Penularan HIV/AIDS di Garut Bergeser Melalui LSL

0
89 views
Cenderiung Terus-menerus Meningkat.

“Garut Bisa Menjadi Lautan LGBT”

Garut News ( Senin, 22/01 – 2018 ).

Cenderiung Terus-menerus Meningkat.

Ditemukannnya 78 kasus baru HIV/AIDS di Kabupaten Garut pada 2017, maka sejak 2007 silam hingga kini sedikitnya 603 penduduk kabupaten setempat terinsfeksi jenis penyakit tersebut, kondisi itu juga kini diperparah penularannya mengalami pergeseran.

Dari sebelumnya ditularkan melalui pengguna narkoba suntik terinfeksi HIV digunakan bersamaan, namun sekarang berubah melalui pasangan suami istri beresiko, bahkan kelompok “laki sex laki” (LSL).

Ilustrasi.

Sedangkan kasus terdata hanya cerminan sedikit kasus sebenarnya ada di masyarakat, secara teori adanya 1 kasus HIV dan AIDS terdeteksi, kasus sebenarnya di masyarakat adalah 100 kasus, sebagai fenomena gunung es.

Berdasar jenis kelamin, pada 2017 kasus HIV didominasi laki-laki sebanyak 59 kasus dan 19 kasus perempuan. Tingginya angka kasus HIV positif pada laki-laki lebih didasarkan banyak penemuan kelompok LSL.

Sehingga semakin kuat mengindikasikan merebak – maraknya perilaku “Lesbian, Gay, Biseksual, dan  Transgender” (LGBT) bisa kian mengancam warga  Kabupaten Garut, yang selama ini dikenal agamis.

Lantaran keberadaan LGBT di kabupaten tersebut juga ditengarai sangat mengkhawatirkan apalagi jika tak segera dilakukan penanggulangan, maka tak mustahil ke depan kabupaten kerap dijuluki kota santri dan gudangnya ulama berpopulasi sekitar 2.588.839 penduduk, bakal berubah menjadi lautan LGBT.

Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten setempat, Guntur Yana Hidayat mengingatkan, berdasar estimasi Kemenkes RI pada 2012 lalu pun, jumlah komunitas Gay di seluruh wilayahnya mencapai sekitar 12.000 penduduk, dan waria sekitar 135 orang.

Sedangkan hasil pemetaan KPA pada 2015 diketahui di Kabupaten Garut terdapat sekitar 109 hotspot atau tempat nongkrong komunitas Gay, dengan jumlah gay terdata sekitar 3.200 orang.

“Dari sekian banyak komunitas gay, dan waria itu, tercatat ada sebanyak 25 orang gay, dan 11 orang waria positif terinsfeksi HIV,“ ungkap Guntur.

Sedangkan keberadaan komunitas lesbi, dan hotspotnya belum diketahui. Lantaran KPA tak melakukan intervensi kepada komunitas lesbi sebab belum ditemukan risiko penularan HIV/AIDS pada komunitas itu.

Sedangkan penyebab perilaku LGBT pada individu atau masyarakat dipastikan beragam. Di antaranya menyangkut pola hidup, pergaulan, kondisi ekonomi, dampak korban kekerasan semasa kecil, dan hormon bawaan sejak lahir.

Juga terutama didorong adanya skenario internasional mendukung eksisnya LGBT seperti melalui pengenalan cara berpacaran, rekruitmen pekerja, dan investasi.

Sehingga LGBT tak hanya bisa mengancam kehidupan pribadi dan sosial, melainkan pula kehidupan bernegara dan berbangsa. LGBT pun tak sekadar isu lokal melainkan internasional dengan ragam kepentingan.

Karena itu masalah LGBT tak bisa ditangani satu pihak melainkan menjadi tugas semua orang dengan pemerintah.

“Permasalahan LGBT tak bisa hanya ditanggulangi KPA, tetapi membutuhkan banyak mitra untuk menyosialisasikannya. Dengan beragam fasilitas serba canggih di zaman now, jika LGBT dibiarkan maka suatu saat, Garut bakal menjadi lautan LGBT,” imbuhnya pula kembali mengingatkan.

Hingga 2018 ini populasi Gay di Kabupaten Garut, bisa mencapai sekitar 6.000 an penduduk, sedangkan transgender (waria) yang aktif berkisar 80 hingga 112 orang.

Hotspotnya pun diperkirakan semakin menyebar pada 42 wilayah kecamatan, malahan hingga ke pelosok, yang didominasi usia produktif berkisar 25 hingga 30 tahun.

Upaya penanggulangan paling efektif, sedini mungkin dilakukan pencegahan sejak putra – putri Bangsa Indonesia di Kabupaten Garut ini masih berusia “Sekolah Dasar” (SD).

Diperoleh informasi, KPA Jawa Barat mencatat sekitar 44.677 orang termasuk populasi LSL tersebar pada 27 kota/kabupaten.

Dengan estimasi populasi LSL dicatat Kemenkes RI pada 2016 di Jabar sekitar 138.606 orang.

********

Pelbagai Sumber.