Pesan Folklor

Heri Priyatmoko, Alumnus FIB UGM

Jakarta, Garut News ( Selasa, 21/01 – 2014 ).

Ilustrasi, Inilah Hulu Sungai "Daerah Aliran Sungai" (DAS) Cimanuk. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi, Inilah Hulu Sungai “Daerah Aliran Sungai” (DAS) Cimanuk. (Foto: John Doddy Hidayat).

Peringatan nenek moyang dalam melihat bahaya lingkungan, yang mengancam kehidupan manusia, sering dikemas melalui cerita rakyat atau folklor.

Hampir semua kebudayaan etnik di Nusantara melahirkan cerita rakyat untuk membungkus realitas sosial dan pengetahuan lokal, yang kemudian diwariskan kepada anak-cucu.

Manusia modern Indonesia diminta mengupas dan menaati pesan cerita lisan peninggalan leluhur, apabila tidak sudi ditimpa bencana alam.

Bapak folklor terbaik kita yang baru saja tutup usia, James Danandjaja, menerangkan bahwa folklor merupakan alat pendidikan dan berfungsi sebagai sarana kontrol masyarakat.

Saat bencana banjir melanda di beberapa kota di Indonesia, tiba-tiba saya teringat akan khazanah kebudayaan negeri ini yang memiliki sejumlah folklor perihal air dan hutan.

Ada pula kisah sejarah lokal yang telah menjadi legenda, lantaran serpihan bukti historisnya sudah hilang.

Alhasil, masyarakat cenderung memaknai kenyataan sejarah itu sebagai folklor.

Sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo tersimpan sederet cerita rakyat yang kini nyaris dilupakan masyarakat pendukungnya.

Misalnya, Cariyos Jaka Tingkir.

Tempo doeloe, beberapa titik kedung sungai legendaris itu kondisinya terawat.

Airnya juga jernih karena warga mempercayai folklor untuk memelihara daerah yang dikeramatkan itu.

Bibir sungai tidak boleh digerus, hanya ditujukan untuk mandi dan mencuci.

Bengawan Solo tidak menjadi asbak raksasa seperti sekarang, yang akhirnya menyebabkan pendangkalan dan banjir.

Di Jakarta, hidup cerita rakyat si Japet yang jadi pegangan masyarakat dalam memelihara Situ Mangga Bolong.

Terkisah, si Japet ialah seorang buronan yang bersembunyi di dalam air di Situ Mangga Bolong.

Wujudnya adalah binatang yang menunggui situ.

Mitos tersebut menjaga kesadaran kolektif penduduk setempat untuk memperlakukan sumber daya air di Situ Mangga Bolong sebagaimana mestinya, secukupnya.

Kemudian, beberapa hutan di Jawa digambarkan sebagai tempat bersemayamnya lelembut.

Ada gundul pringis, jrangkong, banas pati, dan sundel bolong.

Cerita mistik tersebut sengaja dirangkai nenek moyang supaya kita menjaga dan melestarikan hutan, bukan malah menebangi dan membakar pohon yang merindangi hutan.

Folklor ini dengan sendirinya menjaga hutan agar tetap berfungsi sebagai penyerap air, pelindung erosi, dan perisai terhadap gangguan alam seperti badai dan topan.

Terdapat kisah yang tragis.

Pada periode 1960-an, masyarakat Surakarta dan sekitarnya kelabakan gara-gara banjir.

Selama dua hari, Solo menjadi “kota mati”.

Setelah ditelusuri, penyebab datangnya musibah banjir itu adalah penebangan hutan di hulu Sungai Bengawan Solo.

Rata-rata cerita rakyat yang merupakan pusaka budaya etnik mengajak kita untuk merenungkan dan menghayati pesan bahwa lingkungan alam, termasuk hutan, sungai, mata air, dan semua yang hidup di gunung dan rawa-rawa itu “ana sing kagungan” (ada pemiliknya).

Sebab itulah, kita sebagai pewaris tidak boleh sembarangan mengambil dan mengeksploitasinya secara berlebihan.

Murkanya alam, seperti datangnya banjir yang mengepung Jakarta, lantaran buah dari perilaku kita yang tak lelah memperkosa alam.

**** Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment