Perbaikan Pelayanan Haji

0
10 views

Ilustrasi Fotografer : John Doddy Hidayat.

Garut News ( Senin, 24/08 – 2015 ).

Alun Alun Garut Diserbu Para Pedagang Menjelang Keberangkatan Calhaj, Selasa (23/09-2014) Pagi. Alun Alun Garut Diserbu Para Pedagang Menjelang Keberangkatan Calhaj,
Alun Alun Garut Diserbu Para Pedagang Menjelang Keberangkatan Calhaj, Selasa (23/09-2014) Pagi.
Alun Alun Garut Diserbu Para Pedagang Menjelang Keberangkatan Calhaj,

Kisruh visa haji pada jemaah kloter pertama keberangkatan tahun ini menunjukkan belum beresnya manajemen pelayanan haji. Para jemaah mengeluh visanya tak kunjung terbit. Padahal hari keberangkatan tiba.

Pemerintah mesti turun tangan menyelesaikan lambannya proses penerbitan visa dari Kedutaan Besar Arab Saudi. Pemerintah juga kudu memastikan proses selanjutnya akan berjalan lancar.

Kekacauan pelayanan itu terjadi pada Jum’at pekan lalu. Sekitar 300 calon haji dari pelbagai embarkasi urung terbang ke Tanah Suci gara-gara tak kunjung mendapatkan visa. Keberangkatan mereka pun harus dibatalkan.

Calhaj Asal Garut Terpaksa Berdesakan Bersama Ratusan Hingga Ribuan Pengantar, Mereka Bersamaan Berobsesi Bisa Cepat Memasuki Pelataran Atawa Halaman Gedung Pendopo Kabupaten Garut,
Calhaj Asal Garut Terpaksa Berdesakan Bersama Ratusan Hingga Ribuan Pengantar, Mereka Bersamaan Berobsesi Bisa Cepat Memasuki Pelataran Atawa Halaman Gedung Pendopo Kabupaten Garut,

Manajemen pengurusan visa haji tahun ini memang beda dengan tahun talu. Perbedaan itu menyangkut sistem pencatatannya: dari manual ke sistem elektronik. Sistem baru yang disebut e-hajj ini merupakan permintaan pemerintah Arab Saudi.

Pemerintah Indonesia pun berkomitmen melaksanakannya. Sejak musim haji 2015, seluruh proses dijanjikan sesuai perubahan tersebut.

Ternyata Kementerian Agama belum siap. Ketaksiapan terlihat mulai dari perangkat komputer dan perekrutan tenaga operator aplikasi baru di Internet tak berjalan mulus. Akibatnya, penerapan sistem elektronik haji, semestinya serba cepat, transparan, dan profesional, justru terhambat.

Padahal, jika sistem ini diterapkan benar, jemaah mendapatkan pelayanan lebih baik. Dengan sistem baru menjadi tanggung jawab pemerintah Indonesia ini, petugas haji bisa melayani jemaah dengan cepat.

Para jemaah pun sangat diuntungkan. Lewat e-hajj, sejak sebelum berangkat jemaah mengetahui lokasi penginapan, perusahaan katering melayani, serta angkutan selama di Arab Saudi. Cara pengundian penginapan seperti selama ini diterapkan pemerintah bagi jemaah pun tak ada lagi.

Indonesia perlu belajar dari sejumlah negara lebih dulu menerapkan e-hajj. India dan Malaysia, contohnya. Dalam melayani calon haji, kedua negara tersebut memerbarui pelayanan bisa diakses lewat Internet.

Pembaruan dimulai dari cara pembayaran biaya haji, negosiasi penginapan, pengaturan jarak penginapan dengan Ka’bah, hingga proses administrasi dengan pemerintah Arab Saudi. Jemaah pun bisa memantau semua proses keberangkatannya.

Negara lain lebih lama menerapkan sistem e-hajj adalah Turki dan Iran. Pemerintah kedua negara itu begitu serius menangani perubahan sistem ini. Bukan hanya soal proses pendataan, urusan melayani jemaahnya di Tanah Suci pun dijalankan sungguh-sungguh.

Seluruh proses pelayanan ini sangat memudahkan petugas haji kedua negara melayani para jemaah. Jemaah pun sangat diuntungkan.

Kita memang baru sekarang menerapkan sistem baru tersebut. Namun semestinya soal mendasar seperti lambannya penerbitan visa tak boleh terjadi. Perbaikan pelayanan, antara lain segera menyiapkan perangkat diperlukan, dan merekrut petugas operator terampil, tak bisa ditunda lagi.

Masih ada waktu, lantaran keberangkatan jemaah berlangsung hingga pertengahan September.

********

Opini Tempo.co