Perang Dunia I, Jihad Made in Eropa

0
42 views
Prajurit Muslim Inggris tengah melaksanakan shalat di tengah medan PD I. (Foto: ITV).

Senin 12 Nov 2018 14:03 WIB
Red: Karta Raharja Ucu

Prajurit Muslim Inggris tengah melaksanakan shalat di tengah medan PD I. (Foto: ITV).

“Propaganda jihad Eropa mencabik-cabik dunia Islam”

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fitriyan Zamzami

Pada hari-hari seperti ini, 13 November tepat 104 tahun yang lalu, ada pengumuman bersejarah di Konstantinopel. Saat itu, Sultan Mahmud V menyelenggarakan sebuah acara resmi, mengundang para ulama di Turki Utsmani serta menampilkan relik peninggalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Secara resmi, Sultan Mahmud V mengumumkan deklarasi “jihad”, mewajibkan Muslim sedunia angkat senjata melawan sekutu Inggris-Prancis-Rusia. Pada titik itu Islam secara de jure ditarik terlibat dalam Perang Dunia I. Muslim akan dihadap-hadapkan dengan Muslim lainnya dalam perang yang bakal mencabik-cabik wilayah Timur Tengah dan mewariskan konflik yang lestari hingga kini.

Hingga saat itu, Perang Dunia I adalah urusan bangsa-bangsa Eropa semata. Dipicu pembunuhan dan konflik di Balkan, negara-negara Eropa terbagi dalam dua sekutu besar Inggris-Prancis-Rusia melawan Jerman-Austria/Hungaria-Italia. Kekuatan-kekuatan kolonialis yang sejak abad ke-17 sudah terlibat perebutan wilayah-wilayah koloni.

Apa yang memicu keterlibatan Turki Utsmani dan deklarasi jihad tersebut? Apakah ia memang gerakan religius, atau tindakan yang lebih pragmatis?

Pada 1915 setahun selepas deklarasi, orientalis terkemuka Snouck Hurgronje sudah menerbitkan kesimpulannya bahwa panggilan jihad saat itu sedianya bukan murni inisiasi Kesultanan Turki Utsmani. Ia bahkan memberikan judul yang gamblang terkait analisisnya: Jihad Buatan Jerman.

Hurgronje berpandangan, konsep perang suci di dunia Islam saat itu sedianya sudah mulai luntur. Terpecah-pecahnya kawasan yang sempat dikuasai kerajaan-kerajaan Islam oleh kolonialisme Eropa membuat Muslim dalam posisi harus saling berhadapan dan melemahkan semangat jihad global.

Revolusi kaum liberal/nasionalis Young Turks di Turki pada 1908 sedianya membuka jalan pemisahan agama dan politik. Kendati demikian, menurut Hurgronje, Eropa tak bisa tinggal diam dengan keadaan tersebut.

“Kekuatan-kekuatan Eropa memastikan bahwa ide perang suci tak boleh dilupakan. Turki secara terus-menerus dipaksa melakukan jihad,” tulis Hurgronje dalam artikelnya.

Jerman sudah mulai menimbang penggunaan sentimen jihad untuk keuntungan mereka sejak akhir abad ke-19. Saat itu, menurut guru besar hubungan internasional di Universitas Bilkent di Turki, Sean McMeekin, dalam bukunya The Berlin-Baghdad Express (2010), Kaiser Wilhelm II tergoda dengan potensi memanfaatkan Turki selepas mengunjungi Sultan Abdul Hamid II.

Menurut Eugene Rogan dalam bukunya The Fall of the Ottomans (2014), ide itu dikentalkan orientalis dan diplomat Jerman Max von Oppenheim. Menjelang dan pada awal Perang Dunia I, Oppenheim secara gencar memimpin propaganda untuk memanfaatkan konsep jihad melawan kekuatan Inggris dan Prancis.

Rogan menuliskan, Oppenheim meyakinkan Wilhelm II bahwa Islam adalah senjata rahasia Jerman. Oppenheim juga meyakini kampanye propaganda yang sistematis dan tertata rapi akan mendorong komunitas Muslim melakukan pemberontakan di wilayah yang dikuasai Inggris dan Prancis di India, Afrika Barat dan Utara, serta Indocina dan Asia Tenggara.

Artikel-artikel yang mendorong jihad melawan Inggris-Prancis diterbitkan para orientalis Jerman. Di Zossen, Jerman, didirikan kamp bagi prajurit-prajurit Muslim dari Afrika Utara untuk mengesankan keberpihakan Jerman pada umat Islam. Dan yang utama, Jerman melakukan pendekatan ekonomi dan militer besar-besaran kepada Turki Utsmani.

