba susah dalam bertindak)

mélu ngédan nora tahan

(ikut gila tidak akan tahan)

yén tan mélu anglakoni,

(tapi kalau tidak mengikuti: gila),

boya kéduman mélik,

(bagaimana akan mendapatkan bagian)

kaliren wekasanipun,

(kelaparan pada akhirnya)

ndilalah kersa Allah,

(namun telah menjadi kehendak Allah)

begja-begjaning kang lali,

(sebahagia-bahagianya orang yang lalai)

luwih begja kang éling klawan waspada.

(akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada)

Maka waspadalah. Ingat ada nasihat Ustaz Abdul Somad yang kini viral di media sosial: Kalau kambing dipegang talinya, orang itu dipegang ucapannya. Maka waspadalah, waspadalah!

******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here