Penyetan

M. Alfan Alfian,
Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional

Jakarta, Garut News ( Senin, 06/04 – 2014 ).

Ilustrasi. Burung Cacat. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Burung Cacat. (Foto : John Doddy Hidayat).

Seorang pengamat politik senior mengeluh mengapa belakangan ini sering menemukan kata setan yang dilekatkan pada makanan.

Banyak warung yang menawarkan menu makanan yang di belakangnya dilekatkan kata setan.

Rupanya ada pesan khusus dari pemanfaatan kata setan itu, yakni menu makanan ekstrem atau sangat pedas.

Tiba-tiba saya ingat seorang nyonya rumah tangga dari Solo yang sering bilang tidak hanya “pedese koyo setan”.

Iya, sang pengamat politik senior itu bisa paham bahwa pemanfaatan kata setan adalah untuk menyangatkan.

Tapi, yang membuatnya gelisah adalah, bukankah dalam agama, kita diajarkan untuk berlindung kepada Tuhan dari godaan setan yang terkutuk?

Lagi pula, kalau setan itu merujuk pada kata sifat, maka ia dilekatkan pada semua tabiat yang jelek dan jahat.

Mengapa kita disuruh memakan makanan yang di belakangnya dilekatkan sifat jahat?

Saya menimpali pendek, bagaimana kalau dibalik, kalau kita usulkan yang dilekatkan bukan setan, melainkan malaikat?

Maka rawon setan, misalnya, diganti saja dengan rawon malaikat.

Dia protes, karena itu mendesakralisasi makna malaikat.

Itu semua saya ingat ketika saya melintas di depan konter makanan di sebuah mal di Jakarta Selatan yang bertajuk “penyetan”.

Tentulah sekilas kata penyetan agak menyesatkan, karena ternyata kata dasarnya bukan setan, melainkan penyet.

Sebab, yang ditawarkan adalah jenis-jenis makanan penyet, dari tempe, ayam, hingga iga penyet.

Makanan jenis ini, populernya pertama kali di Jawa Timur, kemudian merambat ke Jakarta.

Penyetan?

Si empunya makanan mengambil dua keuntungan sekaligus dari kata ini, penyet dan setan.

Maksudnya, dipenyet langsung “kesetanan”, karena pedas.

Membaca surat kabar hari itu, saya terinspirasi bahwa kata penyetan segera mudah berpindah ke dunia politik.

Para ulama dan sejumlah pemimpin ormas Islam mengungkapkan keprihatinannya terhadap proses politik yang dikendalikan oleh para pemodal dari konglomerat hitam.

Kemudian mereka mengecamnya.

Yang dikecam adalah konglomerat hitam, yang dalam bayangan saya kumpulan para penyetan.

Tapi kali ini bukan penyet kata dasarnya, melainkan setan.

Konglomerat hitam berwatak setan, memakai jurus-jurus setan untuk memanipulasi dan menilap semuanya demi memperkaya diri dan kelompok bisnisnya di atas penderitaan yang lain.

Mereka beraktivitas bisnis legal dan ilegal.

Meminjam Jeffrey Winters, mereka para oligark yang berkepentingan memanfaatkan dunia politik untuk mempertahankan pertahanan kekayaan (wealth defense) masing-masing.

Mereka bisa masuk langsung ke dunia politik, tapi juga bisa menjadikan para politikus sebagai boneka-boneka.

Dari sisi ini, bisa muncul istilah begini, “Sayang, ya, dia itu orang yang baik, bersih, jujur, merakyat, “tidak neko-neko” dan sederhana, tapi sayang di sekitarnya para penyetan!”

Penyetan yang dimaksud, mereka yang membisiki kebijakan jahat dan berkepentingan mengendalikan sang politikus.

Penyetan ialah pembisik yang jahat.*

******

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment