Peredaran Gelap Narkoba dan HIV/AIDS Gerogoti NKRI

0
98 views
Ilustrasi. Peredaran Gelap/Penyalahgunaan Narkoba Serta HIV/AIDS, Lebih Berbahaya Daripada "Raja Singa".

“Peredaran Gelap/Penyalahgunaan Narkoba Serta HIV/AIDS, Lebih Berbahaya Daripada ‘Raja Singa'”

Garut News ( Selasa, 26/12 – 2017 ).

Oleh John Doddy Hidayat

Ilustrasi. Peredaran Gelap/Penyalahgunaan Narkoba Serta HIV/AIDS, Lebih Berbahaya Daripada “Raja Singa”. (Foto : John Doddy Hidayat).

Masih masifnya peredaran gelap Narkoba serta penyalagunaannya, yang kini semakin diperparah kian merebak-maraknya beragam kalangan terinsfeksi HIV/AIDS.

Jika gagal dicegah dan diberantas, maka dipastikan bisa ‘menggerogoti’ keutuhan ‘Negara Kesatuan Republik Indonesia’ (NKRI).

Lantaran kejahatan luar biasa peredaran gelap Narkoba tersebut, hingga kini berlangsung dengan pelbagai cara menyusup juga menguasai dimensi ruang dan waktu, membidik pangsa pemasaran yang dinilai sangat potensial di negeri Bernama Indonesia ini.

Sehingga korban penyalahgunaannya nyaris terdapat dimana pun, tak hanya penduduk perkotaan melainkan merangsek hingga wilayah pedesaan bahkan perkampungan pada semua kalangan.

Semakin banyaknya korban berjatuhan akibat penyalahgunaan barang haram itu, selain memerlukan waktu lama proses penyembuhan serta pemulihannya, juga apabila menyerang motorik otak manusia bakal sangat sulit bisa kembali normal.

Padahal biaya proses penyembuhan dan pemulihannya juga sangat besar, termasuk pada wahana rehabilitasi yang bersumberkan APBN. Pada gilirannya pula Bangsa Indonesia bakal kehilangan sumber daya manusianya yang berkualitas.

Narkoba (Narkotika, Psikotropika dan Bahan/zat Adiktif lainnya).  Narkotika zat atau obat berasal dari tanaman maupun bukan tanaman sintetis dan semi sintetis yang bisa menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, serta menimbulkan ketergantungan.

Psikotropika, zat atau obat alamiah maupun sintetis bukan narkotika berkhasiat psikotropika melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Sedangkan zat adiktif,  bahan yang penyalahgunaannya menimbulkan ketergantungan psikis.

Sedikitnya di seluruh dunia beredar 348 jenis narkotika baru “new phsycoactive substances” (NPS), di wilayah Indonesia ditemukan sekitar 29 jenis NPS menghasilkan efek sama seperti ekstasi dan sabu-sabu, malahan beberapa NPS berdampak lebih berbahaya dan mematikan.

Pada 2011 silan diperoleh estimasi angka penyalahguna Narkoba di Indonesia mencapai prevalensi 2,2 persen dari penduduk berusia 10 – 59 tahun setara 3,8 juta jiwa. Sekitar 15 ribu anak bangsa mati sia-sia lantaran penyalahgunaan narkotika.

Bahaya penyalahgunaan Narkoba tak hanya berdampak pada fisik, tetapi berdampak buruk pada kesehatan dan kelangsungan hidup. Selain merusak masa depan, bisa merenggut nyawa seseorang, termasuk hilang kesadaran.

” HIV/AIDS “

“Human Immuno-deficiency Virus” (HIV), Virus hanya bisa menginfeksi manusia. Virus, yang menjadikan tubuh manusia turun sistem kekebalannya , sehingga tubuh gagal melawan infeksi. Virus ini, karakteristiknya mereproduksi diri sendiri didalam sel darah manusia.

Sedangkan “ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROM” (AIDS), Kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh lantaran terdapatnya HIV di dalam tubuh.

Siapa pun yang terinsfeksi HIV/AIDS berkondisi sangat kronis, dipastikan kehilangan produktivitas terutama pada usia produktif sekalipun, proses penyembuhannya pun sangat lama juga menelan biaya besar.

Menyusul  “Antiretroviral” (ARV), yang ternyata hanya bisa menekan laju perkembangbiakan HIV di dalam darah. Harganya pada Lini pertama Rp300.000 – Rp350.000 per bulan, disusul Lini kedua Rp1 juta – Rp1,2 juta per bulan, serta Lini ketiga 3.000 dollar AS (Rp 37,97 juta) per tahun.

Maka jika seorang ayah tertular HIV, kemudian sampai masa AIDS dan mengidap penyakit terkait HIV/AIDS: maka dampak yang dialami yaitu besarnya pengeluaran biaya pengobatan, serta perawatan.

Malahan pada kondisi kepala keluarga tersebut tidak bisa bekerja, dipastikan menjadikan istri beserta anak-anak berkorban dengan beratnya beban ekonomi keluarga, sebab harus pula sekaligus mengurus ayah.

Jika kalangan remaja dan kaula muda yang terinsfeksi, bakal semakin menambah beban orang tua, juga termasuk negara yang menyediakan ARV.

Sehingga Keutuhan NKRI juga bisa terancam semakin digerogoti penyalahgunaan peredaran gelap Narkoba, dan para korban tak berdaya terinsfeksi HIV/AIDS.

********

Pelbagai Sumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here