Permainan Proyek Wawan

Garut News, ( Ahad, 27/10 ).

Ilustrasi. (Ist).
Ilustrasi. (Ist).

Indikasi korupsi ini terlalu mencolok diabaikan.

Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan diduga berperan besar memainkan proyek di Banten.

Adik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah ini memiliki jaringan perusahaan memonopoli tender pengadaan.

Itu sebabnya, upaya KPK mengendus permainan proyek ala Nazaruddin ini pantas diapresiasi.

Wawan, kini ditahan KPK lantaran terlibat suap sengketa pemilihan kepala daerah, amat berpengaruh secara bisnis-politik.

Ia Ketua Kamar Dagang dan Industri Banten, menggantikan ayahnya, Tubagus Chasan Shohib.

Dinasti Chasan menguasai sejumlah kabupaten dan kota, termasuk Tangerang Selatan dipimpin istri Wawan, Airin Rachmi Diany.

Permainan proyek tak selalu berkaitan dengan politik dinasti, kendati dua hal ini dipisahkan dalam kasus Wawan.

Orang masih ingat, bekas Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazaruddin pernah pula memiliki jaringan perusahaan di bawah Grup Permai, memonopoli proyek sejumlah kementerian.

Modusnya amat simpel.

Ia meminjam banyak nama perusahaan mengikuti lelang, lalu mengutip fee miliaran rupiah dari setiap proyek dimenangi.

Nazar bisa mengatur permainan ini lantaran daya politiknya besar saat itu sebagai petinggi Demokrat sekaligus anggota DPR.

Wawan pun lihai menggunakan pengaruh politik klan Chasan.

Ia bisa mengajak sejumlah anggota Badan Anggaran DPRD Banten jalan-jalan ke Singapura menonton balapan F1.

Wawan disebut-sebut pula kerap menggelar rapat proyek dengan para kepala dinas Tangerang Selatan di markas bisnisnya di kawasan Kuningan, Jakarta.

Permainan proyek berlangsung lama itu menunjukkan lemahnya fungsi pengawasan.

Mekanisme pengawasan tender tak berjalan.

Fungsi pengawasan DPRD melempem.

Kepolisian dan kejaksaan setempat tak berfungsi kendati berwenang mengusut korupsi.

Lembaga lain, seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha dan BPK, pun seakan dilecehkan.

Padahal mudarat permainan proyek itu amat gamblang: ratusan miliar anggaran daerah menguap.

Itulah pentingnya KPK mengusut tuntas permainan proyek di wilayah kekuasaan Gubernur Atut dan kerabatnya.

Petugas Komisi mendatangi Dinas Kesehatan di Banten, dan Tangerang Selatan menyelidiki proyek pengadaan alat kesehatan.

Tetapi jaringan Wawan sebetulnya tak cuma menguasai pengadaan alat kesehatan.

Mereka memonopoli nyaris semua proyek besar, termasuk proyek konstruksi di wilayah Banten.

Kelompok Wawan memakai banyak perusahaan baru-sebagian berkantor di satu lokasi–pengalamannya diragukan.

Tak sedikit pula perusahaan dimiliki secara langsung keluarga Atut-Wawan memenangi proyek pemerintah daerah.

Sulit membayangkan permainan proyek ala Wawan tak menabrak prinsip pengadaan yang adil, transparan, dan akuntabel.

Dan rakyat hanya bisa berharap pada KPK membongkarnya.

**** Opini/Tempo.co

Related posts