Rencana itu akhirnya mendapat angin segar saat kaum unionis yang diwakili Komite Persatuan dan Kemajuan (CUP) menguasai Turki, menempatkan Sultan Mahmud V di singgasana, dan memutuskan persekutuan lama Turki dengan Inggris dan Prancis. Akhirnya, pada Agustus 1914 Jerman berhasil menyegel aliansi Mahmud V dan memicu sejumlah insiden yang mendorong kerajaan itu akhirnya terjun secara resmi dalam Perang Dunia I.

Sementara, di sisi lain, Prancis dan Inggris juga memanfaatkan Muslim dalam Perang Dunia I. Berbagai dokumen mencatat, sejak mula perang, Prancis telah merekrut sekitar 170 ribu pasukan Muslim dari wilayah jajahan mereka di Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Dari jumlah itu, pada akhir perang, sedikitnya 36 ribu gugur.

Sementara, Luc Ferrier dalam bukunya The Unknown Fallen (2018) menuliskan sebanyak 400 ribu Muslim dari wilayah jajahan Inggris di Asia Selatan juga ikut berperang. Ia mencatat, sedikitnya 2,5 juta pasukan Muslim berperang pada sisi sekutu Inggris-Prancis-Rusia dalam Perang Dunia I.

Seruan jihad dari Turki sempat memicu keengganan berperang pada pasukan Muslim yang harus menghadapi saudara-saudara seagama mereka. Kendati demikian, seperti disinggung dalam dokumenter Aljazirah “World War I Trough Arab Eyes”, keengganan tersebut kerap diredam dengan hukuman mati bagi prajurit yang membelot.

Sementara Jerman melancarkan propaganda jihad mereka, Inggris menggagas agenda mereka sendiri di Hijaz. Dokumen-dokumen sejarah mencatatkan bagaimana Kerajaan Inggris secara aktif mendorong penguasa-penguasa lokal di wilayah Hijaz dan Najd (wilayah Arab Saudi saat ini) untuk memberontak melawan kekuasaan Turki Utsmani.

Bahkan, sejak 1 November 1914, sebelum Turki Utsmani secara resmi terlibat dalam Perang Dunia I, Konsulat Jenderal Inggris untuk Mesir Herbert Kitchener telah mengirimkan surat kepada Sarif Makkah Hussein bin Ali menjanjikan kemerdekaan wilayah itu jika mereka membantu melawan Turki Utsmani. Inggris juga mengirimkan dana dan persenjataan serta agen-agennya, seperti TE Lawrence dan Gertrude Bell untuk mendorong Revolusi Arab melawan Turki Utsmani.

Selain dengan Hussein bin Ali, Inggris juga membuat perjanjian dengan Bani Saud yang berkuasa di Najd pada 25 Desember 1915. Kesepakatan antara Sir Percy Cox, perwakilan Inggris di Timur Tengah; dengan Abdul Aziz bin Saud itu menjanjikan penyerahan wilayah Kuwait, Qatar, dan Tenggara Teluk Persia kepada Bani Saud dengan syarat mereka tak menganggu wilayah Syarif Makkah. Perjanjian yang diteken di Darin, Pulau Tarut, itu juga menyegel kesediaan Bani Saud terlibat dalam Perang Dunia I melawan Turki Utsmani di Timur Tengah.

Pada akhirnya Kesultanan Turki Utsmani yang sedianya sudah lemah sebelum Perang Dunia I serta Kekaisaran Jerman dan sekutu mereka kalah perang. Genjatan senjata global diteken pada 11 November 1918, tepat seratus tahun lalu. Gencatan senjata yang diperingati secara meluas di negara-negara Barat kemarin untuk sementara mengakhiri perang. Kendati demikian, bagi Dunia Islam, ia adalah awal dari konflik berkepanjangan.

Wilayah-wilayah di Timur Tengah dibagi-bagi para pemenang perang dengan batas-batas yang ditarik serampangan. Kekhalifahan Turki Utsmani yang menurut Richard Hooker dalam bukunya The Ottomans (1996), berhasil menegakkan semacam stabilitas di Timur Tengah, dibubarkan. Menimbulkan kekosongan kekuasaan yang memunculkan perebutan wilayah seturut sentimen-sentimen primordial dan kepentingan negara-negara kolonialis.

Sementara, pada 1917 seturut ketakutan bahwa kaum Yahudi di Amerika Serikat akan merayu negara tersebut berpihak ke Jerman pada Perang Dunia I, Inggris menerbitkan Deklarasi Balfour yang menjanjikan pendirian negara Israel di Palestina. Deklarasi yang terus diingat dengan nelangsa warga Palestina yang masih terjajah dan terusir dari tanah mereka hingga kini.

Di Eropa, Perang Dunia I punya julukan “Perang untuk Mengakhiri Semua Perang”. Namun, untuk Dunia Islam, perang itu justru memicu banyak perang lainnya di masa datang. David Fromkin menuliskan pada 1989, justru perdamaian yang disepakati pada saat-saat itulah akhir dari segala kedamaian di Timur Tengah.

********

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here