Pertama di Dunia

0
28 views

Garut News ( Rabu, 06/07 – 2016 ).

Seven Stone Antas, makam berusia 6.000 tahun di Portugal, merupakan alat pengamatan benda langit pertama yang menyerupai teleskop. ( University of Wales Trinity Saint David/Nottingham Trent University).
Seven Stone Antas, makam berusia 6.000 tahun di Portugal, merupakan alat pengamatan benda langit pertama yang menyerupai teleskop. (University of Wales Trinity Saint David/Nottingham Trent University).

– Sebuah makam yang ditemukan di Portugal mengejutkan ilmuwan sebab bukan hanya berfungsi untuk pekuburan tetapi juga teleskop.

Seven Stone Antas, nama makam itu, dinobatkan sebagai teleskop tertua di dunia, perangkat pertama yang memungkinkan manusia melihat bintang tanpa lensa.

Makam dari zaman Neolitik itu punya konstruksi unik. Bagian “gerbang”-nya terdiri dari tujuh puing batu besar yang membentuk sebuah lorong panjang.

Lorong tersebut mampu memmblokir cahaya sekitar sehingga memungkinkan “astronom” zaman batu memfokuskan pandangan pada bidang langit tertentu.

Fabio Silva, ilmuwan dari Universitas Wales Tronity Saint david, Inggris, mengatakan, makam itu dibangun dengan penuh perencanaan.

Lorong makam diarahkan sedemikian rupa sehingga mengarah ke bintang Aldebaran, salah satu bintang paling terang dilihat dari Bumi.

“Waktu terbit Aldebaran pertama tiap tahun adalah akhir April hingga Awal Mei pada 6.000 tahun lalu,” kata Silva seperti dikutip The Guardian, 30 Juni 2016.

Waktu terbit Aldebaran bertepatan dengan permulaan musim panas dan masa tepat untuk bertani. “Itu akan sangat bagus, penanda waktu yang tepat bagi penduduk saat itu untuk berpindah ke dataran lebih tinggi,” imbuhnya.

Daniel Brown, astronom dari Universitas Nottingham Trent, Inggris, mengungkapkan, penduduk masa lalu biasa mengunjungi makam dan bermalam sebagai bagian dari ritual dan sekaligus mengamati bintang.

Brown mengungkapkan, lorong makam mampu menciptakan lingkungan minim cahaya yang tak mungkin didapatkan di luar kompoleks makam.

“Lorong membuat semacam lubang bidik kamera dengan sudut 10 derajat. Jika seseorang melakukan pengamatan dengan mata telanjang, itu sangat terbatas,” jelas Brown.

Penemuan ini juga menguak budaya masyarakat kuno terkait kosmologi serta memberikan pengetahuan tentang bagaimana mereka memaknainya.

“Ini memberikan pandangan bahwa astronomi merupakan bagian dari pengalaman hidup, lingkungan, dan langit,” imbuh Brown seperti dikutip Livescience, 39 Juni 2016.

Penemuan ini dipresentasikan pada 29 Juni 2016 lalu dalam pertemyan tahunan yang diselenggarakan Royal Astronomical Society di Nottingham, Inggris.

******

Penulis : Kontributor Sains, Monika Novena
Editor : Yunanto Wiji Utomo/Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here