Pentingnya Tol Laut

Garut News ( Jum’at, 01/08 – 2014 ).

Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. (Foto : John Doddy Hidayat).

Ritual mudik tahunan yang baru saja kita lalui seharusnya mendorong pemerintah segera mewujudkan rencana membangun jalur transportasi publik lewat laut.

Jika tidak, perjalanan pulang tak kurang dari 30 juta pemudik saban Lebaran akan semakin tak nyaman dan berisiko.

Sudah saatnya ada terobosan infrastruktur untuk memudahkan warga pulang kampung secara massal.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara dan PT Pelabuhan Indonesia II sebenarnya sudah lama melansir rencana membangun koridor laut yang dinamakan Pendulum Nusantara.

Ilustrasi. Dermaga Pelabuhan Santolo, Garut, Memungkinkan Difungsikan Kembali. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Dermaga Pelabuhan Santolo, Garut, Memungkinkan Difungsikan Kembali. (Foto : John Doddy Hidayat).

Pelabuhan-pelabuhan penting di sisi dalam kepulauan Indonesia, yakni Pelabuhan Belawan, Medan (Sumatera Utara); Batu Ampar, Batam (Kepulauan Riau); Tanjung Priok (Jakarta); Tanjung Perak, Surabaya (Jawa Timur); Makassar (Sulawesi Selatan); dan Sorong (Papua Barat), kini diperbaiki agar kapasitasnya lebih memadai.

Belakangan, dalam sejumlah pidatonya ketika berkampanye, Presiden terpilih Joko Widodo juga mengorbitkan gagasan pembangunan tol laut.

Secara konsep, rencana ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan Pendulum Nusantara.

Dengan kata lain, cara pandang para pengambil kebijakan sebenarnya sudah padu: laut adalah pemersatu, bukan pemisah Nusantara.

Masalahnya, baik Pendulum Nusantara maupun tol laut baru menawarkan solusi transportasi untuk barang.

Solusi transportasi massal untuk penduduk melalui laut belum pernah dibahas secara komprehensif.

Padahal orang Indonesia termasuk suka bepergian antarkota.

Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik tahun ini yang memilih pulang dengan angkutan laut hanya akan meningkat 3 persen menjadi 1,6 juta orang.

Ini jelas amat sedikit dibanding pemudik yang memilih naik kereta (4,5 juta orang) atau pesawat terbang (5 juta orang).

Sisanya masih memilih untuk pulang kampung melalui jalur darat.

Akibatnya bisa diduga.

Kemacetan parah terjadi di mana-mana.

Jalur utara dan selatan Pulau Jawa dipenuhi sepeda motor, mobil pribadi, sampai bus.

Menurut data pemerintah, 86 persen pemudik dari Jakarta dan sekitarnya pulang melalui jalur darat dan membuat rasio volume kendaraan berbanding kapasitas jalan (rasio v/c) di semua jalan utama di Jawa mencapai lebih dari 0,6.

Kemacetan total terjadi jika rasio v/c adalah 1,0.

Mudik melalui jalur laut selama ini dihindari karena dinilai kurang aman dan nyaman.

Harus diakui, citra moda transportasi laut kita memang kurang kinclong.

Pelayaran jarak jauh dengan kapal Pelni selama ini identik dengan sumpek, sesak, dan tenggelam.

Citra inilah yang harus diubah.

Modal untuk itu bukannya tidak ada.

Para pemudik yang membawa kendaraan pribadi kerap menggunakan feri jika harus menyeberang dari atau ke Pulau Jawa.

Otoritas pelabuhan dan pelayaran bisa bekerja sama mempromosikan feri untuk rute yang lebih jauh seperti Jakarta-Semarang atau Jakarta-Surabaya.

Itu baru satu solusi.

Ada banyak cara jika pemerintah ingin memindahkan pemudik dari jalan raya ke tol laut.

Yang dibutuhkan hanya kreativitas dan kemauan politik yang kuat.

********

Kolom/Artikel : Tempo.co

Related posts

Leave a Comment