Penyadapan dan Politik Energi

Eddy Purwanto,
Praktisi Migas

Garut News ( Kamis, 19/12 ).

Ilustrasi. (Foto: John).
Ilustrasi. (Foto: John).

Walaupun kecewa terhadap balasan surat Tony Abbott, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan setidaknya Tony Abbott telah menyampaikan pengertian yang dianggap penting dan mendasar bagi masa depan hubungan Indonesia-Australia untuk membangun politik bertetangga yang lebih bermartabat.

Sebagai negara yang kerap merasa terasing bahkan terancam di tengah-tengah komunitas Asia, Australia membutuhkan sebanyak mungkin aliran informasi “ekstrateritorial” yang digali dan digarap dari berbagai sumber baik formal maupun nonformal, online ataupun offline, yang kerap melanggar kode etik hubungan internasional.

Khusus menghadapi Indonesia, Australia sangat berkepentingan untuk memperoleh aliran informasi yang terkait dengan potensi ancaman atas ketahanan nasional, termasuk ancaman teroris dan manusia perahu.

Namun, menjelang 2020, berkembang satu potensi ancaman lain yang dipandang sangat strategis bagi Australia, yaitu terkait dengan ketahanan energi dan transaksi energi, khususnya migas.

Seperti dimaklumi, dalam waktu yang tidak terlalu lama Australia siap menjadi sentrum penghasil dan pengekspor gas bumi yang penting di Asia-Pasifik.

Australia kini memiliki cadangan gas nomor 12 terbesar di dunia, yaitu 110 triliun kaki kubik dan akan terus bertambah dengan penemuan beberapa cekungan migas baru.

Bahkan Australia kini sudah menjadi negara pengekspor gas keempat terbesar di dunia serta berkemas menjadi salah satu sentrum gas dunia karena Australia tengah mempersiapkan pembangunan tujuh kilang LNG baru dengan biaya US$ 200 miliar.

Di sisi lain Amerika Serikat, melalui revolusi shale gas, berhasil mengangkat cadangan gas AS menjadi kelima terbesar di dunia sekitar 348 triliun kaki kubik dan siap mengalahkan Rusia.

Namun rencana ekspor gas AS masih tertahan berbagai kendala domestik, di antaranya kebangkitan ekonomi AS yang membutuhkan volume gas dengan harga relatif murah, pembangunan infrastruktur, terutama kilang LNG, serta menghadapi kendala sosial terkait dengan isu lingkungan.

Suka tidak suka, AS dan Australia selepas 2020 siap menjadi poros gas bumi yang penting di dunia. Sebagai pemasok energi, AS dan Australia memiliki beberapa kepentingan “ekstrateritorial”.

Pertama, pasar gas di Asia-Pasifik dengan kebutuhan yang terus berkembang.

Kedua, keamanan jalur perdagangan laut yang menghubungkan AS dan Australia menuju negara-negara calon pembeli yang dikenal sebagai pasar tradisional Indonesia, utamanya Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.

Guna memudahkan akses ekspor LNG ke Asia Timur, selepas 2014, AS bersama Kanada berencana memperlebar Terusan Panama.

Dari sisi geo-politik, AS dan Australia mempunyai kepentingan bersama untuk mengamankan jalur perdagangan Laut Cina Selatan hingga Laut Cina Timur yang menjadi salah satu sumber kerawanan terbesar menghadapi Cina yang berkali-kali mengklaim sebagian kawasan tersebut sebagai wilayah kedaulatan Cina.

Namun, di sisi lain, selepas 2020 Cina sebagai pengguna energi terbesar di dunia juga memiliki potensi menjadi sentrum gas yang baru karena diduga memiliki cadangan shale gas 19 persen dari cadangan gas dunia (Ernst & Young) yang belum dikembangkan.

Terancam faktor geografis dan geopolitik, AS dan Australia cenderung berkolaborasi membentuk poros geo-energi dengan ambisi merebut pasar gas di Asia-Pasifik dan bersaing dengan poros lain, yaitu Rusia, yang siap bergabung dengan Cina untuk menguasai pasar Eropa yang sebagian dialirkan melalui darat.

Setelah 2020 akan terbentuk keseimbangan global yang baru akibat bergesernya peta geo-energi dunia. Ketatnya persaingan energi menyebabkan semakin maraknya perang spionase dan anti-spionase yang melibatkan hampir seluruh negara yang berkepentingan, termasuk operasi penyadapan di Indonesia.

Dari tujuh selat yang strategis di dunia, empat berada di wilayah Indonesia, sehingga menempatkan perairan wilayah Nusantara menjadi sangat rawan terhadap ancaman spionase dan penyadapan.

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menjadi mata rantai maritim terpenting bagi ekspor gas Australia menuju negara-negara pembeli, sehingga wajar Australia berkolaborasi dengan AS dan sekutu-sekutu lainnya, seperti Singapura, untuk bersama-sama mengawal keamanan regional, termasuk memata-matai wilayah Indonesia yang luas melalui pertukaran informasi, termasuk data kebumian.

Indonesia tersandera oleh dua poros adidaya, AS-Australia dan Cina-Rusia, yang masing-masing mempunyai negara “penggembira” di Asia Tenggara.

Mengantisipasi rencana peningkatan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik, khususnya di Australia dan Singapura, sudah sewajarnya Indonesia meningkatkan kewaspadaan nasional, memperkuat kemampuan intelijen dan kontra-spionase (di antaranya melalui Lembaga Sandi Negara), termasuk cyber defense, serta mengawal pasar tradisional LNG Indonesia di kawasan Asia Timur.

Ancaman nyata bagi Indonesia adalah perang harga gas yang menyebabkan rontoknya devisa. *

**** KOLOM/ARTIKEL : TEMPO.CO

Related posts

Leave a Comment