Pesan Mi’raj dalam Syair Sufi

0
285 views

– Husein Ja’far Al Hadar, Penulis

Jakarta, Garut News ( Jum’at, 15/05 – 2015 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Segala sesuatu yang bersifat transendental bukan hanya sulit, tapi juga mustahil untuk dibahasakan. Satu-satunya bahasa yang bisa digunakan untuk mendekatinya adalah bahasa para penyair yang sarat akan metafor dan simbol, serta berdimensi multitafsir, sehingga, sebagaimana diungkapkan penulis Annemarie Schimmel, para sufi lebih memilih bersyair untuk mengenang dan menjelaskan kisah kudus (heilsgeschichte).

Karena itu, sebagaimana ditulis McKane dalam A Manuscript on the Mi’raj in the Bodleian, sejarawan Arab ketika berbicara dan menulis tentang peristiwa mi’raj Nabi Muhammad, banyak bertumpu pada sumber-sumber ungkapan puitis para sufi. Sebab, jika tidak, mereka akan dangkal dan tekstualis.

Maka, tulisan ini akan memaparkan pesan transendental dalam peristiwa mi’raj melalui pembacaan atas ungkapan syair para sufi yang karena kedalaman dan keluasan cakupan sebuah syair, sehingga pesan-pesan itu menjadi selalu relevan bagi masyarakat muslim kontemporer.

Pertama, mengacu pada Jalaluddin Rumi, Yunus Emre dalam Divan-nya, saat menjelaskan tentang posisi Jibril dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, ia bersyair, “Bagi para pencinta, bahkan Jibril sekali pun adalah hijab.”

Syair itu sebenarnya merupakan penjelasan dari hadis Nabi, “Bagiku ada suatu momen dengan Allah yang bahkan Jibril, ruh kudus, sekalipun tak bisa memasukinya.” Bagi Rumi, dalam Matsnawi-nya, Jibril di sana adalah simbol akal, yang bisa mengantar orang ke pintu Sang Kekasih, tapi tak diizinkan untuk mengalami kemanunggalan cinta.

Memang begitu, Musa pun (yang kerap dinilai sebagai simbolisasi nabi dengan keunggulan rasio) tak kuasa dan pingsan di Bukit Tursina.

Bagi penulis, itu merupakan salah satu pesan suci Isra’ Mi’raj, di mana ia menegaskan posisi akal yang begitu penting, sakral dan mulia, tapi juga tetap patut disadari bahwa ia memiliki batasan yang jika itu dilampaui justru menjadi bencana bagi subyeknya.

Kedua, dalam karyanya yang berjudul Javidnama, Muhammad Iqbal, saat bersyair tentang mi’raj, memposisikan Nabi sebagai tokoh sentral bagi kehidupan spiritual Islam dengan ungkapan yang sungguh dahsyat, “Tuhan dapat kau ingkari, namun Nabi tidak!”

Ungkapan itu mungkin terdengar sumbang bagi para teolog, apalagi fukaha. Tapi, sebaliknya, bagi seorang sufi, filsuf, atau penyair. Sebab, dalam sebuah hadis, Allah menyebutkan Dia sendiri sebagai gudang misteri yang ingin dikenal, sehingga Dia ciptakan Nabi agar Dia dikenal.

Artinya, Nabi, sebagai makhluk, merupakan manifestasi paling sempurna dari-Nya. Karena itu, melalui kesempurnaan beliau sebagai ciptaan, Allah menampakkan “wujud”-nya di tengah-tengah manusia, sehingga sosok Nabi itu secara tak langsung menjadi bukti keberadaan-Nya yang mustahil untuk diingkari.

Akhirnya, mi’raj sebenarnya juga bisa dialami dan dirasakan manusia, ketika mereka secara khusyuk melakukan shalat. Begitu pula sebagian sufi yang telah mencapai tingkatan tertinggi, juga telah mengalami pengalaman transendental (ekstase) dengan-Nya.

Dan, dalam konteks itu, syair lah yang bisa menjadi bahasa yang tepat untuk menjelaskannya, sehingga pengalaman semacam itu tak hanya menjadi konsumsi subyeknya, tapi juga keteladanan bagi umat.

Kolom/artikel Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here