Perebutan Kue Ekonomi di MEA

0
5 views

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 03/12 – 2015 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlaku per 31 Desember 2015 akan mengintegrasikan lebih dari 600 juta orang dengan pendapatan nasional bruto sebesar US$ 2,4 triliun. Tak pelak lagi, konsekuensi dari adanya MEA ini adalah bebasnya aliran produk, modal, jasa, dan tenaga kerja di antara negara anggota ASEAN.

Hilangnya batas-batas antar-negara anggota MEA akan membuat pelaku ekonomi memperoleh faktor-faktor produksi sekaligus bisa semakin luas memasarkan hasil produksi. Ada keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi akan bergerak lebih cepat, meskipun dengan konsekuensi ketimpangan ekonomi antar-anggota MEA akan semakin melebar.

Ilustrasi. Bisakah Berdaya Saing...?
Ilustrasi. Bisakah Berdaya Saing…?

Sebab, negara kuat akan mengambil porsi “kue ekonomi” lebih banyak dibanding negara yang lemah. Maka, perlu diwaspadai siapa yang akan mengambil “kue ekonomi” Indonesia dan bagaimana strategi untuk memperbesar “kue ekonomi” kita.

Semua negara anggota MEA, kecuali Singapura dan Brunei, memiliki karakter yang hampir sama dengan Indonesia. Industri yang bersifat padat karya serta industri pertanian dan yang terkait dengan pertanian adalah tipikal penopang ekonomi negara anggota MEA, ke cuali dua negara tersebut.

Karena kemiripan ini, tiap negara tidak punya keunggulan absolut. Semua negara hanya bergantung pada keunggulan komparatif yang bersifat dinamis.

Singapura memiliki karakter yang berbeda dengan negara-negara anggota MEA lain. Telah lama Singapura menganut perekonomian yang lebih terbuka. Barang dan jasa dengan leluasa keluar-masuk Singapura. Dalam Index of Economic Freedom 2015, Singapura berada di peringkat kedua seluruh dunia.

Dengan fakta ini, dapat dikatakan bahwa MEA hanyalah riak kecil bagi negara mungil itu. Lain halnya dengan Brunei. Brunei lebih mengandalkan keunggulan absolut berupa kekayaan alam. Negara kecil yang kaya itu banyak diuntungkan atas statusnya sebagai konsumen karena produk- produk ASEAN dapat diperoleh dengan lebih murah.

Selain Singapura dan Brunei, terdapat beberapa negara yang memberikan dampak besar bagi perekonomian Indonesia. Negara-negara yang memiliki wilayah geografis paling dekat dan punya kemiripan komoditas hasil industri, itulah yang perlu diwaspadai.

Paling tidak ada tiga negara yang memiliki kriteria itu, yaitu Malaysia, Thailand, dan Filipina. Produk-produk dari tiga negara tersebut bersifat substitusi dengan produk dari negara kita.

Selain itu, Indonesia bersama tiga negara tersebut termasuk empat negara dengan perekonomian terbesar di seluruh ASEAN. Dengan karakter-karakter itu, tiga negara ini merupakan pesaing terdekat dalam perebutan “kue ekonomi”.

Dari segi indeks daya saing, Indonesia berada di peringkat ke-37 hanya unggul atas Filipina, yang menduduki peringkat ke-52, dan kalah oleh Malaysia dan Thailand, yang masing-masing ada di peringkat ke-18 dan ke-32.

Bagaimanakah langkah-langkah yang perlu diambil pemerintah untuk memperbesar porsi “kue ekonomi” jika melihat posisi negara-negara pesaing terdekat ini?

Pertama, efisiensi birokrasi dan kepastian hukum. Beberapa langkah yang perlu dilakukan di antaranya penyederhanaan perizinan usaha dan pemotongan biaya-biaya birokrasi yang menyebabkan produk kita tidak efisien.

Pelayanan investasi satu atap yang dicoba dikembangkan oleh pemerintah memang sudah mulai menunjukkan perbaikan, dari waktu tunggu yang berminggu-minggu menjadi dalam hitungan hari. Tapi, jika dibandingkan dengan Singapura, rasanya kita masih jauh tertinggal. Pelayanan investasi di negara itu dapat dilakukan dalam hitungan beberapa jam saja.

Kedua, perlindungan dan kepastian hukum tentang investasi di Indonesia. Demonstrasi tenaga kerja merupakan salah satu momok yang menyebabkan perusahaan menanggung biaya tinggi. Etika pekerja, seperti disiplin, ketaatan terhadap peraturan, dan etos kerja baik, merupakan beberapa hal yang memerlukan waktu untuk diperbaiki. Semua ini adalah pekerjaan rumah yang telah lama perlu diselesaikan.

Ketiga, pemberian insentif kepada para investor yang bersedia menanamkan modal di Indonesia. Langkah yang ditempuh Vietnam patut dicontoh. Vietnam memberikan tanah 3.000-5.000 meter persegi gratis kepada para investor yang bersedia menanamkan modal di negeri itu.

Keempat, perbaikan infrastruktur pendukung investasi. Salah satu infrastruktur terpenting adalah transportasi. Sehebat apa pun perusahaan melakukan efisiensi produksi, produk tetap tidak akan sampai ke tangan konsumen dengan harga kompetitif jika infrastruktur transportasi tidak efisien.

Perlu diingat, biaya transportasi dapat mencapai 10 persen dari harga pokok produksi, tergantung pada jenis produk. Selamat datang MEA, selamat datang kesempatan.

ANJAR PRIYONO | Direktur Pusat Pengembangan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

*********

Opini Tempo.co