Penundaan DAU Distarkim Garut Hanya Rp16,8 Miliar

0
22 views
Ir Luna Aviantrini.

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 08/09 – 2016 ).

Ir Luna Aviantrini.
Ir Luna Aviantrini, MT

Dari pagu “Dana Alokasi Umum” (DAU) pada “Dinas Tata Ruang dan pemukiman” (Distarkim) Kabupaten Garut tahun anggaran 2016 senilai Rp170.797.460.176 hingga Agustus tahun ini bisa terealisasi sekitar Rp121 miliar sehingga masih menyisakan Rp49 miliar.

Maka penundaan DAU senilai 30 persen dari sisa dana yang terserap tersebut, hanya sekitar Rp16,8 miliar.

Sekretaris Distarkim kabupaten setempat, Ir Luna Aviantrini, MT katakan total pagu DAU 2016 mencapai Rp170.797.460.176 itu, terdiri belanja pegawai di lingkungan institusinya Rp10.043.737.309 sedangkan belanja langsungnya Rp160.753.722.867.

Dikemukakan pula, meski penundaan DAU pada Distrakim bernilai Rp16.8 miliar. Namun ragam upaya efisiensi terus gencar dilakukan, antara lain tak dialokasikannya biaya perjalanan dinas, serta dihilangkannya TPP bagi setiap seluruh pegawai, katanya kepada Garut News di ruang kerjanya, Kamis (08/09-2016).

Sedangkan penyelenggaraan tugas pokok, dan fungsi Distarkim terus berlangsung. Di antaranya memberikan pelayanan dasar berupa penyediaan sarana air bersih permukiman, juga penyediaan sarana/prasarana lain di permukiman. Selain itu, penataan kawasan permukiman kumuh.

Diakuinya pula, hingga kini masih banyak diperlukan upaya penataan ruang terbuka hijau untuk publik, termasuk penataan kawasan alun-alun.

Sehingga pada tahun ini, antara lain dilaksanakan “detail engginering Desain” pada Alun Alun Cisurupan, ungkap Luna Aviantrini, menambahkan.

“Kota Cerdas Berkelanjutan” (KCB).

Dalam pada itu, KCB tak sekadar kota yang mengandalkan kemajuan teknologi informasi yang didukung oleh jaringan infrastruktur Internet kuat serta pasokan listrik yang memadai.

Kota itu juga mampu menggali potensi lokal dan memaksimalkan sumber daya kota serta warga untuk mengatasi masalah ekonomi dengan cerdas (ekonomi). Kota juga didukung pusat bisnis dan industri (jasa) ramah lingkungan, memaksimalkan sumber daya alam yang (sangat) terbatas (air, lahan, dan energi fosil), sehingga tumbuh perekonomian yang berkelanjutan (ekonomi hijau).

Kota memiliki pusat pendidikan berkualitas dan berwawasan lingkungan untuk mencetak sumber daya manusia berkualitas unggul sebagai aset dan aktor utama penggerak ekonomi. Kota menciptakan suasana aman, nyaman, produktif, dan memiliki tata kelola sumber daya manusia yang baik sebagai unsur pengungkit (sosial).

Warga mendapat layanan kesehatan, pendidikan, transportasi, dan layanan publik lain dengan layak, mudah, dan murah. Masyarakat mudah berinteraksi dengan warga dan pemerintah, baik secara konvensional (tatap muka) maupun digital, di media sosial.

Kota didukung oleh aspek pengungkit berupa teknologi informasi dan komunikasi, tata kelola pemerintahan, serta sumber daya manusia sebagai pendorong munculnya aneka solusi inovatif dan kreatif terhadap persoalan kota.

Pemerintah membangun modal sosial melalui komunikasi intensif dan menumbuhkan rasa saling percaya untuk bersama membangun kota. Dengan sepuluh indikator KCB guna mewujudkannya.

*********

Pelbagai Sumber.