Penutupan Penambangan Liar Jangan Dijadikan Ajang “Serimonial”

0
9 views

Garut News ( Senin, 06/04 – 2015 ).

Selama Ini Kian Gencar Digerogoti. (Foto : John Doddy Hidayat).
Selama Ini Kian Gencar Digerogoti. (Foto : John Doddy Hidayat).

Banyak kalangan mengapresiasi positip upaya pemerintah menutup aktivitas pertambangan liar di kawasan lereng kaki Gunungapi Guntur.

Namun mereka sangat mengharapkan terdapat tindak lanjut konkritnya dari penutupan tersebut, atawa jangan hanya sebatas serimonial apalagi jika hanya protokoler.

Sehingga jangan dijadikan ajang serimonial petinggi Jawa Barat.

Lantaran selama ini, penutupan serupa tak hanya kali ini dilakukan. Pada November 2012, penutupan kawasan tersebut dari aktivitas penambangan galian C juga pernah dilakukan.

Sejumlah lintasan jalan kerap dijadikan akses keluar masuk kendaraan penambang pasir dihancurkan alat berat. Penjagaan dan patroli gabungan Polres Garut, Polisi Hutan, dan Brigade Elang pun dilakukan.

Namun berselang beberapa bulan kemudian, akivitas penambangan galian C kembali merebak-marak.

Bahkan belakangan kawasan Gunungapi Guntur bukan hanya marak dari aktivitas penambangan galian C, melainkan acap dijadikan titik lokasi pembuangan sampah atau limbah berbahaya, seperti limbah industri kulit Sukaregang dan limbah medis.

“Jika hanya seremonial, dikunjungi, dan dikunjungi pejabat, buat apa ditutup? Apalagi diportal hanya akses jalan di bagian atas. Sudah saja tutup langsung jalur utamanya,” tandas penduduk Tarogong Kaler, termasuk Iskandar(45), dengan nada sinis, Senin (06/04-2015).

Dikemukakan, pemerintah seharusnya tegas, termasuk jika ada aparat pemerintah di belakang aksi penambangan tersebut.

Ungkapan senada dikemukakan Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Cimanuk, Agus Sugandhi. Beberapa kali aktivitas penambangan ditutup menurut dia, memerlihatkan tak adanya keseriusan pemerintah.

Penutupan tak efektif jika tak ada ketegasan dari BBKSDA, aparat penegak hukum, dan harus dilakukan langkah mengatasi masalah ekonomi buruh galiannya, imbuh Agus pula.

Dikemukakan, bisa saja dilakukan alih fungsi kawasan dari Cagar Alam menjadi Taman Wisata Alam sebagai salah satu solusi.

Namun, kata dia, hal itu kudu dilakukan kajian mendalam, ujarnya mengingatkan.

*******

Noel, Jdh.