Perang Ganeas Masih Menyisakan Bangunan Masjid Majalaya

0
275 views
Masjid Agung Majalaya.

Garut News ( Jum’at, 08/02 – 2019 ).

Masjid Agung Majalaya.

Perang Ganeas, perang yang terjadi sekitar abad ke – 7 antara Kerajaan Cirebon dengan Sumedanglarang yang bersekutu dengan Banten. Hingga kini antara lain masih menyisakan peristiwa bersejarah berupa bangunan Masjid Agung Majalaya di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Alat Tenun Bukan Mesin’ menjadi Ikon Kejayaan Majalaya di Alun – Alun Depan Masjid Agung Majalaya.

Bahkan juga pada masa Pemerintahan Belanda dijadikan tempat untuk penyebaran Agama Islam, dan tempat beribadah.

Sedangkan halaman masjid kerap digunakan berkumpul, dan bermain anak – anak.

Sekarang bangunan ini pun, merupakan cagar budaya yang dituangkan di dalam Undang – Undang RI Nomor. 11/2010 Tentang Cagar Budaya.

Berarsitektur Sangat Mengagumkan.

Komplek masjid itu, berlokasi pada tanah wakaf dari TB. Zaenudin kepada Ketua BKM Kabupaten Bandung, seluas 5.890 m2 dengan Nomor Sertifikat 10.14.28.04.1.00686.

Masjid berarsitektur sangat memesona tersebut, semula merupakan sebuah surau dari bambu berlantai tembok di atas tanah wakaf dari Rd H. Tubagus Zainudin.

Sangat Fenomenal, dan Bernilai Sejarah Tinggi.

Kemudian pada 1939 dibongkar dan dibangun ulang yang lebih besar atas usulan Kades Majalaya H. Abdul Gafur didukung Rd. Hernawan Soemarjo sebagai Asisten Wedana (Camat) pada waktu itu.

Rd.H. Kosasih (Desa Cibodas) terpilih sebagai Ketua Panitia Pembangunan dibantu Rd. Dendadibrata (Desa Panyadap) sebagai Sekretaris, dan Ijradinata (Desa Majalaya) sebagai Bendahara.

Ruang Utama Masjid.

Pembangunan dimulai 1940 dengan dana awal 15.000 Gulden diperoleh dari anggota panitia yang sebagian para pengusaha. Proses pembangunannya melibatkan arsitek Ir. Suhamir, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Biaya pembangunan masjid juga diperoleh dengan menggalang sedekah amal jariyah dari masyarakat di Kecamatan Majalaya. Mereka juga menyumbangkan bahan bangunan antara lain berupa batu dan pasir.

Bahkan Rd. Hernawan Soemarjo berinisiatif beserta aparat desa berkeliling naik sepeda onthel hias mengajak masyarakat menyumbang masjid.

Miliki Pusat Informasi Masjid.

Pada 1942 bangunan Masjid berserta tempat berwudlu selesai, dan mulai dimanfaatkan masyarakat. Namun pada tahun sama setelah pecah Perang Dunia ke-2, pembangunan Masjid terhenti sementara lantaran sebagian masyarakat Majalaya mengungsi.

Malahan beberapa bagian Masjid rusak akibat terkena tembakan peluru pesawat Belanda.

Pada 1944, sempat menjadi Markas dan Basis pertahanan ‘Tentara Rakyat Indonesia’ (TRI) di Majalaya. Setelah Kemerdekaan pembangunan dan pengumpulan dana Masjid dimulai kembali.

Nyaman Juga Bersih.

Selain itu, dibangun pula Balai Nikah di sebelah utara Masjid. Pada 1950-an jendela-jendela Masjid semula hanya berupa lubang dipasang kaca, dan jendela terbuat dari kayu jati.

Pada 1982 tempat wudlu dipindahkan ke sebelah barat Masjid. Enam tahun kemudian, karena jemaah semakin banyak, maka kolam yang mengelilingi Masjid diubah menjadi Serambi (bale). Tempat wudlu pun diperbaiki dan jumlah toilet diperbanyak.

Sangat Mempesona.

Marbot Masjid ini, Deden Asrul kepada Garut News, Jum’at ( 08/02 – 2019 ), antara lain katakan diagendakan pemindahan ruang perpustakaan tak lagi posisinya di belakang, melainkan bisa menempati sebelah kanan depan masjid.

Sehingga letaknya menjadi strategis juga berdekatakan dengan SMK Muhammadiyah.

Dalam pada itu Shalat di Masjid ini sangat nyaman, sejuk, bersih, dan juga bisa menambah khu’su.

*******

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here