Permukiman yang Berbudaya Adiluhung

0
28 views

– Untung Suropati, pemerhati pemberdayaan

Jakarta, Garut News ( Sabtu, 02/05 – 2015 ).

Ilustrasi. Dipertahankan, Dijaga, dan Dipelihara.(Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Dipertahankan, Dijaga, dan Dipelihara.(Foto : John Doddy Hidayat).

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini sedang merintis pembangunan permukiman yang berbudaya adiluhung. Pengertian permukiman berbudaya adiluhung masih sangat terbuka untuk ditafsirkan.

Satu di antara penafsiran adalah sebuah permukiman yang dipersiapkan untuk memperoleh penghargaan: Adiupaya Puritama; permukiman dengan peringkat IPM (indeks pembangunan manusia) penghuninya di atas nilai 71,17 (IPM rata-rata nasional); permukiman yang memperoleh penghargaan setara Kalpataru untuk lingkungannya yang bersih dan sehat; memperoleh penghargaan atas nilai indeks perilaku peduli lingkungan (IPPL) mendekati nilai mutlak 1 (satu); memperoleh penghargaan untuk pelestari seni-budaya tradisional; memperoleh Aga Khan untuk arsitekturnya; dan memperoleh penghargaan Wirausaha Mandiri Award.

Gagasan permukiman berbudaya adiluhung termotivasi oleh catatan sejarah berikut ini. Pertama, pada 1325 ada suku Aztec di Meksiko yang kaya dengan warisan kebudayaan, dari seni, arsitektur, sampai sistem pengelolaan komunitas dan pemerintahan.

Ilustrasi. Tokoh Muda Warga Adat Kampung Dukuh, Yayan Bersama Tetua Adat Setempat, Apresiatif Sambut Bhakti Yahintara (2014)...(Ist).
Ilustrasi. Tokoh Muda Warga Adat Kampung Dukuh, Yayan Bersama Tetua Adat Setempat, Apresiatif Sambut Bhakti Yahintara (2014)…(Ist).

Menurut referensi dari berbagai literatur, kaum Aztec mempunyai kemampuan seni yang artistik, mewajibkan anak-anak sekolah, memiliki sistem yang canggih untuk menulis dan menyimpan catatan (data), juga memainkan berbagai olahraga yang sampai saat ini masih diminati.

Kedua, ilmuwan dari University of Queensland berhasil menemukan permukiman tertua di dunia yang berada di ketinggian 2.000 meter di Papua New Guinea, yang diperkirakan ada pada 49.000 tahun lalu.

Bayangkan, bagaimana mungkin tanpa peralatan dan infrastruktur canggih, ada permukiman manusia di lingkungan yang sangat dingin, lembap, dan sangat tidak kondusif di masa puncak Zaman Es?

Ketiga, ditemukan permukiman kota dengan sejarah panjang yang lebih daripada sekadar arsitektur yang indah dan artefak yang unik. Kota-kota tersebut penuh kisah atau legenda yang luar biasa dilihat dari bukti-bukti sejarahnya.

Ilustrasi Kontruksi Julang Ngapak Wanaraja Garut (1921), Diadopsi Kampus Utama ITB. (Ist/ Foto Repro : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi Kontruksi Julang Ngapak Wanaraja Garut (1921), Diadopsi Kampus Utama ITB. (Ist/ Foto Repro : John Doddy Hidayat).

Hal itu, antara lain, adalah permukiman kota seperti Byblos, Aleppo, Damaskus, dan Jericho, yang disebut sebagai “permukiman kota tertua di dunia”.

Dari beberapa permukiman yang ditemukan terdahulu, ada hal yang dapat menjadi catatan mengenai persiapan perwujudan permukiman berbudaya adiluhung, antara lain: permukiman terdahulu dibangun dengan visi of outstanding quality atauhighly esteemed (adiluhung).

Para arsitek, pemikir, budayawan, seniman, dan penguasa pada zaman itu berusaha menggapai ketinggian mutu, keindahan dan kehalusan, juga keluhuran.

Ilustrasi. Julang Ngapak (1925). /Ist (Foto Repro : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Julang Ngapak di Negla (1925). /Ist (Foto Repro : John Doddy Hidayat).

Permukiman dibangun atas dasar olah karsa, rasa, dan karya yang berorientasi pada budaya dan perkembangannya, tidak sekadar berpijak pada fungsi bangunan di permukiman.

Mengapa DIY? Dari sisi sejarah, DIY sarat nilai-nilai budaya. Untuk itu, Yogyakarta sangat mungkin mewujudkan perintisan permukiman berbudaya adiluhung.

Banyak hal yang mendukung, antara lain, adalah predikatnya sebagai pusat budaya, para senimannya yang sangat kreatif dalam olah karsa, rasa dan karya, para budayawannya yang giat menjadi pelestari budaya, serta rakyatnya yang menjunjung tinggi keraton sebagai panutan estetika dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

Dan sudah tentu ada Sultan Hamengku Buwono X yang demikian dihormati sekaligus dicintai seluruh rakyat Yogya Istimewa.

*******

Kolom/Artikel Tempo.co