Permenkeu Picu Kenaikan Harga Daging Sapi Lokal Garut

0
27 views

“Meski Harga Meningkat dan Omset Penjualan Melorot, Tetapi 40 Pedagang Daging Sapi di Pasar Ciawitali Guntur Masih Tetap Berjualan”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 21/01 – 2016 ).

H. Dayat Bersama Akhmad Wahyudin.
H. Dayat Bersama Akhmad Wahyudin.

Terdapatnya “Peraturan Menteri Keuangan” (PMK) yang antara lain menerapkan “Pajak Pertambahan Nilai” (PPN) sebesar 10 persen bagi kalangan importir sapi, ternyata memicu kenaikan harga daging sapi lokal di Pasar Ciawitali Guntur, Garut, Jawa Barat.

Sehingga komoditi tersebut, semula bisa diperoleh dengan harga Rp90 ribu per kilogram. Namun sejak Rabu (20/01-2016) menjadi bertengger pada harga berkisar Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Kepala UPTD Pasar pada Disperindag kabupaten setempat H. Dayat, S.Sos didampingi Kepala Subag Tata Usaha Akhmad Wahyudin, SE katakan, berdasar kegiatan “inspeksi mendadak” (Sidak) jajarannya terdapat mendadak-sontaknya kenaikan harga mata dagangan itu, berlangsung pada 40 pedagang atau kios daging sapi di komplek pasar ini.

Padahal berdasar Peraturan Pemerintah (PP) No. 144/2000 mengenai regulasi jenis barang dan jasa yang dikenakan PPN, daging sapi tak termasuk atawa non “Barang Kena Pajak” (BKP).

Omset Penjualan Menjadi Sepi, Bahkan Menurut Sekitar 50 Persen.
Omset Penjualan Menjadi Sepi, Bahkan Menurut Sekitar 50 Persen.

Kemudian berdasar PP No.12/2001 yang dirubah dengan PP No.31/2007 antara lain menyebutkan daging sapi termasuk barang hasil peternakan yang tergolong barang kena pajak tertentu yang bersifat strategis.

Tetapi H. Dayat beserta Akhmad Wahyudin sangat mengapresiasi positip kepada para pedagang, lantaran  meski harga meningkat dan omset penjualan melorot, tetapi 40 pedagang daging sapi di Pasar Ciawitali Guntur Masih Tetap Berjualan.

Sedangkan pada daerah lainnya di luar Kabupaten Garut, banyak di antara pedagang daging melakukan mogok berjualan.

Namun menurut pejabat pada Disnakanla Garut Dida Karyana, penerapan PPN sepuluh persen hanya pada kalangan importir daging sapi, sedangkan mengenai produk daging sapi lokal, Dida Karyana mengaku kurang memahaminya jika berdampak terjadinya kenaikan harga.

Pada bagian lain keterangannya H. Dayat beserta Akhmad Wahyudin mengemukakan, terjadinya kenaikan harga produk daging sapi lokal tersebut, sangat memukul kalangan konsumen antara lain terutama para penjual bakso, serta rumah makan Minang.

Dipastikan berefek domino pula terjadi kenaikan harga pada tingkat konsumen pada umumnya, maupun bisa saja ada kemungkinan porsi daging bakso serta porsi daging di rumah makan dikurangi.

Bahkan sejak kemarin omset penjualan daging sapi pasa setiap seluruh 40 pedagang di Pasar Ciawitali Garut, menjadi menyusut sekitar 50 persen, ungkap H. dayat dan Akhmad Wahyudin.

Padahal kata mereka, produk daging sapi lokal Garut selama ini dipasok dari Kampung/Desa Margawati, Cisurupan, Cikajang, serta dari Cijapati perbatasan Garut dengan Bandung.

Pengusaha sekaligus pedagang daging sapi di Pasar Ciawitali Guntur H. Asep Sudrajat Karniwa selama ini akrab disapa “Haji Asep” kepada Garut News mengemukakan, penerapan PMK itu sangat berdampak pada kenaikan harga daging sapi lokal.

Sehingga terpaksa pihaknya menjual pada konsumen pada harga berkisar Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Sedangkan dampak lainnya, omset penjualan menurut sekitar 50 persen. Dari semula rata-rata bisa menghabiskan produk daging dari lima ekor sapi lokal, kini hanya terjual produk daging dari tiga ekor sapi lokal, katanya.

******