Permasalahan Sampah Garut Masih Tak Kunjung Terselesaikan

0
183 views
Jalan Pintas Medmbakar Sampah.

Garut News ( Sabtu, 17/03 – 2018 ).

Ilustrasi Jalan Pintas Membakar Sampah.

Mekanisme pengelolaan penanganan persampahan di Kabupaten Garut hingga kini masih menuai persoalan tak kunjung terpecahkan. Padahal volume sampah beragam jenis kian meningkat seiring pertumbuhan, dan perkembangan penduduk terus bertambah.

Sehingga selain tak sedap dipandang, sampah juga menimbulkan keluhan warga maupun pengguna jalan. Tumpukan sampah kerap berakibat bau tak sedap lantaran terlalu lama tak terangkut ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA) maupun Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah.

“Coba saja kita pergi jalan-jalan ke sembarang lokasi di Garut. Pasti ditemukan gundukan sampah di pinggiran jalan tak tertangani. Terutama di daerah-daerah. Kemudian, sekarang ini, sungai mana di Garut bebas pencemaran sampah ?” ungkap Agus M (46) penduduk Balubur Limbangan Timur Kecamatan Balubur Limbangan, Jum’at (16/032018).

Padahal sejak 2014, pengelolaan penanganan persampahan diatur dengan Peraturan Daerah (Perda) kabupaten setempat Nomor 4/2014 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Bahkan Rudy Gunawan dan Helmi Budiman juga sempat mencanangkan Gerakan Kebersihan hari pertama kerjanya paskadilantik sebagai Bupati, dan Wakjl Bupati Garut pada 24 Januari 2014 silam berambisi mengembalikan citra kota Garut sebagai kota intan.

Kota dikenal dengan kebersihan, kerapihan, dan keasriannya di era 1960-an. Namun gerakan tersebut ternyata tak bertahan lama.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Asep Suparman mengakui Perda Nomor 4/2014 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga itu belum berjalan secara efektif.

Terutama lantaran masih terbatasnya cakupan wilayah layanan angkutan persampahan, termasuk minimnya jumlah armada angkutan sampah beserta Sumber Daya Manusia (SDM) dibutuhkan, serta sarana lainnya. Juga, masih kurangnya tingkat kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah.

Menurut dia, jumlah armada angkutan (truk) sampah tersedia kini hanya 38 unit. Itu pun sebagian besar berusia cukup tua, produk 1989, dan 1991, bahkan lima unit di antaranya berkondisi rusak maupun mogok.

Sehingga cukup membebani biaya pemeliharaan. Sebab 33 unit armada angkutan sampah beroperasional ini mesti melayani 50 rute setiap harinya.

Alat berat tersedia empat unit, tiga unit di antaranya ditempatkan di TPA Pasirbajing, dan satu unit pada Bidang Kebersihan. Seperti halnya angkutan truk sampah, kebanyakan alat berat itu pun terbilang berusia cukup tua maka sering mengalami kerusakan onderdil.

“Dengan kekuatan armada seperti ini, cakupan pelayanan kita mencapai sebelas kecamatan, terutama wilayah perkotaan, dan sekitarnya. Sedangkan daerah utara, dan selatan sama sekali tak terlayani. Padahal kita sempat mengajukan agar TPA diadakan di tiga titik wilayah agar cakupan pelayanan kita mampu menjangkau semua wilayah,” imbuh Asep.

Volume sampah pun terus – menerus mengalami peningkatan sekitar 20 persen per tahun. Volume sampah di kawasan perkotaan saat ini mencapai sekitar 180-200 ton per hari. Kebanyakan berupa sampah rumah tangga, disusul sampah pasar, dan lainnya. Diperlukan pengangkutan sampah sekitar 2-3 rit per hari.

Dengan terbatasnya cakupan layanan pengangkutan sampah, Asep meminta setiap pemerintah kecamatan hingga pemerintah desa/kelurahan terutama yang daerahnya belum terlayani agar pro aktif mengajak masyarakat sadar pentingnya mengelola sampah secara benar, dan efektif tanpa harus bergantung pada pemerintah.

Hal itu juga agar kebersihan, dan kenyamanan lingkungan mereka tetap terjaga dengan sebaik mungkin, imbuhnya pula.

*********

NZ/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here